Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia
PANGAN  

UI Ajak Warga Tanjung Priok Bertani Organik, Lahan Sempit Bisa Jadi Sumber Pangan

Kabar-Tani.com | – JAKARTA — Keterbatasan lahan di kawasan perkotaan tak harus menjadi penghalang bagi masyarakat untuk bercocok tanam.

Dengan pengelolaan tanah yang tepat dan pemanfaatan bahan organik, ruang terbatas di lingkungan permukiman dapat disulap menjadi area produktif yang mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

Gagasan tersebut diwujudkan tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan Universitas Indonesia (UI) melalui edukasi dan praktik pertanian organik di Balai RW 07, Kelurahan Tanjung Priok, Jakarta Utara, pada Minggu, 4 Oktober 2026.

Kegiatan yang melibatkan warga, pemuda Karang Taruna, dan perangkat kelurahan itu mengajak masyarakat mengenali potensi lingkungan sekitar.

Tanah yang selama ini dianggap sekadar bagian dari pekarangan atau ruang kosong dipandang sebagai ekosistem yang dapat dikelola untuk menghasilkan pangan secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Pertanian Organik Dimulai dari Lingkungan Rumah

Ketua tim PKM, Palupi Lindiasari Samputra, yang juga Ketua Departemen Kajian Stratejik Ketahanan dan Keamanan Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI, menekankan bahwa pertanian organik bukan hanya persoalan teknik menanam.

Lebih dari itu, praktik ini berkaitan dengan kesadaran masyarakat terhadap hubungan antara pangan, kesehatan, dan lingkungan.

Menurut Palupi, penerapan pertanian organik merupakan salah satu cara membangun pola hidup yang lebih sehat dan adaptif di tengah tantangan perkotaan.

Pendekatan tersebut sekaligus membuka peluang bagi warga untuk memanfaatkan sumber daya yang tersedia di sekitar tempat tinggal.

“Pertanian organik bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan membangun cara hidup yang lebih sehat dan berkelanjutan,” demikian inti pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Materi bertajuk Bercocok Tanam Secara Organik disampaikan oleh anggota tim pengabdi, Mia Siscawati.

Dalam sesi ini, peserta diperkenalkan pada prinsip dasar pertanian organik, mulai dari pengelolaan tanah hingga pemanfaatan bahan alami untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Warga juga diajak memahami pentingnya menjaga kualitas tanah dan mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia dalam proses budidaya.

Pengetahuan tersebut menjadi bekal awal bagi masyarakat yang ingin mulai menanam secara mandiri, meskipun hanya memiliki pekarangan kecil atau ruang terbatas.

Warga Praktik Mengolah Tanah dan Membuat Pupuk Organik

Edukasi tidak berhenti pada penyampaian materi.

Setelah sesi diskusi, peserta mengikuti praktik langsung pengolahan media tanam, penanaman, serta pembuatan pupuk organik menggunakan bahan-bahan yang tersedia.

Melalui kegiatan tersebut, warga memperoleh pengalaman mengenai tahapan dasar bercocok tanam, sekaligus memahami bahwa pengelolaan tanaman membutuhkan perhatian terhadap kondisi tanah dan ketersediaan bahan pendukung.

Pendekatan praktik dipilih agar pengetahuan yang diperoleh lebih mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan memahami prosesnya secara langsung, masyarakat diharapkan dapat mengembangkan kegiatan menanam di rumah maupun lingkungan bersama tanpa harus menunggu tersedianya lahan luas.

Pemanfaatan bahan organik juga berpotensi membantu warga mengelola sisa bahan yang sesuai untuk dijadikan pupuk.

Namun, penerapannya tetap perlu memperhatikan jenis bahan, proses pengolahan, dan kebutuhan tanaman agar media tanam tetap sehat.

Dari Pekarangan Kecil Menuju Ketahanan Pangan

Pertanian organik di kawasan padat penduduk menawarkan peluang untuk memperkuat hubungan masyarakat dengan lingkungan.

Kegiatan menanam dapat menjadi langkah awal untuk meningkatkan kepedulian terhadap kualitas tanah, pemanfaatan sumber daya, dan pola konsumsi pangan keluarga.

Bagi warga perkotaan, keberadaan lahan terbatas memang menghadirkan tantangan tersendiri.

Meski demikian, pemanfaatan pot, wadah tanam, atau sudut pekarangan yang memungkinkan dapat menjadi alternatif untuk memulai kegiatan bercocok tanam.

Jika dilakukan secara konsisten, kegiatan tersebut berpotensi membantu rumah tangga memperoleh sebagian bahan pangan secara mandiri, sekaligus memperkenalkan kebiasaan mengelola lingkungan dengan lebih bertanggung jawab.

Besarnya manfaat tentu bergantung pada jenis tanaman, ruang yang tersedia, serta perawatan yang dilakukan.

Inisiatif tim PKM UI di Tanjung Priok memperlihatkan bahwa agenda keberlanjutan dapat dimulai dari tingkat komunitas.

Tidak selalu membutuhkan proyek besar, perubahan dapat tumbuh melalui edukasi, keterlibatan warga, dan praktik sederhana yang dilakukan bersama.

Pada akhirnya, pertanian organik bukan semata-mata soal menumbuhkan tanaman.

Di tengah padatnya permukiman Jakarta, kegiatan ini juga menjadi upaya menanam kesadaran tentang pangan, kemandirian, dan tanggung jawab terhadap lingkungan.

Dari sebidang tanah kecil, masyarakat dapat mulai membangun kebiasaan yang manfaatnya berpotensi meluas bagi keluarga dan komunitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *