Kabar-Tani.com | – JAKARTA – Indonesia membidik potensi transaksi sebesar US$19,5 juta atau sekitar Rp349,81 miliar dari partisipasi delegasi bisnis Afrika Tengah dalam Trade Expo Indonesia (TEI) 2026.
Target tersebut mencerminkan peluang untuk memperluas pasar ekspor nasional, terutama pada sektor pupuk, pertanian, transportasi, dan industri perkapalan.
Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Yaounde, Kamerun, menargetkan nilai transaksi tersebut dapat menyamai capaian potensi bisnis yang dibidik pada penyelenggaraan TEI tahun sebelumnya.
Upaya ini dilakukan dengan mempertemukan delegasi bisnis dari Kamerun dan sejumlah negara Afrika Tengah dengan pelaku usaha Indonesia.
Duta Besar Indonesia untuk Kamerun, Agung Cahaya Sumirat, mengatakan pihaknya belum dapat memastikan angka transaksi secara terperinci.
Namun, KBRI Yaounde menetapkan target minimal setara dengan pencapaian pada TEI 2025, yakni US$19,5 juta.
“Kalau bicara angka target yang eksak, terus terang saya belum mampu. Namun, minimal targetnya seperti tahun lalu, US$19,5 juta,” ujar Agung dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa,(13/10/26).
Target tersebut menjadi bagian dari upaya diplomasi ekonomi Indonesia untuk memperluas penetrasi produk nasional ke pasar Afrika Tengah yang dinilai masih memiliki peluang pengembangan, khususnya untuk komoditas dan kebutuhan industri yang belum sepenuhnya dapat dipenuhi oleh pasokan lokal.
KBRI Yaounde Fasilitasi 81 Delegasi Bisnis Afrika Tengah
Dalam gelaran TEI 2026, KBRI Yaounde memfasilitasi sebanyak 81 delegasi bisnis dari Kamerun dan sejumlah negara lain di kawasan Afrika Tengah.
Kehadiran para delegasi tersebut diharapkan membuka ruang pertemuan langsung antara calon pembeli dari Afrika dan eksportir Indonesia.
Wilayah kerja diplomatik KBRI Yaounde tidak terbatas pada Kamerun. Perwakilan Indonesia tersebut juga membawahi hubungan diplomatik dengan Chad, Guinea Ekuatorial, Gabon, Kongo, dan Republik Afrika Tengah.
Cakupan wilayah tersebut memberikan peluang bagi Indonesia untuk menjangkau pasar yang lebih luas melalui satu pintu diplomasi ekonomi.
Pelaku usaha nasional tidak hanya berkesempatan menawarkan produknya kepada pembeli dari satu negara, tetapi juga menjajaki kebutuhan pasar di sejumlah negara yang memiliki karakteristik ekonomi berbeda.
Menurut Agung, penetapan target transaksi yang sama dengan tahun sebelumnya juga mempertimbangkan usia operasional kedutaan yang baru berjalan sekitar tiga tahun.
Karena itu, pencapaian target tidak semata-mata berorientasi pada nilai transaksi, tetapi juga pada keberlanjutan hubungan dagang dan terbentuknya jaringan bisnis jangka panjang.
KBRI Yaounde, kata dia, terbuka untuk menjalin kolaborasi dengan pemerintah maupun sektor swasta di negara-negara wilayah kerjanya.
Pendekatan tersebut diharapkan dapat membantu pelaku usaha Indonesia memahami kebutuhan pasar sekaligus mengidentifikasi peluang kerja sama yang dapat ditindaklanjuti setelah pameran berakhir.
Empat MoU Berpotensi Ditandatangani di TEI 2026
Peluang kerja sama konkret mulai terlihat dari rencana penandatanganan empat nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) antara delegasi Afrika Tengah dan pengusaha Indonesia.
Kesepakatan potensial itu terutama berkaitan dengan sektor pertanian serta penyediaan pupuk, baik organik maupun anorganik.
Agung menyebut empat MoU tersebut memiliki peluang sekitar 80 persen untuk ditandatangani, meskipun proses penjajakan bisnis masih berlangsung.
“Potensi MoU yang ada sementara ini ada empat yang 80 persen akan ditandatangani.
Prosesnya masih berlanjut melalui business matching yang diselenggarakan di Tangerang Selatan maupun dalam Business Forum Indonesia,” kata Agung.
Angka tersebut masih berupa potensi kesepakatan, bukan transaksi yang telah terealisasi.
