Kabar-Tani.com|- JAKARTA — Institut Pertanian Bogor (IPB) menguji dua varietas padi hemat air, IPB 9G dan IPB 15S, di Kawasan Transmigrasi Salor, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Uji coba ini menjadi salah satu upaya meningkatkan produksi beras di tengah ancaman musim kemarau dan keterbatasan pasokan air bagi petani.
Pengujian dilakukan oleh Tim Ekspedisi Patriot (TEP) IPB melalui penanaman di lahan demonstrasi plot seluas empat hektare di Distrik Kurik pada 21 September 2026.
Hasil uji coba tersebut diharapkan memberikan gambaran mengenai kemampuan kedua varietas dalam menghadapi kondisi lingkungan setempat sekaligus meningkatkan produktivitas pertanian di kawasan transmigrasi.
Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara mengatakan keberadaan Tim Ekspedisi Patriot penting untuk menghimpun informasi langsung dari lapangan.
Temuan tim tersebut akan menjadi bahan pertimbangan dalam merumuskan kebijakan pembangunan kawasan transmigrasi.
“Para Patriot adalah mata dan telinga kita di lapangan. Hasil kerja mereka akan menjadi salah satu fondasi penting bagi kebijakan dan pembangunan kawasan transmigrasi ke depan,” kata Iftitah dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Menurut dia, penguatan produksi pangan di kawasan transmigrasi sejalan dengan Asta Cita kedua Presiden Prabowo Subianto, yakni memperkuat ketahanan pangan dan mendorong swasembada sebagai bagian dari kemandirian bangsa.
Dua varietas padi dengan potensi hasil tinggi
Dua varietas yang diuji memiliki karakteristik berbeda, tetapi sama-sama menawarkan potensi untuk meningkatkan efisiensi budidaya dan mempercepat masa panen.
IPB 9G dirancang untuk lahan kering dengan kebutuhan air yang lebih hemat serta umur tanaman relatif pendek.
Karakteristik tersebut membuat varietas ini dinilai berpeluang dikembangkan pada musim tanam ketiga, ketika petani menghadapi kondisi kemarau dan pengaruh air pasang laut.
Adapun IPB 15S memiliki potensi hasil mencapai 10,16 ton gabah kering giling per hektare.
Sementara itu, IPB 9G berpotensi menghasilkan 9,09 ton gabah kering giling per hektare.
Kedua varietas tersebut juga memiliki karakter beras pulen yang sesuai dengan preferensi konsumen yang menyukai nasi bertekstur lembut.
Sebagai pembanding, petani di kawasan Salor selama ini menanam varietas Inpari 32 dengan hasil sekitar 5–6 ton gabah kering panen per hektare.
Perbandingan tersebut memperlihatkan adanya peluang peningkatan produktivitas melalui penggunaan varietas baru.
Namun, potensi hasil yang tercantum belum dapat disamakan dengan hasil aktual di lahan petani.
Kinerja kedua varietas di Merauke masih perlu dibuktikan melalui pengamatan selama masa pertumbuhan hingga panen.
Umur panen lebih singkat, efisiensi tanam jadi pertimbangan
Selain potensi hasil, umur panen menjadi salah satu pertimbangan dalam pemilihan varietas. IPB 15S dapat dipanen sekitar 100–105 hari setelah semai, sedangkan IPB 9G membutuhkan waktu sekitar 110–113 hari setelah semai.
Umur tanaman yang relatif pendek berpotensi membantu petani menyesuaikan jadwal tanam dengan ketersediaan air dan kondisi cuaca.
Bagi wilayah yang menghadapi periode kering, pemilihan varietas dengan kebutuhan air lebih rendah dan siklus tanam yang sesuai dapat menjadi bagian dari strategi mengurangi risiko gagal panen.
Meski demikian, keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh varietas.
Pengaturan waktu tanam, kondisi tanah, ketersediaan air, pemupukan, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman tetap berperan dalam menentukan hasil akhir.
Dalam uji coba tersebut, tim menanam sebanyak 240 kilogram benih di lahan seluas empat hektare.
Dengan demikian, kebutuhan benih yang digunakan mencapai 60 kilogram per hektare.
Pendampingan menyasar 100 petani
Program uji coba padi hemat air ini tidak berhenti pada kegiatan penanaman.
Tim Ekspedisi Patriot IPB juga memberikan pendampingan kepada petani, mulai dari pengelolaan budidaya, pengendalian hama dan penyakit secara terpadu, hingga pemanfaatan mekanisasi pertanian.
Pendampingan tersebut menyasar sekitar 50–100 petani yang tergabung dalam Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Harapan Makmur.
Organisasi itu menaungi 12 kelompok tani di kawasan setempat.
Keterlibatan petani menjadi bagian penting dalam menguji kesesuaian teknologi pertanian dengan kondisi lapangan.
Melalui pendampingan langsung, petani diharapkan dapat memahami teknik budidaya yang tepat sekaligus menilai kelebihan dan tantangan penggunaan varietas baru.
Kepala Distrik Kurik, Mariana Belekubun, menyatakan dukungannya terhadap pelaksanaan program tersebut.
Ia berharap seluruh tahapan kegiatan berjalan lancar dan memberikan hasil yang baik bagi petani di wilayahnya.
“Saya selaku Kepala Distrik mendukung penuh semua kegiatan yang berada di wilayah Distrik Kurik. Semoga seluruh proses kegiatan berjalan lancar dan memberikan hasil yang berlimpah,” ujar Mariana.
Menunggu hasil panen perdana Januari 2027
Panen perdana dari lahan demonstrasi plot tersebut diperkirakan berlangsung pada pekan kedua Januari 2027, dengan mempertimbangkan umur masing-masing varietas.
Masa panen ini akan menjadi tahap penting untuk mengevaluasi performa IPB 9G dan IPB 15S di lingkungan pertanian Merauke.
Pengamatan terhadap hasil gabah, kebutuhan air, ketahanan tanaman, serta respons terhadap gangguan hama dan penyakit dapat menjadi bahan evaluasi sebelum varietas tersebut direkomendasikan untuk ditanam dalam skala lebih luas.
Bagi kawasan transmigrasi Salor, pengembangan varietas padi yang sesuai dengan kondisi setempat berpotensi mendukung peningkatan produksi pangan sekaligus memperkuat usaha tani masyarakat.
Namun, keberlanjutan program akan sangat bergantung pada hasil uji lapangan, ketersediaan sarana produksi, pendampingan petani, dan pengelolaan air.
Jika hasil pengujian memenuhi harapan, IPB 9G dan IPB 15S berpeluang menjadi alternatif bagi petani yang ingin meningkatkan produktivitas tanpa mengabaikan keterbatasan sumber daya air.
Hasil panen pada awal 2027 akan menjadi salah satu tolok ukur untuk menilai sejauh mana kedua varietas tersebut dapat menjawab kebutuhan pertanian di kawasan transmigrasi Merauke.



