Kabar-Tani.com | – NUSA DUA, BALI — Risiko gagal panen akibat perubahan iklim mendorong industri asuransi mencari skema perlindungan yang lebih cepat dan terukur bagi petani.
Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) kini mengembangkan asuransi pertanian berbasis parametrik dengan menjadikan kondisi cuaca ekstrem sebagai indikator utama penentuan kompensasi.
Bali menjadi salah satu wilayah yang diprioritaskan dalam pengembangan skema tersebut.
Ketua Umum AAUI Budi Herawan mengatakan, upaya ini terus didorong untuk memperluas perlindungan finansial bagi petani yang menghadapi risiko iklim dan potensi kehilangan hasil panen.
“Saat ini sedang terus kami galakkan. Bali menjadi salah satu daerah tujuan utama pengembangan skema ini,” kata Budi di sela-sela Indonesia Rendezvous 2026 di Nusa Dua, Kabupaten Badung, Bali, Kamis.
Menurut Budi, asuransi pertanian parametrik menawarkan pendekatan berbeda dibandingkan asuransi konvensional.
Skema ini menggunakan parameter cuaca atau iklim yang telah ditentukan sejak awal sebagai dasar pembayaran klaim.
Dengan demikian, kompensasi dapat diberikan ketika indikator yang disepakati memenuhi ambang batas yang ditetapkan dalam polis.
Asuransi Parametrik, Perlindungan Petani dari Risiko Iklim
Dalam skema asuransi konvensional, pengajuan klaim umumnya berkaitan dengan penilaian kerugian yang dialami tertanggung.
Sementara itu, asuransi parametrik bertumpu pada pencapaian atau terlampauinya parameter tertentu, seperti curah hujan, suhu, maupun indikator cuaca lain yang relevan dengan risiko pertanian.
Jika kondisi cuaca mencapai ambang batas yang telah disepakati, pembayaran klaim dapat diproses berdasarkan ketentuan polis.
Mekanisme ini berpotensi mempercepat penyaluran kompensasi karena penentuan pembayaran tidak semata-mata bergantung pada penghitungan kerugian aktual di lapangan.
Bagi petani, kecepatan memperoleh dana pengganti menjadi penting.
Ketika kekeringan berkepanjangan, hujan ekstrem, atau kondisi cuaca yang tidak menentu mengganggu musim tanam, petani tidak hanya menghadapi penurunan produksi.
Mereka juga berisiko kehilangan modal untuk membeli benih, pupuk, dan kebutuhan produksi pada musim berikutnya.
Asuransi parametrik berpotensi membantu mengurangi tekanan keuangan tersebut.
Meski demikian, efektivitasnya sangat bergantung pada ketepatan pemilihan indikator cuaca, penetapan ambang batas, kualitas data meteorologi, serta kesesuaian parameter dengan karakteristik pertanian di wilayah yang dilindungi.
Perlu dipahami pula bahwa pembayaran dalam skema parametrik mengikuti parameter yang tercantum dalam perjanjian.
Karena itu, kompensasi tidak selalu identik dengan besarnya kerugian aktual yang dialami setiap petani.
Kondisi ini membuat transparansi ketentuan polis dan pemahaman peserta menjadi bagian penting dalam penerapan program.
Bali Jadi Salah Satu Wilayah Prioritas Pengembangan
Pemilihan Bali sebagai salah satu tujuan pengembangan asuransi pertanian parametrik membuka peluang untuk memperluas perlindungan terhadap risiko iklim di sektor pertanian daerah.
Namun, penerapannya memerlukan pemetaan risiko yang sesuai dengan kondisi setempat, termasuk pola hujan, ketersediaan air, kalender tanam, dan jenis komoditas yang dibudidayakan.
Karakteristik risiko di setiap wilayah tidak selalu sama.
Ancaman kekeringan, misalnya, dapat berdampak berbeda terhadap lahan sawah dan perkebunan.
Begitu pula hujan dengan intensitas tinggi yang dapat mengganggu pertumbuhan tanaman atau meningkatkan risiko kerusakan lahan.
Karena itu, pengembangan produk asuransi perlu didukung data iklim yang memadai dan indikator yang dapat diukur secara konsisten.
Parameter yang terlalu longgar berpotensi tidak mencerminkan risiko yang dihadapi petani, sedangkan parameter yang terlalu ketat dapat membuat perlindungan sulit diakses ketika kerugian terjadi.
Keterlibatan perusahaan asuransi, reasuransi, pemerintah, dan pemangku kepentingan sektor pertanian juga diperlukan untuk memperkuat rancangan produk.
Kolaborasi tersebut dapat membantu memperluas kapasitas perlindungan sekaligus menjaga keberlanjutan pembiayaan risiko.



