Kabar-Tani.com. – SUBANG — Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman memastikan pemerintah tetap optimistis terhadap ketersediaan beras nasional di tengah proyeksi penurunan produksi pada Januari-Oktober 2026.
Menurut Amran, penurunan produksi yang diperkirakan Badan Pusat Statistik (BPS) masih tergolong kecil jika dibandingkan dengan total produksi beras nasional.
BPS memproyeksikan produksi beras nasional sepanjang Januari-Oktober 2026 mencapai 31,41 juta ton.
Angka tersebut turun sekitar 0,08 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025, yang mencapai sekitar 31,44 juta ton.
Dalam periode yang sama, produksi padi dalam bentuk gabah kering giling (GKG) diperkirakan mencapai 54,52 juta ton, atau turun 0,08 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Amran mengatakan angka penurunan tersebut perlu dilihat dalam konteks produksi nasional secara keseluruhan.
Ia mencontohkan, apabila penurunan 0,08 persen dihitung dari basis produksi sekitar 34,7 juta ton, jumlahnya hanya sekitar 30 ribu ton.
“0,08 persen coba dikali 34,7 juta ton produksi beras nasional. 0,08 persen itu hanya 30 ribu ton, kecil sekali,” kata Amran seusai panen pertanaman padi model PM-AAS di BRMP Padi Sukamandi, Subang, Jawa Barat, Rabu, 2 September 2026.
Mentan Sebut Indonesia Masih Surplus Pangan
Amran juga menilai kondisi pangan nasional masih berada dalam posisi kuat.
Ia menyebut Indonesia mencatat surplus pangan sekitar 4 juta ton pada tahun sebelumnya dan kembali berada dalam kondisi surplus pada tahun ini.
Menurut dia, besarnya surplus tersebut menjadi salah satu alasan pemerintah tetap optimistis menghadapi proyeksi penurunan produksi.
“Tahun lalu surplus 4 juta ton, tahun ini juga kan. 30 ribu ton hilang (susut produksi).
Sementara kita 4 juta ton dua kali surplus bagaimana?” ujar Amran.
Meski demikian, pemerintah tidak menganggap persoalan produksi sebagai hal sepele.
Amran mengatakan perubahan kondisi iklim menjadi salah satu tantangan besar bagi sektor pertanian, terutama dengan adanya ancaman El Nino.
Pemerintah, kata dia, telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi untuk menjaga produktivitas pertanian.
Strategi tersebut antara lain memperkuat pompanisasi dan irigasi, meningkatkan produktivitas lahan, serta mendorong penggunaan varietas benih yang lebih tahan terhadap kekeringan.
Pemerintah Perkuat Pompanisasi Hadapi El Nino
Amran mengatakan pemerintah telah melakukan persiapan sejak jauh hari untuk mengantisipasi dampak El Nino terhadap produksi pangan.
Pompanisasi dan penguatan irigasi dilakukan untuk memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian.
Di saat yang sama, peningkatan produktivitas menjadi strategi untuk menjaga produksi meski terdapat tekanan terhadap luas maupun kondisi pertanaman.
“El Nino dampaknya insyaallah kita mitigasi. Kenapa? Kita sudah persiapan jauh sebelumnya.
Satu pompanisasi, dua irigasi, tiga kita tingkatkan produksi dua kali lipat,” kata Amran.
Ia mencontohkan penerapan teknologi budidaya melalui model PM-AAS yang ditargetkan mampu meningkatkan hasil panen.
Produktivitas yang sebelumnya sekitar 5 ton per hektare, misalnya, dapat ditingkatkan menjadi sekitar 10 ton. Sementara produksi 6 ton ditargetkan meningkat menjadi 11 ton.
Selain teknologi budidaya, penggunaan benih yang memiliki ketahanan terhadap kondisi kering juga menjadi bagian dari strategi pemerintah menghadapi perubahan iklim.
Angka Produksi Oktober 2026 Belum Final
Sementara itu, angka produksi Oktober 2026 yang disampaikan BPS masih berstatus potensi atau proyeksi.
Artinya, angka tersebut belum menjadi hasil produksi final.
Realisasi produksi masih dapat berubah mengikuti perkembangan pertanaman dan realisasi panen hingga Oktober 2026.
Karena itu, kondisi produksi beras nasional pada akhir periode masih akan ditentukan oleh perkembangan di lapangan.
Pemerintah pun terus melakukan intervensi untuk mengantisipasi dampak perubahan iklim terhadap sektor pertanian.
Selain menjaga luas panen, pemerintah mendorong peningkatan produktivitas agar hasil produksi per hektare dapat terus meningkat.
Amran menegaskan pemerintah tidak ingin petani menghadapi tekanan perubahan iklim seorang diri.
Intervensi sejak awal dinilai penting untuk mempertahankan produksi sekaligus menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat.
“Kita tidak boleh membiarkan petani jalan sendiri, kita harus turun tangan,” pungkas Amran.



