Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia
PETANI  

Ekonomi Garut Tumbuh 7,7 Persen, Pertanian Bertumpu pada 10 Komoditas Strategis

Kabar-Tani.com| – GARUT — Pertanian menjadi salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Pada triwulan II 2026, perekonomian daerah ini mencatat laju pertumbuhan ekonomi (LPE) sebesar 7,7 persen. Angka tersebut, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang disampaikan dalam keterangan Dinas Pertanian Garut, menjadi yang tertinggi di Jawa Barat.

Di balik pertumbuhan itu, sektor pertanian menyumbang 3,17 persen.

Kontribusi tersebut menunjukkan posisi strategis agrikultur dalam menopang aktivitas ekonomi daerah, sekaligus menggambarkan besarnya potensi komoditas pertanian yang tersebar di wilayah Garut.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Garut Ardhy Firdian mengatakan daerahnya memiliki sekitar 114 komoditas pertanian yang diusahakan para petani.

Dari jumlah tersebut, terdapat 10 komoditas yang dinilai strategis karena memiliki peran penting dalam perekonomian dan kontribusi terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).

“Jadi ada sekitar 114 komoditas pertanian yang berdasarkan data yang berhasil kami himpun itu, itu diusahakan oleh seluruh petani yang ada di Kabupaten Garut. Hanya memang yang dominan itu, yang istilahnya yang paling banyak, itu ada sekitar 10 komoditas yang kita anggap sifatnya yang strategis,” ujar Ardhy saat ditemui dalam kegiatan Jelajah Ketahanan Pangan yang digelar Bisnis Indonesia Kantor Perwakilan Jawa Barat, Selasa, 22 September 2026.

Sepuluh Komoditas yang Menjadi Andalan

Sepuluh komoditas strategis tersebut mencakup padi, jagung, cabai, bawang merah, kentang, jahe, jeruk, kopi, teh, dan tembakau.

Komoditas-komoditas itu merepresentasikan keragaman sektor pertanian Garut, mulai dari tanaman pangan dan hortikultura hingga perkebunan.

Selain komoditas unggulan tersebut, Garut juga memiliki potensi produksi ubi kayu, karet, cengkeh, dan aren.

Sejumlah komoditas ini memiliki cakupan lahan yang cukup luas dan menjadi bagian dari aktivitas pertanian masyarakat di berbagai wilayah.

Dengan kondisi geografis yang beragam, kegiatan pertanian Garut tersebar di 42 kecamatan.

Bentang alam pegunungan, kesuburan lahan di sejumlah kawasan, serta ketersediaan sumber daya air dari berbagai sungai menjadi modal penting untuk mengembangkan sektor tersebut.

Namun, potensi alam tidak serta-merta menghilangkan persoalan mendasar yang dihadapi petani.

Lahan Sawah Hanya 15 Persen dari Luas Wilayah

Kabupaten Garut memiliki luas wilayah sekitar 310.000 hektare. Dari total luasan itu, lahan sawah tercatat sekitar 46.718 hektare atau kurang lebih 15 persen.

Sebagian besar wilayah lainnya berupa lahan kering.

Kondisi tersebut menuntut pengelolaan infrastruktur pengairan yang lebih baik agar produktivitas pertanian tidak sepenuhnya bergantung pada perubahan musim.

Persoalan air menjadi semakin penting bagi lahan pertanian tadah hujan.

Ketika pasokan hujan tidak mencukupi, petani menghadapi risiko penurunan produktivitas hingga kegagalan panen.

Ardhy menyoroti sejumlah tantangan yang masih membayangi rantai pasok pertanian Garut.

Standardisasi kualitas produk dan kontinuitas produksi menjadi dua persoalan yang perlu mendapatkan perhatian dalam upaya memenuhi kebutuhan pasar.

Produk pertanian tidak hanya dituntut tersedia dalam jumlah memadai.

Kualitas yang konsisten, jadwal produksi yang terukur, serta kemampuan memenuhi permintaan secara berkelanjutan turut menentukan daya saing komoditas.

Ketergantungan terhadap kondisi cuaca dan ketersediaan air irigasi, terutama di lahan tadah hujan, juga menjadi tantangan yang perlu diatasi melalui penguatan infrastruktur dan tata kelola pertanian.