Kepastian nilai bisnis dan tindak lanjutnya akan bergantung pada hasil pembahasan antara para pihak, termasuk kesesuaian kebutuhan, harga, volume pasokan, serta persyaratan perdagangan.
Rangkaian pertemuan bisnis yang berlangsung hingga 24 Oktober diharapkan menambah jumlah kesepakatan yang dapat dibawa pulang oleh delegasi Afrika Tengah.
Forum tersebut juga menjadi kesempatan bagi perusahaan Indonesia untuk mempresentasikan produk, menjelaskan kapasitas produksi, dan membangun hubungan langsung dengan calon mitra.
Bagi eksportir nasional, pendekatan melalui business matching dapat menjadi langkah awal untuk mengubah minat pembeli menjadi kontrak komersial.
Namun, realisasi transaksi tetap memerlukan tindak lanjut setelah pameran, mulai dari negosiasi hingga pemenuhan ketentuan ekspor dan pengiriman barang.
Kamerun Membutuhkan Pasokan Pupuk
Salah satu sektor yang menjadi perhatian dalam penjajakan bisnis Indonesia dengan Afrika Tengah adalah industri pupuk.
Menurut Agung, Kamerun menghadapi kekurangan pasokan pupuk sehingga membuka peluang bagi produsen Indonesia untuk menawarkan produk yang sesuai dengan kebutuhan pasar setempat.
Kondisi tersebut dapat menjadi kesempatan bagi Indonesia untuk memperluas pemasaran pupuk organik dan anorganik.
Selain memenuhi kebutuhan pembeli, kerja sama ini berpotensi mendukung aktivitas pertanian di negara tujuan.
Meski demikian, peluang ekspor tidak hanya ditentukan oleh besarnya kebutuhan pasar.
Perusahaan Indonesia perlu memastikan kesesuaian spesifikasi produk, harga yang kompetitif, jalur distribusi, serta ketentuan impor yang berlaku di Kamerun.
Ketersediaan mitra lokal juga menjadi faktor penting untuk menjaga kesinambungan pasokan.
Dengan dukungan jaringan distribusi dan komunikasi bisnis yang memadai, peluang yang muncul selama TEI dapat dikembangkan menjadi hubungan dagang yang berkelanjutan.
Bagi Indonesia, pasar Afrika Tengah menawarkan alternatif diversifikasi tujuan ekspor.
Perluasan pasar ke kawasan tersebut dapat membantu perusahaan nasional menjangkau pembeli di luar pasar tradisional, sekaligus mengurangi ketergantungan pada sejumlah negara tujuan utama.
Industri Perkapalan dan Perkeretaapian Ikut Dibidik
Selain pertanian dan pupuk, Indonesia melihat potensi kerja sama pada sektor transportasi.
Peluang yang dijajaki mencakup perkeretaapian, penyediaan suku cadang kendaraan, hingga industri perkapalan.
Agung menyatakan KBRI Yaounde berencana menghubungi PT PAL Indonesia (Persero) dan pelaku industri perkapalan swasta nasional untuk menindaklanjuti kebutuhan transportasi laut dan sungai di Kamerun.
Menurut dia, karakteristik geografis Kamerun, yang memiliki sungai-sungai besar, memunculkan kebutuhan terhadap dukungan transportasi kapal yang lebih memadai.
“Karena sungai-sungai di Kamerun besar-besar dan mereka memang memerlukan dukungan transportasi kapal yang lebih memadai,” ujarnya.
Kebutuhan tersebut berpotensi membuka peluang bagi industri perkapalan Indonesia untuk menawarkan produk maupun menjajaki bentuk kerja sama lain yang sesuai dengan kondisi setempat.
Namun, penjajakan tersebut masih memerlukan pemetaan kebutuhan secara lebih terperinci.
Jenis kapal yang dibutuhkan, kapasitas angkut, karakteristik jalur pelayaran, dukungan perawatan, dan ketersediaan suku cadang menjadi sejumlah aspek yang perlu dipastikan sebelum kerja sama dikembangkan ke tahap komersial.
Sementara itu, sektor perkeretaapian dan suku cadang kendaraan juga dapat menjadi pintu masuk bagi perusahaan Indonesia untuk memperluas jangkauan produk industri.
Peluangnya tidak terbatas pada penjualan barang, tetapi dapat berkembang ke penyediaan komponen, dukungan teknis, dan kemitraan dengan pelaku usaha setempat sesuai kebutuhan masing-masing negara.
Rencana menghubungkan calon mitra Afrika Tengah dengan perusahaan nasional memperlihatkan pentingnya peran diplomasi dalam membuka akses pasar.
