Kabar-Tani.com|- JAKARTA — Sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama mata pencaharian masyarakat Indonesia.
Di sejumlah daerah, pertanian bukan sekadar aktivitas ekonomi, tetapi juga menjadi sumber pekerjaan bagi ratusan ribu penduduk usia produktif.
Data 2025 menunjukkan konsentrasi tenaga kerja pertanian dalam jumlah besar masih terlihat di sejumlah kabupaten di Pulau Jawa.
Dari 10 kabupaten dengan jumlah pekerja sektor pertanian terbanyak, delapan berada di Jawa.
Dua lainnya berasal dari luar Jawa, yakni Lampung Tengah dan Lombok Timur.
Berikut 10 kabupaten/kota dengan jumlah tenaga kerja pertanian terbanyak:
Peringkat| Kabupaten/Kota| Jumlah Tenaga Kerja Pertanian
1| Jember| 638.295
2| Malang| 496.676
3| Garut| 433.701
4| Lampung Tengah| 404.122
5| Cianjur| 393.699
6| Sumenep| 377.258
7| Bojonegoro| 361.706
8| Lamongan| 349.751
9| Grobogan| 345.268
10| Lombok Timur| 338.511
Jember Menjadi Kantong Tenaga Kerja Pertanian Terbesar
Jember menempati urutan pertama dengan 638.295 penduduk berusia 15 tahun ke atas yang bekerja di sektor pertanian pada 2025.
Angka tersebut menempatkan Jember sebagai daerah dengan jumlah pekerja pertanian terbanyak dalam daftar tersebut.
Besarnya tenaga kerja pertanian di Jember berjalan seiring dengan peran daerah ini sebagai salah satu wilayah produksi tanaman pangan.
Berdasarkan publikasi Jember Dalam Angka 2025, produksi padi pada 2024 tercatat mencapai 981.885 ton.
Selain padi, produksi jagung Jember pada tahun yang sama mencapai 456.230 ton, sedangkan produksi kedelai tercatat sebesar 3.791 ton.
Angka-angka tersebut memperlihatkan besarnya ekosistem pertanian Jember, mulai dari kegiatan budidaya hingga aktivitas ekonomi yang menopang masyarakat di kawasan perdesaan.
Malang dan Garut Menyusul Jember
Di bawah Jember terdapat Kabupaten Malang dengan 496.676 pekerja sektor pertanian. Selisihnya dengan Jember mencapai lebih dari 141 ribu pekerja.
Garut berada di posisi ketiga dengan 433.701 pekerja pertanian. Dua kabupaten ini melengkapi tiga besar daerah dengan jumlah tenaga kerja pertanian terbanyak.
Setelahnya, Lampung Tengah mencatat 404.122 pekerja. Cianjur berada di posisi kelima dengan 393.699 pekerja.
Adapun Sumenep memiliki 377.258 pekerja pertanian, disusul Bojonegoro sebanyak 361.706 orang.
Lamongan mencatat 349.751 pekerja, sementara Grobogan memiliki 345.268 pekerja.
Lombok Timur menutup daftar 10 besar dengan 338.511 pekerja sektor pertanian.
Lampung Tengah dan Lombok Timur di Luar Jawa
Dominasi Jawa dalam daftar tersebut terlihat cukup kuat.
Namun, terdapat dua daerah luar Jawa yang masuk dalam 10 besar, yakni Lampung Tengah dan Lombok Timur.
Lampung Tengah berada di posisi keempat nasional dengan 404.122 penduduk yang bekerja di sektor pertanian.
Jumlah itu membuatnya menjadi daerah luar Jawa dengan tenaga kerja pertanian terbanyak dalam daftar.
Sementara Lombok Timur berada di urutan ke-10 dengan 338.511 pekerja.
Keberadaan kedua kabupaten tersebut menunjukkan bahwa konsentrasi tenaga kerja pertanian dalam jumlah besar tidak hanya terdapat di Pulau Jawa.
Sejumlah daerah di luar Jawa juga memiliki basis tenaga kerja yang kuat di sektor tersebut.
Besarnya Tenaga Kerja Menunjukkan Peran Pertanian di Daerah
Jumlah pekerja sektor pertanian dapat menjadi salah satu gambaran mengenai besarnya peran pertanian dalam struktur ekonomi suatu daerah.
Kabupaten yang memiliki basis pertanian luas cenderung membutuhkan tenaga kerja dalam jumlah besar, baik pada kegiatan produksi tanaman pangan maupun subsektor pertanian lainnya.
Namun, banyaknya pekerja tidak secara otomatis menunjukkan tingkat produktivitas atau kesejahteraan petani.
Faktor lain seperti luas lahan, produktivitas per hektare, harga komoditas, teknologi, akses pasar, hingga nilai tambah hasil pertanian juga turut menentukan kondisi sektor tersebut.
Data 10 besar ini setidaknya memperlihatkan satu hal: pertanian masih menjadi sumber pekerjaan bagi ratusan ribu penduduk di sejumlah kabupaten Indonesia.
Di tengah perubahan struktur ekonomi dan perkembangan sektor industri serta jasa, besarnya tenaga kerja pertanian di daerah-daerah tersebut menunjukkan bahwa sektor primer masih memiliki posisi penting dalam kehidupan ekonomi masyarakat.