Petani Muda Mulai Mengadopsi Teknologi Digital

Di tengah berbagai persoalan tersebut, perubahan generasi dalam sektor pertanian membuka peluang baru.

Munculnya petani milenial dan pelaku usaha tani yang memanfaatkan teknologi digital menunjukkan bahwa aktivitas pertanian mulai berkembang melampaui pola konvensional.

Ardhy menyebut sejumlah pelaku usaha, termasuk Rizal melalui unit bisnis Etilu dan budidaya anggur di Karangpawitan, sebagai contoh penerapan inovasi dalam pertanian modern.

Menurut dia, perkembangan teknologi informasi membuat akses pengetahuan pertanian semakin terbuka.

Petani kini dapat mempelajari teknik budidaya, mengakses informasi pasar, dan memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber secara mandiri.

“Saya kira memang kalau pertanian sekarang itu kan tidak seperti dulu mungkin ya? Dulu dengan keterbatasan akses informasi, teknologi, orang hanya bergantung kepada apa informasi yang disampaikan oleh pemerintah. Sekarang itu kan tidak, semua bisa belajar pertanian,” kata Ardhy.

Perubahan akses informasi tersebut berpotensi memperluas kesempatan petani untuk meningkatkan pengetahuan dan mengembangkan model usaha tani yang lebih adaptif.

Kendati demikian, penerapan teknologi perlu diikuti dengan dukungan keterampilan, modal, infrastruktur, dan akses pasar agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.

Ratusan Ribu Warga Masih Mengandalkan Pertanian

Sektor pertanian tidak hanya berkontribusi terhadap indikator pertumbuhan ekonomi.

Lapangan usaha ini juga menjadi sumber penghidupan bagi sebagian besar masyarakat yang menggantungkan pendapatan dari aktivitas budidaya dan usaha tani.

Dinas Pertanian Garut menyebut sekitar 450.000 penduduk bekerja sebagai petani dari total populasi Kabupaten Garut yang dipaparkan mencapai sekitar 2,8 juta jiwa.

Angka tersebut menunjukkan pentingnya keberlanjutan sektor pertanian bagi perekonomian rumah tangga masyarakat.

Gangguan terhadap produksi, harga komoditas, maupun distribusi dapat berdampak pada pendapatan petani dan ketersediaan pangan.

Untuk memperkuat sektor ini, Pemerintah Kabupaten Garut berkolaborasi dengan pemerintah pusat dan pemerintah provinsi melalui berbagai program dukungan.

Program tersebut mencakup fasilitasi benih bermutu serta bimbingan teknis bagi pelaku usaha pertanian.

Pemerintah daerah juga mengalokasikan program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sebagai upaya memitigasi risiko kegagalan panen yang disebabkan oleh perubahan iklim dan serangan hama.

Asuransi Pertanian Menjangkau 1.847 Hektare

Pada 2026, jaminan asuransi pertanian dialokasikan untuk lahan padi seluas 1.847 hektare.

Program tersebut ditujukan untuk memberikan perlindungan usaha bagi petani ketika terjadi kerusakan atau kegagalan panen akibat risiko yang ditanggung dalam skema asuransi.

“Yang tujuannya adalah ya tadi tea memberikan jaminan.

Itu akan diberikan kepada tahun ini pemerintah daerah mengalokasikan sebanyak 1.847 hektar lahan padi yang kita berikan jaminan untuk apabila terjadi kegagalan panen yang disebabkan oleh terjadinya kondisi iklim atau serangan hama yang masif,” ujar Ardhy.

Perlindungan asuransi menjadi salah satu instrumen untuk membantu petani menghadapi ketidakpastian produksi.

Namun, keberlanjutan sektor pertanian tetap memerlukan dukungan yang lebih luas, termasuk penguatan irigasi, perbaikan kualitas hasil panen, stabilitas rantai pasok, serta pengembangan akses pasar.

Dengan 114 komoditas yang diusahakan petani dan 10 komoditas strategis sebagai salah satu penopang ekonomi, Garut memiliki basis agrikultur yang beragam.

Tantangan berikutnya adalah memastikan potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi produktivitas, nilai tambah, dan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *