Kabar-Tani.com | – JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan pembangunan pabrik pengolahan tepung telur dan tepung daging ayam sebagai upaya mengatasi persoalan kelebihan pasokan atau oversupply yang kerap menekan harga di tingkat peternak.
Fasilitas ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga sekaligus memperkuat industri peternakan nasional.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah berkoordinasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan Kementerian Perdagangan untuk membangun ekosistem peternakan yang lebih terintegrasi.
Salah satu agenda utamanya adalah menyediakan fasilitas pengolahan hasil ternak agar produksi yang tidak terserap pasar segar tetap memiliki nilai ekonomi.
“Kita telah menyepakati pembangunan ekosistem ternak secara permanen.
Terutama, kita akan membangun fasilitas pengolahan tepung telur dan tepung daging,” ujar Amran di Jakarta, Jumat, 9 Oktober 2026.
Pemerintah menargetkan pembangunan fasilitas tersebut mulai dilaksanakan pada 2027.
Adapun proses pembangunan hingga penyelesaian diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 1,5 hingga dua tahun.
Rencana ini muncul di tengah tekanan yang dihadapi peternak ayam, khususnya peternak ayam petelur.
Ketika produksi meningkat sementara penyerapan pasar terbatas, harga telur berpotensi merosot. Di sisi lain, biaya pakan yang terus meningkat membuat ruang keuntungan peternak semakin sempit.
Pabrik Tepung Telur Jadi Alternatif Penyerapan Produksi
Selama ini, telur ayam sebagian besar dipasarkan dalam bentuk segar.
Ketika pasokan melimpah dan permintaan tidak tumbuh sebanding, peternak menghadapi risiko penumpukan produksi dan penurunan harga jual.
Pembangunan pabrik tepung telur diharapkan dapat membuka jalur penyerapan baru.
Telur yang diolah menjadi produk berbentuk bubuk berpotensi dipasarkan kepada industri makanan dan minuman, produsen roti, industri pengolahan pangan, serta pelaku usaha lain yang membutuhkan bahan baku telur dalam jumlah besar.
Melalui proses pengolahan, telur dapat dipasarkan tidak hanya sebagai produk segar, tetapi juga sebagai bahan baku industri dengan karakteristik dan masa simpan yang berbeda.
Hal ini berpotensi memperluas pasar sekaligus mengurangi ketergantungan peternak terhadap penjualan telur segar.
Tepung telur juga memiliki peluang penggunaan dalam produk seperti biskuit, kue, mi, saus, dan berbagai makanan olahan.
Namun, realisasi penyerapan tersebut akan bergantung pada kapasitas produksi pabrik, standar keamanan pangan, harga produk, serta kebutuhan industri pengguna.
Dengan adanya fasilitas pengolahan, pemerintah berharap produksi peternak yang sebelumnya sulit terserap dapat dialihkan ke jalur industri.
Skema ini diharapkan membantu meredam tekanan harga saat terjadi kelebihan pasokan.
Impor Tepung Telur 2.500 Ton per Tahun Jadi Sasaran
Selain menyerap produksi dalam negeri, pembangunan pabrik juga diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Menurut Amran, Indonesia saat ini masih mengimpor sekitar 2.500 ton tepung telur setiap tahun.
Pemerintah berharap kebutuhan tersebut dapat dipenuhi dari produksi domestik setelah fasilitas pengolahan beroperasi.
“Jika pabrik ini sudah berdiri, maka impor tepung telur akan disetop,” kata Amran.
Penghentian impor tersebut menjadi salah satu target yang disampaikan pemerintah.
Meski demikian, pencapaiannya akan bergantung pada kemampuan industri dalam negeri untuk menghasilkan tepung telur sesuai kebutuhan pasar, baik dari sisi volume, mutu, kontinuitas pasokan, maupun harga.
Apabila kapasitas produksi lokal mampu memenuhi kebutuhan industri, pasar domestik berpeluang memberikan ruang yang lebih besar bagi hasil peternakan nasional.
Di sisi lain, produsen dalam negeri perlu memastikan produknya memenuhi persyaratan teknis dan keamanan pangan yang berlaku.
Rencana pembangunan pabrik tepung daging ayam juga menjadi bagian dari upaya memperluas pemanfaatan hasil peternakan.
Pengolahan daging dapat membuka peluang bagi pengembangan bahan baku industri pangan dan produk olahan, sesuai dengan teknologi serta standar produksi yang diterapkan.
Namun, pemerintah masih perlu menjelaskan lebih lanjut mengenai lokasi pembangunan, nilai investasi, kapasitas produksi, skema pembiayaan, serta pihak yang akan mengelola fasilitas tersebut.