Melalui komunikasi antarlembaga dan pertemuan langsung antarpelaku usaha, hambatan awal dalam menjajaki pasar baru diharapkan dapat dikurangi.
Ekspor Indonesia ke Afrika Tengah Masih Memiliki Ruang Pertumbuhan
Data Kementerian Perdagangan yang disampaikan dalam paparan tersebut menunjukkan nilai ekspor Indonesia ke sejumlah negara Afrika Tengah selama Januari–Agustus 2026 masih bervariasi.
Kamerun mencatat nilai ekspor Indonesia sebesar US$29,2 juta atau sekitar Rp523,82 miliar.
Ekspor ke Guinea Ekuatorial mencapai US$13,9 juta atau sekitar Rp249,35 miliar, sedangkan pengiriman ke Gabon tercatat US$11,4 juta atau sekitar Rp204,50 miliar.
Untuk Chad, nilai ekspor Indonesia pada periode yang sama mencapai US$8,8 juta atau sekitar Rp157,86 miliar.
Adapun ekspor ke Republik Afrika Tengah tercatat US$1,7 juta atau sekitar Rp30,49 miliar.
Sementara itu, angka ekspor ke Kongo dalam data yang disampaikan tercantum sebesar US$106,9.
Satuan tersebut perlu dikonfirmasi kembali kepada sumber data sebelum digunakan sebagai angka final karena berbeda jauh dari besaran nilai ekspor negara-negara lain dalam daftar tersebut.
Perbedaan nilai ekspor antarnegara menunjukkan bahwa strategi penetrasi pasar tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam.
Perusahaan Indonesia perlu menilai kebutuhan masing-masing negara, daya serap pasar, persaingan produk, serta kesiapan jalur distribusi.
Kamerun, misalnya, dapat menjadi salah satu pasar yang diprioritaskan dalam penjajakan sektor pupuk dan transportasi.
Sementara itu, peluang di negara lain dapat dikembangkan berdasarkan kebutuhan komoditas, kapasitas industri, dan potensi mitra lokal.
Data perdagangan tersebut juga memberikan gambaran awal mengenai hubungan ekonomi Indonesia dengan kawasan Afrika Tengah.
Meski demikian, penilaian mengenai pertumbuhan ekspor tetap membutuhkan perbandingan dengan periode sebelumnya serta rincian komoditas yang diperdagangkan.
TEI 2026 Menjadi Momentum Memperluas Pasar Ekspor
Trade Expo Indonesia 2026 dijadwalkan berlangsung pada 14–18 Oktober 2026 di Indonesia Convention Exhibition (ICE), BSD City, Tangerang, Banten.
Pameran perdagangan tersebut menjadi salah satu wadah bagi pelaku usaha nasional untuk mempertemukan produk Indonesia dengan pembeli dari berbagai negara.
Bagi delegasi Afrika Tengah, kegiatan tersebut memberikan kesempatan untuk melihat langsung produk yang ditawarkan eksportir Indonesia sekaligus membangun komunikasi dengan calon pemasok.
Adapun bagi perusahaan nasional, pertemuan itu dapat menjadi sarana untuk mengidentifikasi kebutuhan pasar yang belum terpenuhi.
Target transaksi US$19,5 juta dan potensi empat MoU menjadi indikator awal dari peluang yang sedang dijajaki KBRI Yaounde.
Namun, keberhasilan upaya tersebut pada akhirnya akan ditentukan oleh seberapa banyak peluang yang dapat dikonversi menjadi kesepakatan bisnis dan transaksi nyata.
Tantangan berikutnya adalah menjaga kesinambungan komunikasi setelah pameran, memastikan kesiapan pasokan, serta menyesuaikan penawaran dengan kebutuhan pembeli.
Tanpa tindak lanjut yang konsisten, minat yang muncul selama forum perdagangan berisiko berhenti pada tahap penjajakan.
Sebaliknya, jika proses negosiasi berjalan baik dan kebutuhan pasar dapat dipenuhi, TEI 2026 berpotensi menjadi titik awal bagi penguatan perdagangan Indonesia dengan Kamerun dan negara-negara Afrika Tengah lainnya.
Dengan memperluas kerja sama dari sektor pertanian hingga transportasi, Indonesia berpeluang membangun hubungan ekonomi yang lebih beragam di kawasan tersebut.
Target transaksi yang dipasang KBRI Yaounde pun bukan sekadar mengejar angka, melainkan bagian dari upaya membuka pasar baru bagi produk nasional dan memperkuat posisi eksportir Indonesia dalam perdagangan internasional.



