Kabar-Tani.com|- JAKARTA — Pemanfaatan energi panas bumi tak hanya menghasilkan listrik.
Di Kamojang, Kabupaten Bandung, panas bumi dimanfaatkan untuk mendukung pertanian melalui pupuk organik Geothermal Organic Fertilizer (GeO-Fert).
Program PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) itu membantu Kelompok Tani Hutan (KTH) Cikondang di Desa Laksana, Kecamatan Ibun, memanen sekitar 70 ton kubis varietas Granova dari lahan seluas 1,2 hektare.
Panen yang menjadi bagian dari program HAREPAN atau Panen Hasil Bumi dari Aplikasi Pupuk GeO-Fert tersebut menghasilkan nilai penjualan sekitar Rp78 juta.
Penggunaan pupuk GeO-Fert juga memangkas biaya pembelian pupuk hingga sekitar Rp20 juta.
Direktur Operasi PGE Andi Joko Nugroho mengatakan pemanfaatan panas bumi diarahkan agar manfaat energi bersih dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Panas bumi juga hadir untuk membantu masyarakat mengolah limbah organik menjadi produk yang bisa kembali dipakai untuk bertani,” kata Andi dalam keterangan resmi.
Panas bumi percepat produksi pupuk
GeO-Fert diproduksi dengan memanfaatkan ekses uap dari PLTP Kamojang yang memiliki suhu sekitar 60-70 derajat Celsius.
Teknologi tersebut memangkas proses pengeringan pupuk organik dari sebelumnya sekitar 14 hari menjadi hanya 12 jam.
Dalam budidaya kubis, sekitar 30 ton GeO-Fert digunakan pada lahan seluas 1,2 hektare.
Pupuk organik padat diaplikasikan sebelum tanam, sedangkan pupuk cair diberikan setiap 15 hari selama masa budidaya.
Hasilnya, sejumlah kubis mampu mencapai bobot sekitar 6 kilogram per buah.
Angka itu dua kali lipat dibandingkan rata-rata kubis lokal yang berada di kisaran 3 kilogram.
Tak hanya kubis, GeO-Fert telah diuji dan diterapkan pada sejumlah komoditas lain, seperti kopi, kentang, cabai, tomat, dan labu siam.
Pada April 2026, penggunaan GeO-Fert untuk budidaya kentang di lahan sekitar 4.200 meter persegi menghasilkan 7.581 kilogram kentang.
Produksi tersebut lebih tinggi dibandingkan metode konvensional yang menghasilkan sekitar 4.525 kilogram.
Biaya produksi juga turun dari sekitar Rp73,1 juta menjadi Rp49,5 juta per tahun.
Hubungkan energi bersih dan ekonomi warga
General Manager PGE Area Kamojang Albertus Novi Purwono mengatakan pemanfaatan panas bumi dikembangkan untuk menghubungkan energi bersih dengan pengelolaan limbah, pertanian, dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Program GeO-Fert merupakan bagian dari Desa Energi Berdikari (DEB) Kanyaah.
Program tersebut diperkuat PLTS mandiri berkapasitas 6,6 kilowatt peak (kWp) dan baterai 20 kilowatt jam (kWh).
Masyarakat juga mengembangkan berbagai produk lain.
Di antaranya keripik hasil bumi, teh daun kopi, ikan asin, serta pakan ikan.
Proses pengeringan sejumlah produk memanfaatkan teknologi berbasis energi panas bumi.
PGE menyatakan program tersebut merupakan bagian dari Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk memperluas manfaat energi bersih sekaligus mendukung prinsip ESG dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan.
Saat ini PGE mengelola 15 Wilayah Kerja Panas Bumi dengan total kapasitas terpasang 1.932 MW.
Dari jumlah tersebut, 727 MW dioperasikan langsung PGE dan 1.205 MW melalui skema Kontrak Operasi Bersama.



