Kabar-Tani.com|- KUNINGAN — Kehidupan para petani di lereng Gunung Ciremai, Kabupaten Kuningan, kian terjepit di tengah tumpukan ancaman yang tak kunjung usai.
Dua momok utama terus menghantui: meledaknya populasi monyet liar yang merusak tanaman, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kerap merambat ke kebun warga—menyebabkan hasil panen anjlok tajam.
Dedi (54), petani asal Desa Padabeunghar, Kecamatan Pasawahan, adalah salah satu yang merasakan getirnya.
Dulu bekerja sebagai kuli bangunan di Jakarta sejak tahun 1980-an, ia memutus pulang kampung pada 2000 untuk menggarap lahan setengah hektare yang ditanami durian, tangkil, hingga petai.
Kala itu, sekali panen hasil gabungan bisa mencapai 5 kuintal—penghasilan yang menjanjikan. Kini, harapan itu kian memudar.
“Kalau hama monyet datang, bunga durian sudah dirusak sebelum berbuah. Hasil panen turun jadi 2–3 kuintal saja. Bahkan sering gagal panen. Itu pun belum tentu menutup biaya panen, padahal istri dan anak-anak butuh nafkah,” ungkap Dedi.
Monyet liar bukan satu-satunya ancaman. Babi hutan dan burung juga turut merusak tanaman, sementara musim kemarau membawa bahaya lain: api yang mudah berkobar di lereng gunung.
Tanpa sumber air yang memadai, petani hanya bisa mengandalkan ranting dan dedaunan hijau untuk memadamkan api secara manual—usaha yang sering kali sia-sia saat angin kencang datang.
Radi (70), petani lain yang telah puluhan tahun berjuang di sana, menyuarakan harapan serupa.
“Populasi monyet sudah tak terkendali, ini musuh yang paling sulit ditaklukkan. Kami berharap pihak berwenang bisa turun tangan mengendalikan populasinya, agar kami bisa bertani dengan tenang,” ujarnya.
Bagi petani di lereng Gunung Ciremai, bertani kini bukan sekadar merawat tanaman—tetapi juga bertahan melawan alam yang kian tak bersahabat.



