Kabar-Tani.com | – JAKARTA — Letnan Jenderal TNI Muhammad Saleh Mustafa memastikan dirinya tengah menjalani proses pengunduran diri dari TNI setelah dipercaya menduduki posisi baru sebagai Wakil Menteri Pertanian (Wamentan).
Saleh sebelumnya menjabat sebagai Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad).
Dengan berpindah ke jabatan sipil di lingkungan Kementerian Pertanian, ia harus mengakhiri statusnya sebagai prajurit aktif dan memasuki masa purnawirawan.
Kepastian tersebut disampaikan Saleh seusai menghadiri kegiatan di Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin, 5 Oktober 2026.
Ia mengatakan proses administrasi pengunduran dirinya dari TNI masih berjalan.
“Ya, harus mundur. Lagi proses,” kata Saleh saat ditanya mengenai statusnya sebagai prajurit TNI.
Menurut dia, pengunduran diri tersebut merupakan konsekuensi dari penugasan barunya sebagai Wamentan.
Setelah seluruh proses selesai, statusnya sebagai prajurit aktif akan berakhir.
“Ya, harus jadi purnawirawan jadinya,” ujar Saleh.
Beralih dari TNI ke Kementerian Pertanian
Penunjukan Muhammad Saleh Mustafa sebagai Wamentan menempatkan sosok berlatar belakang militer tersebut di salah satu kementerian yang memiliki peran penting dalam agenda ketahanan dan swasembada pangan nasional.
Peralihan dari lingkungan militer ke pemerintahan sipil ini juga membuat pengalaman Saleh selama berada di TNI menjadi sorotan.
Terlebih, keterlibatan TNI dalam sejumlah program pemerintah di bidang pertanian telah berlangsung dalam beberapa tahun terakhir.
Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menilai Saleh bukan sosok yang benar-benar baru dengan dunia pertanian.
Menurut Sudaryono, selama menjabat sebagai Wakasad, Saleh sudah cukup sering berkoordinasi dengan pemerintah dalam berbagai program yang berkaitan dengan pertanian dan swasembada pangan.
“Dunia pertanian ini juga bukan hal yang baru buat beliau,” kata Sudaryono.
Ia mengatakan hubungan antara TNI, Polri, dan sektor pertanian selama ini cukup erat, terutama dalam mendukung program pemerintah untuk meningkatkan produksi pangan dan memperkuat ketahanan pangan nasional.
Pengalaman Wakasad Jadi Bekal di Kementan
Sudaryono menjelaskan bahwa posisi Saleh sebagai Wakasad sebelumnya membuatnya banyak bersentuhan dengan agenda swasembada pangan.
Dalam berbagai kerja sama pemerintah, TNI dan Polri turut dilibatkan untuk mendukung pelaksanaan program pertanian di lapangan.
Karena itu, menurut Sudaryono, pengalaman Saleh selama berada di lingkungan TNI dapat menjadi bekal penting ketika menjalankan tugas sebagai Wamentan.
“Selama menjadi Wakasad kan juga sangat erat komunikasi, kemudian kerja samanya karena TNI dan Polri dalam swasembada ini memang terlibat,” ujar Sudaryono.
Ia menilai pengalaman tersebut membuat Saleh memiliki pemahaman mengenai persoalan pertanian dari sisi koordinasi lintas lembaga.
“Jadi sebenarnya bukan orang lainlah beliau di dunia pertanian,” kata Sudaryono.
Tantangan Baru Saleh Mustafa di Kementan
Menjadi Wamentan tentu membawa tantangan berbeda bagi Saleh.
Jika sebelumnya ia berada dalam struktur komando TNI Angkatan Darat, kini ia akan berhadapan dengan persoalan kebijakan publik, produksi pangan, distribusi hasil pertanian, hingga koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan di sektor pertanian.
Tugas tersebut menjadi semakin strategis seiring dengan agenda pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan dan mengejar target swasembada.
Posisi Wamentan juga menuntut kemampuan koordinasi yang luas.
Tidak hanya dengan kementerian dan lembaga pemerintah, tetapi juga dengan pemerintah daerah, petani, kelompok tani, pelaku usaha, hingga berbagai institusi yang terlibat dalam rantai pasok pangan.
Latar belakang Saleh di TNI dapat menjadi salah satu modal dalam aspek koordinasi dan pelaksanaan program.
Namun, di sisi lain, perpindahan tersebut juga menuntut adaptasi terhadap karakter kerja birokrasi dan kebijakan sektor pertanian.
Status Prajurit Aktif Berakhir
Dengan keputusan mengundurkan diri dari TNI, Saleh akan menyandang status purnawirawan setelah seluruh proses administrasi dan ketentuan yang berlaku diselesaikan.
Keputusan tersebut sekaligus menegaskan bahwa jabatan Wamentan akan dijalankan dalam kapasitas sipil, bukan sebagai perwira TNI aktif.
Langkah itu menjadi bagian penting dalam proses transisi Saleh dari institusi militer menuju pemerintahan sipil.
Kini perhatian akan tertuju pada bagaimana Saleh menggunakan pengalaman panjangnya di TNI untuk mendukung agenda Kementerian Pertanian, terutama dalam memperkuat program swasembada pangan.
Dengan pengalaman koordinasi antara TNI dan pemerintah dalam berbagai program pertanian, Saleh diharapkan dapat membawa perspektif baru dalam menjalankan tugasnya sebagai Wamentan.
Perjalanan baru tersebut sekaligus menandai babak berbeda dalam karier Muhammad Saleh Mustafa: dari pucuk kepemimpinan di lingkungan TNI Angkatan Darat menuju meja kebijakan sektor pertanian.
Tantangan berikutnya adalah membuktikan bahwa pengalaman dan jejaring koordinasi yang ia miliki dapat diterjemahkan menjadi kebijakan dan program pertanian yang berdampak langsung bagi produksi pangan serta kesejahteraan petani.



