Kabar-Tani.com|- SEMARANG – Kekeringan mulai menekan produksi pertanian di Jawa Tengah.
Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jawa Tengah mencatat sedikitnya 71,48 hektare lahan padi di Kabupaten Rembang dan Brebes mengalami gagal panen akibat kekurangan air.
Kepala Distanbun Jawa Tengah, Defransisco Dasilva Tavares, mengatakan laporan gagal panen tersebut berasal dari 13 titik yang tersebar di dua kabupaten.
Rinciannya, delapan titik berada di Rembang dan lima titik lainnya berada di Brebes.
“Dari laporan yang masuk ada di dua kabupaten, yaitu Rembang dan Brebes. Totalnya ada 13 laporan dari 13 titik, delapan dari Rembang dan lima dari Brebes,” kata Frans saat dihubungi melalui sambungan telepon, Jumat, 2 Oktober 2026.
Menurut Frans, jumlah lahan yang mengalami gagal panen masih berpotensi bertambah.
Hal itu mengingat cakupan lahan pertanian yang terdampak kekeringan di Jawa Tengah cukup luas.
Namun, pemerintah daerah tidak serta-merta menetapkan setiap laporan lahan terdampak kekeringan sebagai gagal panen.
Setiap laporan harus melalui pemeriksaan lapangan untuk mengetahui kondisi tanaman sekaligus memastikan tingkat kerusakannya.
Kerusakan Tanaman Harus Lebih dari 75 Persen
Frans menjelaskan, lahan pertanian baru dapat dikategorikan mengalami gagal panen apabila tingkat kerusakan tanaman mencapai lebih dari 75 persen.
Selain tingkat kerusakan, kondisi tanaman yang hasil panennya sudah tidak mungkin diselamatkan juga menjadi dasar penetapan.
“Kalau dari hasil cek lapangan ternyata di atas itu, berarti memang benar sudah kategori gagal panen,” ujar dia.
Mekanisme tersebut dilakukan agar data gagal panen yang dihimpun pemerintah benar-benar menggambarkan kondisi di lapangan.
Dengan demikian, bantuan maupun perlindungan bagi petani dapat diberikan berdasarkan tingkat kerugian yang terukur.
Kekeringan menjadi salah satu ancaman bagi petani, terutama pada lahan yang bergantung pada ketersediaan air untuk memenuhi kebutuhan tanaman selama masa pertumbuhan hingga menjelang panen.
Potensi Kerugian Ekonomi Rp2,5 Miliar
Dari luas lahan yang telah teridentifikasi, pemerintah memperkirakan potensi kerugian ekonomi mencapai sekitar Rp2,5 miliar.
Perhitungan sementara tersebut menggunakan asumsi produktivitas padi sebesar 5,5 ton gabah per hektare dengan harga Rp6.500 per kilogram.
Dengan luas lahan terdampak 71,48 hektare, nilai produksi yang berpotensi hilang kemudian menjadi dasar penghitungan kerugian.
Meski kerugian tersebut cukup besar bagi petani yang lahannya terdampak, pemerintah masih memiliki ruang untuk memberikan perlindungan melalui program asuransi pertanian.
Jawa Tengah saat ini memiliki kuota perlindungan asuransi pertanian untuk sekitar 10.304 hektare lahan.
Menurut Frans, kuota tersebut masih mencukupi jika dibandingkan dengan luas lahan gagal panen yang telah dilaporkan.
Produksi Padi Jateng Masih di Jalur Target
Di tengah ancaman kekeringan, pemerintah menyebut produksi padi Jawa Tengah secara keseluruhan masih relatif terkendali.
Hingga September 2026, produksi padi Jawa Tengah tercatat sekitar 8,6 juta ton.
Angka tersebut masih berada dalam jalur pencapaian target produksi tahunan yang dipatok sekitar 10,5 juta ton.
Frans mengatakan kondisi di Rembang dan Brebes belum memberikan dampak signifikan terhadap produksi padi Jawa Tengah secara keseluruhan.
Meski begitu, pemerintah tetap memantau perkembangan kekeringan di sejumlah wilayah.
Penambahan laporan gagal panen masih mungkin terjadi apabila kondisi lahan semakin terdampak dan hasil pemeriksaan lapangan menunjukkan kerusakan tanaman melewati ambang yang telah ditetapkan.
Bagi petani, persoalan kekeringan bukan hanya menyangkut hilangnya hasil panen dalam satu musim.
Gangguan terhadap ketersediaan air juga dapat memengaruhi jadwal tanam berikutnya dan meningkatkan biaya produksi apabila petani harus mencari sumber air alternatif.
Karena itu, pendataan lahan terdampak menjadi penting untuk menentukan langkah penanganan.
Selain memastikan kerusakan secara faktual, pemerintah perlu menjaga agar perlindungan terhadap petani dapat berjalan seiring dengan upaya mempertahankan produksi pangan Jawa Tengah.
Dengan produksi yang hingga September mencapai 8,6 juta ton, pemerintah masih optimistis target 10,5 juta ton dapat dikejar.
Namun, perkembangan kekeringan di berbagai daerah tetap menjadi salah satu faktor yang perlu diwaspadai hingga akhir tahun.