Peternak Keluhkan Harga Jagung Tembus Rp 8.000 per Kilogram
Rencana pembangunan pabrik pengolahan hasil ternak tidak terlepas dari persoalan biaya produksi yang membebani peternak.
Salah satu komponen terbesar dalam usaha ayam petelur adalah pakan, yang bahan bakunya antara lain berasal dari jagung.
Dalam unjuk rasa di depan Gedung DPR RI pada Rabu, para peternak menyampaikan keberatan atas tingginya harga pakan ketika harga telur justru berada pada tingkat rendah.
Salah satu perwakilan peternak, Kasmani, meminta pemerintah menjamin ketersediaan jagung dengan harga yang wajar untuk memenuhi kebutuhan usaha peternakan selama beberapa bulan ke depan.
“Kami berharap pemerintah menyiapkan jagung untuk kita dengan harga wajar untuk bulan Oktober, November, Desember, Januari, Februari, hingga Maret,” kata Kasmani kepada Kompas.com di depan Gedung DPR RI.
Ia menyebut harga jagung yang sebelumnya berada pada kisaran Rp 5.500 hingga Rp 6.000 per kilogram kini meningkat menjadi lebih dari Rp 8.000 per kilogram.
Kenaikan tersebut menambah tekanan terhadap biaya operasional peternak.
Ketika harga pakan naik, sementara harga telur melemah, selisih pendapatan dan biaya produksi semakin tipis.
Dalam kondisi tertentu, penerimaan dari penjualan telur bahkan berisiko tidak cukup untuk menutup seluruh pengeluaran usaha.
Situasi ini menunjukkan bahwa persoalan peternakan tidak hanya berkaitan dengan besarnya produksi, tetapi juga keseimbangan antara harga input, permintaan pasar, dan kemampuan distribusi hasil ternak.
Hilirisasi Peternakan Perlu Diikuti Kepastian Pasar
Pembangunan pabrik tepung telur dan tepung daging ayam dapat menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat hilirisasi sektor peternakan.
Melalui pengolahan, hasil ternak memiliki peluang memasuki rantai pasok industri yang berbeda dari pasar konsumen langsung.
Meski demikian, keberadaan pabrik saja belum tentu cukup untuk menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi peternak.
Keberhasilan program akan bergantung pada kemampuan fasilitas menyerap produksi secara konsisten, harga pembelian bahan baku yang menguntungkan peternak, serta kepastian permintaan dari industri pengguna.
Pemerintah juga perlu memastikan ketersediaan bahan baku, efisiensi proses produksi, standar kualitas, dan jaringan distribusi.
Tanpa perencanaan yang terintegrasi, fasilitas pengolahan berisiko tidak beroperasi optimal atau tidak mampu menyerap kelebihan pasokan ketika produksi sedang melimpah.
Di sisi peternak, kepastian pasokan jagung dan bahan baku pakan dengan harga yang terjangkau tetap menjadi kebutuhan mendesak.
Pabrik pengolahan dapat membantu memperluas penyerapan hasil produksi, tetapi tidak secara langsung menyelesaikan persoalan biaya pakan yang meningkat.
Karena itu, kebijakan hilirisasi idealnya berjalan beriringan dengan penguatan distribusi jagung, perbaikan tata niaga, akses terhadap bahan baku pakan, dan pengembangan kemitraan antara peternak dengan industri pengolahan.
Menanti Realisasi Program pada 2027
Pemerintah menargetkan pembangunan pabrik tepung telur dan tepung daging ayam dimulai pada 2027 dengan perkiraan waktu penyelesaian 1,5 hingga dua tahun.
Jika jadwal tersebut tercapai, fasilitas diproyeksikan mulai beroperasi setelah tahap pembangunan dan persiapan teknis selesai.
Bagi peternak, program ini menawarkan harapan terbentuknya jalur penyerapan produksi yang lebih stabil.
Bagi industri pangan, fasilitas tersebut berpotensi menyediakan alternatif bahan baku lokal untuk sejumlah produk olahan.
Namun, dampak nyata program baru dapat dinilai setelah kapasitas, skema operasional, harga penyerapan, dan kepastian pembeli ditetapkan secara jelas.
Tantangan berikutnya adalah memastikan pabrik benar-benar terhubung dengan kebutuhan peternak di sentra produksi.
Jika pengolahan berjalan beriringan dengan kebijakan pakan yang terjangkau dan pasar yang terjamin, hilirisasi berpeluang menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi gejolak harga telur dan memperkuat keberlanjutan usaha peternakan ayam nasional.



