Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia
PETANI  

Sulteng Cetak Sawah Baru 3.000 Hektare di 10 Kabupaten

Kabar-Tani.com|- PALU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyiapkan program cetak sawah baru seluas 3.000 hektare sebagai bagian dari upaya memperkuat produksi pangan sekaligus mengembangkan sektor pertanian di tengah dominasi aktivitas pertambangan.

Wakil Gubernur Sulawesi Tengah Reny A. Lamadjido mengatakan pembangunan ekonomi daerah tidak dapat hanya bertumpu pada sektor pertambangan.

Menurut dia, sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan perlu mendapat perhatian lebih besar karena memiliki potensi ekonomi yang luas.

“Jadi pengembangan ekonomi daerah harus memperhatikan potensi pertanian, perkebunan, dan perikanan sehingga perlu dikembangkan secara serius agar mampu memberikan nilai tambah serta membuka peluang usaha baru bagi masyarakat,” kata Reny di Kota Palu, Sabtu.

Cetak Sawah untuk Perkuat Produksi Pangan

Program cetak sawah baru seluas 3.000 hektare tersebut tersebar di 10 kabupaten di Sulawesi Tengah.

Pemerintah daerah berharap penambahan areal sawah dapat memperbesar kapasitas produksi pangan, terutama beras.

Reny mengatakan pengembangan sawah baru ke depan dapat diarahkan pada penerapan pertanian modern.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada penambahan luas lahan, tetapi juga didukung produktivitas dan efisiensi usaha tani.

Pertanian modern dapat mencakup pemanfaatan teknologi budidaya, pengelolaan air, penggunaan sarana produksi secara lebih efisien, hingga penguatan pascapanen dan distribusi hasil pertanian.

Dengan demikian, program cetak sawah tidak berhenti pada pembukaan lahan baru.

Pemerintah daerah juga perlu memastikan lahan tersebut dapat dimanfaatkan secara produktif dan berkelanjutan.

Luas Baku Sawah Sulteng Capai 126 Ribu Hektare

Berdasarkan data Dinas Pertanian Sulawesi Tengah, luas baku sawah di provinsi tersebut mencapai sekitar 126 ribu hektare.

Adapun program cetak sawah baru 3.000 hektare direncanakan berada di 10 wilayah, yakni Kabupaten Buol, Donggala, Morowali Utara, Tojo Una-Una, Tolitoli, Poso, Sigi, Banggai, Parigi Moutong, dan Banggai Laut.

Penambahan areal persawahan tersebut menjadi salah satu langkah untuk memperkuat basis produksi pangan di Sulawesi Tengah.

Di sisi lain, pengembangan sektor pertanian juga dinilai dapat membuka ruang ekonomi baru bagi masyarakat, terutama jika produksi pertanian diikuti dengan penguatan industri pengolahan dan rantai pasok.

Tak Hanya Sawah, Potensi Non-Tambang Jadi Perhatian

Reny menuturkan Sulawesi Tengah memiliki sumber daya alam yang tidak hanya berasal dari sektor pertambangan.

Sejumlah komoditas seperti kelapa, kakao, durian, dan rumput laut memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai sektor produktif daerah.

Potensi tersebut membutuhkan dukungan investasi sekaligus tata kelola rantai pasok yang lebih kuat.

Penguatan dari sisi produksi hingga pemasaran menjadi penting agar komoditas yang dihasilkan masyarakat dapat memberikan nilai tambah lebih besar.

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, kata Reny, terbuka terhadap investasi di sektor-sektor produktif tersebut.

Namun, investasi harus berjalan sesuai dengan ketentuan hukum dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Pada intinya pemerintah daerah sangat terbuka bagi investor yang ingin masuk dan menanamkan modal di sektor-sektor produktif daerah, selama kegiatan investasi berjalan sesuai dengan ketentuan hukum yang berlaku serta memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Pertanian dan Pertambangan Berjalan Berdampingan

Pengembangan sawah baru juga memperlihatkan upaya pemerintah daerah mencari keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi berbasis sumber daya alam dan penguatan sektor pangan.

Sulawesi Tengah selama ini memiliki aktivitas pertambangan yang besar.

Namun, sektor pertanian, perkebunan, dan perikanan memiliki karakter ekonomi yang berbeda karena melibatkan basis masyarakat yang lebih luas dan dapat dikembangkan melalui berbagai rantai usaha.

Karena itu, program cetak sawah 3.000 hektare bukan semata soal menambah luas lahan pertanian.

Program tersebut juga berkaitan dengan bagaimana pemerintah membangun ekosistem pangan yang mencakup produksi, teknologi, infrastruktur, pascapanen, investasi, hingga pemasaran.

Jika pengembangan lahan baru disertai produktivitas yang memadai dan tata kelola yang baik, sektor pertanian dapat menjadi salah satu penopang ekonomi Sulawesi Tengah sekaligus memperkuat perannya sebagai daerah penghasil pangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *