Kabar-Tani.com| – JAKARTA — Belarus mendorong penguatan hubungan strategis dengan Indonesia melalui perluasan kerja sama di berbagai sektor, mulai dari perdagangan, investasi, pertanian, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI).
Kedua negara juga membuka peluang kolaborasi di bidang pendidikan, kesehatan, kebudayaan, dan pariwisata.
Duta Besar Belarus untuk Indonesia Raman Ramanouski mengatakan Indonesia memiliki posisi penting sebagai sahabat dan mitra strategis Belarus di kawasan Asia Tenggara.
Pernyataan itu disampaikan dalam resepsi peringatan Hari Nasional Belarus di Jakarta, Selasa.
“Belarus memandang Indonesia sebagai sahabat sejati dan mitra strategis di Asia Tenggara,” kata Ramanouski.
Hubungan Bilateral Menguat setelah Kunjungan Lukashenko
Ramanouski menyoroti perkembangan hubungan kedua negara setelah Presiden Belarus Alexander Lukashenko melakukan kunjungan kenegaraan ke Jakarta pada Juli.
Dalam kunjungan tersebut, Lukashenko bertemu dengan Presiden Indonesia Prabowo Subianto untuk membahas penguatan kemitraan bilateral.
Kedua pemimpin menyepakati pentingnya memperkuat dialog politik serta meningkatkan kerja sama di sejumlah sektor prioritas, khususnya ekonomi dan perdagangan.
Momentum diplomatik itu turut diperkuat melalui penandatanganan Perjanjian Kawasan Perdagangan Bebas antara Indonesia dan Uni Ekonomi Eurasia (EAEU) pada Desember 2025.
Belarus menjadi negara anggota EAEU pertama yang meratifikasi perjanjian tersebut pada tahun ini.
Menurut Ramanouski, Belarus berharap perjanjian perdagangan bebas tersebut segera berlaku sehingga pelaku usaha kedua negara dapat memperoleh manfaat dari penurunan tarif dan pengurangan hambatan nontarif.
Perdagangan Pupuk dan Produk Industri Jadi Pijakan
Kerja sama ekonomi Indonesia-Belarus mulai menunjukkan perkembangan melalui sejumlah agenda bilateral.
Pada Mei, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengunjungi Minsk untuk memimpin bersama pertemuan ke-8 Komisi Bersama Perdagangan dan Ekonomi.
Forum Bisnis Indonesia-Belarus juga diselenggarakan pada Juni bertepatan dengan rangkaian kunjungan Presiden Indonesia.
Sebulan kemudian, Jakarta menjadi lokasi pameran nasional yang menampilkan produk-produk Belarus untuk pertama kalinya.
Ramanouski menilai berbagai kegiatan tersebut mencerminkan minat dunia usaha untuk memperluas perdagangan yang saling menguntungkan.
Dalam perdagangan yang telah berjalan, Belarus memasok pupuk dan susu skim ke Indonesia.
Produk tersebut disebut turut mendukung ketahanan pangan Indonesia. Sebaliknya, Belarus mengimpor sejumlah komoditas dan produk dari Indonesia, termasuk barang industri, ikan, kakao, dan karet.
Meski demikian, Belarus menilai potensi perdagangan bilateral masih belum sepenuhnya tergarap.
Bidik Sektor Pertambangan, Energi, dan AI
Untuk memperluas peluang investasi dan perdagangan, Belarus mengajak Indonesia menjajaki sejumlah bidang baru.
Sektor yang ditawarkan mencakup peralatan pertambangan dan pertanian, pengelolaan limbah, transportasi, energi, farmasi, teknologi informasi dan komunikasi, serta kecerdasan buatan.
Diversifikasi kerja sama tersebut diharapkan dapat membuka ruang bagi perusahaan kedua negara untuk mengembangkan kemitraan di luar komoditas perdagangan yang sudah berjalan.
Belarus juga menempatkan pariwisata sebagai salah satu sektor potensial.
Ramanouski menyambut keputusan Indonesia memberikan fasilitas bebas visa bagi warga Belarus.
Pada saat yang sama, warga negara Indonesia juga dapat bepergian ke Belarus tanpa visa.
Belarus mengundang wisatawan Indonesia untuk menikmati alam, arsitektur, dan kebudayaan negara tersebut.
Pemerintah Belarus turut mendorong biro perjalanan Indonesia menjalin kerja sama dengan mitra lokal untuk mengembangkan paket wisata bagi wisatawan Indonesia.
Pendidikan dan Peta Jalan 2026-2030
Selain sektor ekonomi, Belarus membuka kesempatan bagi mahasiswa Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di negaranya.
Pertukaran akademik dan kerja sama bisnis dinilai dapat memperkuat pemahaman antarmasyarakat serta hubungan jangka panjang kedua negara.
Di tingkat kawasan, Belarus menyampaikan minat memperluas keterlibatan dengan ASEAN, terutama dalam isu ketahanan pangan dan pendidikan.
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi, yang mewakili pemerintah Indonesia, menyampaikan apresiasi atas dukungan Belarus setelah gempa bumi di Pulau Flores pada bulan sebelumnya.
Ia juga berharap kemitraan kedua negara terus berkembang.
Arifah menyinggung Peta Jalan Indonesia-Belarus 2026-2030 sebagai arah bagi penguatan hubungan bilateral pada tahap berikutnya.
“Peta jalan Indonesia-Belarus 2026-2030 kini memberi kita arah yang jelas untuk babak selanjutnya dari kemitraan kita,” ujar Arifah.
Ia menekankan pentingnya menerjemahkan komitmen politik menjadi kerja sama konkret, pelaksanaan kesepakatan, dan manfaat bersama bagi masyarakat.
Melalui penguatan perdagangan, investasi, pendidikan, serta pertukaran antarmasyarakat, Indonesia dan Belarus berupaya memperluas fondasi kemitraan bilateral dalam beberapa tahun mendatang.



