Kabar-Tani.com| – BANYUWANGI – Distribusi hasil pertanian dari Banyuwangi menuju pasar Jakarta kini mendapat alternatif baru melalui jalur kereta api.
PT KAI Logistik mulai menguji coba layanan angkutan komoditas pertanian dari Argopuro, Banyuwangi, Jawa Timur, menuju Jakarta pada Senin, 28 September 2026.
Layanan tersebut dirancang untuk memperkuat distribusi komoditas dari sentra produksi di Jawa Timur, khususnya Banyuwangi, menuju wilayah dengan permintaan pasar yang lebih besar.
Pada pengiriman perdana, buah naga menjadi komoditas utama yang diangkut menggunakan kereta api.
Direktur Operasi KAI Logistik Broer Rizal mengatakan, layanan tersebut dikembangkan sebagai bagian dari upaya memperluas pemanfaatan moda kereta api dalam sistem logistik nasional.
“Pada pengiriman perdana KAI Logistik ini muatannya didominasi oleh produk buah naga asal Banyuwangi,” kata Broer Rizal, Senin, 28 September 2026, seperti dikutip Antara.
Buah Naga Banyuwangi Masuk Jalur Distribusi Kereta Api
Banyuwangi selama ini dikenal sebagai salah satu daerah penghasil berbagai komoditas pertanian.
Produk hortikultura, termasuk buah naga, menjadi salah satu komoditas unggulan yang memiliki pasar di berbagai daerah di Indonesia.
Masuknya hasil pertanian Banyuwangi ke dalam skema angkutan kereta api membuka pilihan baru bagi pelaku usaha dalam mendistribusikan produk mereka ke luar daerah.
Kereta api dinilai dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengangkut komoditas dalam jumlah besar dengan pola distribusi yang lebih terjadwal.
Skema ini juga diharapkan dapat membantu pelaku usaha mengurangi ketergantungan terhadap angkutan jalan raya, terutama untuk pengiriman jarak jauh.
Bagi komoditas pertanian yang membutuhkan penanganan dan distribusi secara efisien, kepastian jadwal pengiriman menjadi salah satu faktor penting.
Semakin panjang rantai distribusi, semakin besar pula tantangan yang dihadapi mulai dari biaya logistik hingga menjaga kondisi produk tetap baik ketika sampai di pasar tujuan.
Karena itu, pengembangan angkutan hasil pertanian melalui kereta api dinilai memiliki potensi untuk memperkuat konektivitas antara daerah produksi dan pusat konsumsi.
Pengiriman Sapi Belum Bisa Direalisasikan
Selain hasil pertanian, layanan tersebut sebenarnya juga dipersiapkan untuk mengangkut komoditas peternakan, termasuk sapi.
Namun, rencana pengangkutan sapi belum dapat direalisasikan dalam pengiriman perdana.
Kendalanya berkaitan dengan proses penyeberangan Ketapang-Gilimanuk yang berdampak terhadap keterlambatan kedatangan sapi dari Sumbawa dan Bali.
Dengan kondisi tersebut, pengiriman awal akhirnya lebih banyak mengandalkan komoditas pertanian, terutama buah naga dari Banyuwangi.
KAI Logistik masih membuka peluang agar komoditas peternakan dapat masuk dalam skema layanan tersebut pada tahap berikutnya setelah persoalan distribusi dan konektivitas antarmoda dapat disesuaikan.
KAI Logistik Siapkan Muatan Balik Jakarta-Banyuwangi
Tidak hanya mengandalkan pengiriman dari Banyuwangi ke Jakarta, KAI Logistik juga menyiapkan konsep muatan balik dari Jakarta menuju Banyuwangi.
Skema ini menjadi penting karena perjalanan kereta barang yang kembali ke daerah asal diharapkan tidak berlangsung tanpa muatan.
Dengan adanya barang dari arah Jakarta menuju Banyuwangi, utilisasi angkutan kereta dapat ditingkatkan sekaligus membuat sistem distribusi menjadi lebih efisien.
Sejumlah komoditas yang berpotensi diangkut dari Jakarta menuju Banyuwangi antara lain pakan ternak, pupuk, dedak, hingga berbagai kebutuhan logistik lainnya.
“Selain pengiriman dari Banyuwangi ke Jakarta, kami juga menyiapkan skema muatan balik dari Jakarta menuju Banyuwangi.
Komoditas balik yang berpotensi diangkut antara lain pakan ternak, pupuk, dedak, hingga pasokan logistik lainnya,” ujar Rizal.
Dalam pelaksanaannya, KAI Logistik menggandeng PT Bogantara sebagai konsolidator barang.
Kehadiran konsolidator diharapkan dapat membantu mengumpulkan berbagai jenis muatan sehingga kapasitas angkutan kereta dapat dimanfaatkan secara optimal.
Konsep tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan layanan tidak hanya diarahkan pada satu komoditas atau satu jalur distribusi, tetapi berupaya membangun ekosistem logistik dua arah antara Banyuwangi dan Jakarta.
Dorong Efisiensi Rantai Pasok
Pengembangan layanan kereta angkutan hasil pertanian ini menjadi bagian dari upaya KAI Logistik bersama PT KAI dan para mitra untuk memperluas sistem logistik berbasis kereta api.
Kereta api memiliki karakteristik sebagai moda angkutan yang dapat membawa muatan dalam jumlah besar secara terjadwal.
Jika terintegrasi dengan moda transportasi lain, jaringan tersebut berpotensi menjadi bagian penting dalam memperpendek dan mengefisienkan rantai distribusi.
Bagi daerah penghasil komoditas pertanian seperti Banyuwangi, keberadaan pilihan moda transportasi yang lebih beragam dapat memberikan keuntungan bagi produsen maupun pelaku usaha.
Produk pertanian tidak lagi hanya bergantung pada satu pilihan jalur distribusi.
Pelaku usaha dapat memiliki alternatif dalam menentukan moda pengiriman berdasarkan jenis komoditas, volume, tujuan pasar, waktu pengiriman, dan biaya logistik.
KAI Logistik berharap pemanfaatan kereta api dapat memberikan pilihan distribusi yang lebih terintegrasi sekaligus mendukung efisiensi rantai pasok nasional.
Pemkab Banyuwangi Sambut Positif
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menyambut baik uji coba layanan angkutan hasil pertanian menggunakan kereta api tersebut.
Menurut dia, hadirnya alternatif transportasi untuk membawa hasil pertanian keluar daerah dapat membantu membuka akses pasar yang lebih luas bagi komoditas unggulan Banyuwangi.
“Dengan layanan ini, distribusi hasil pertanian Banyuwangi diharapkan semakin terbuka, sehingga komoditas unggulan daerah dapat menjangkau pasar yang lebih luas melalui pilihan moda transportasi yang terintegrasi,” ujar Ipuk.
Bagi Banyuwangi, akses distribusi menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan sektor pertanian.
Produksi yang tinggi perlu ditopang oleh sistem logistik yang mampu membawa komoditas tersebut menuju konsumen secara efisien.
Uji coba kereta angkutan pertanian Banyuwangi-Jakarta pun diharapkan tidak berhenti sebagai pengiriman perdana.
Jika layanan tersebut berjalan secara konsisten dan mampu menarik lebih banyak pengguna, jalur ini berpotensi berkembang menjadi salah satu pilihan utama distribusi komoditas dari ujung timur Pulau Jawa menuju pusat pasar di Jakarta.
Ke depan, keberhasilan layanan akan sangat bergantung pada konsistensi jadwal, volume muatan, kesiapan fasilitas bongkar-muat, integrasi dengan moda transportasi lain, serta kemampuan mengelola muatan pergi dan balik.
Dengan konsep tersebut, kereta api tidak sekadar menjadi sarana transportasi penumpang, tetapi juga dapat mengambil peran lebih besar dalam membawa hasil produksi daerah menuju pasar nasional.
Uji coba pengangkutan buah naga Banyuwangi menuju Jakarta menjadi langkah awal dari upaya tersebut.
Jika dikembangkan secara berkelanjutan, layanan ini dapat menjadi jembatan logistik yang menghubungkan sentra produksi pertanian di Banyuwangi dengan konsumen di berbagai wilayah Indonesia.



