Kabar-Tani.com|- CILACAP — Petani di Desa Mernek Jenek, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, kini tak lagi sepenuhnya bergantung pada panas matahari untuk mengeringkan gabah.
Melalui pemanfaatan pembangkit listrik tenaga surya atau PLTS, proses pengeringan padi dapat dilakukan lebih cepat, termasuk ketika musim hujan.
Inovasi tersebut merupakan bagian dari program Desa Energi Berdikari (DEB) Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Maos.
Energi yang dihasilkan panel surya dimanfaatkan untuk mengoperasikan sejumlah fasilitas, salah satunya mesin pengering padi yang dikenal dengan nama Pinky Rudal.
Penggerak inovasi tersebut adalah Suyitno, warga yang aktif mendampingi petani sekaligus mengembangkan kawasan wisata pertanian di desanya.
Sebelum terlibat dalam program tersebut, Suyitno menjalankan usaha kecil produksi keripik tempe.
Menurut Suyitno, persoalan utama petani saat musim hujan adalah proses pengeringan gabah.
Sebelum menggunakan mesin pengering, gabah yang dijemur secara manual membutuhkan waktu sekitar empat hingga lima hari untuk benar-benar kering.
Kondisi itu kerap membuat petani menjual gabah dalam keadaan masih basah. Harga jualnya pun lebih rendah sehingga berdampak terhadap pendapatan.
Setelah menggunakan teknologi horizontal drying Pinky Rudal, proses pengeringan dapat dipangkas menjadi sekitar satu hari. Kapasitas pengeringan disebut mencapai sekitar 1,5 ton per hari.
Selain mempercepat pengeringan, penggunaan mesin tersebut mengurangi kebiasaan menjemur gabah di badan jalan yang sebelumnya dapat mengganggu aktivitas warga.
PLTS Tak Hanya untuk Pengering Padi
Pemanfaatan energi surya di Desa Mernek Jenek tidak berhenti pada sektor pertanian.
Listrik dari PLTS juga digunakan untuk mendukung kegiatan hidroponik yang dikelola kelompok wanita tani atau KWT.
Di dalam greenhouse, warga membudidayakan sejumlah komoditas seperti melon, selada dan bayam.
Hasil produksinya kemudian dipasarkan oleh kelompok Kawista sehingga menjadi sumber tambahan pendapatan masyarakat.
Program tersebut juga mencakup pengembangan Kawasan Wisata Pertanian (Kawista) dan konsep rice cycle.
Selain PLTS, dukungan program DEB meliputi sistem pengairan sawah, pompa vertikal, pupuk serta sejumlah fasilitas penunjang greenhouse.
Dari aktivitas jasa pengeringan gabah, hasil pertanian, serta penjualan sayuran dan buah, kelompok masyarakat disebut mampu memperoleh omzet sekitar Rp20 juta per tahun.
Sementara potensi peningkatan pendapatan petani diperkirakan dapat mencapai lebih dari Rp90 juta per tahun.
Penggunaan energi surya juga memberikan manfaat bagi fasilitas umum.
Pasokan listrik dari PLTS turut dimanfaatkan untuk penerangan jalan desa yang sebelumnya belum tersedia.
Suyitno mengatakan keberadaan mesin pengering membuat petani dapat menghemat waktu dan biaya.
Pengeringan secara manual atau menggunakan jasa pihak lain membutuhkan biaya yang lebih besar, terutama ketika volume gabah yang harus dikeringkan meningkat.
Kini, pengembangan kawasan tersebut diarahkan tidak hanya pada pertanian.
Suyitno tengah menyiapkan lapangan yang direncanakan menjadi area jogging track dan ruang kegiatan masyarakat.
Ia berharap fasilitas itu nantinya mendapat dukungan penerangan sehingga dapat digunakan warga pada malam hari.
VP Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron mengatakan program DEB dirancang untuk membangun ekosistem yang berkelanjutan.
Menurut dia, pemanfaatan energi dapat dikembangkan bersamaan dengan pertanian, usaha masyarakat dan fasilitas publik.
Kisah Desa Mernek Jenek menunjukkan bahwa energi surya dapat dimanfaatkan lebih jauh dari sekadar sumber listrik.
Ketika dipadukan dengan teknologi pertanian, energi tersebut membantu petani menghadapi persoalan klasik: mengeringkan gabah ketika matahari tidak cukup bersahabat.



