Kementan Dorong Peternakan Ayam Cage-Free, Tekankan Kesejahteraan Hewan
Kabar-Tani.com. Senen, (07/08/26). – JAKARTA — Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong transformasi peternakan unggas nasional menuju sistem produksi yang lebih sehat, aman, dan berkelanjutan.
Salah satu pendekatan yang mulai dikembangkan ialah cage-free farming, yakni pemeliharaan ayam petelur tanpa menggunakan kandang sangkar individual.
Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan, I Ketut Wirata, mengatakan perubahan sistem peternakan tidak hanya berkaitan dengan model kandang.
Menurut dia, kesejahteraan hewan, keamanan pangan, kesehatan ternak, dan keberlanjutan usaha harus berjalan beriringan.
“Five Freedoms merupakan kerangka dasar untuk memastikan hewan terbebas dari kondisi yang menyebabkan penderitaan dan dapat memenuhi kebutuhan alaminya,” ujar Wirata dalam acara Beyond the Cage di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Sabtu, 5 September 2026.
Prinsip tersebut mencakup kebebasan dari lapar dan haus, ketidaknyamanan, rasa sakit, cedera dan penyakit, ketakutan serta stres, sekaligus memberi ruang bagi ternak untuk mengekspresikan perilaku alaminya.
Dalam sistem cage-free, penerapan prinsip itu antara lain terlihat dari pengaturan kepadatan kandang, ketersediaan pakan dan air, kualitas litter, tempat bertengger, sarang bertelur, kesehatan kaki, serta pemantauan perilaku dan tingkat stres ayam.
Cage-Free dan Tantangan Biaya Produksi
Kementan menyebut transformasi menuju cage-free tidak bisa dilakukan secara seragam.
Kondisi peternak berbeda-beda, baik dari sisi skala usaha, investasi, lahan, sumber daya manusia maupun pasar.
Karena itu, perubahan sistem perlu dilakukan secara bertahap dan berbasis bukti ilmiah.
Penguatan manajemen, sarana produksi, kompetensi peternak, teknologi, serta koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Pelaku usaha PT Inti Prima Satwa Sejahtera, Roby Gandawijaya, mengatakan penerapan sistem bebas sangkar semakin memungkinkan dilakukan.
Namun, sistem tersebut membutuhkan ruang pemeliharaan lebih luas sehingga dapat meningkatkan biaya produksi.
Menurut dia, keberadaan pusat pelatihan di Yogyakarta dapat membantu peternak memahami praktik cage-free sekaligus menyiapkan pengelolaan usaha yang lebih efisien.
Selain kesejahteraan hewan, Kementan juga menaruh perhatian pada resistensi antimikroba (AMR).
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dinilai dapat mendorong munculnya mikroorganisme yang kebal terhadap pengobatan.
Penguatan biosekuriti, kesehatan ternak, penggunaan antimikroba secara bertanggung jawab, dan kesejahteraan hewan menjadi bagian dari pendekatan One Health, yang menghubungkan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
Pengembangan cage-free telah mulai dilakukan di sejumlah wilayah, termasuk Jawa Barat dan Bali.
Pemerintah juga memiliki landasan regulasi melalui Peraturan Menteri Pertanian Nomor 32 Tahun 2025.
Transformasi tersebut diharapkan tidak sekadar meningkatkan standar pemeliharaan ayam, tetapi juga memperkuat daya saing industri unggas. Dengan dukungan teknologi,
pelatihan, efisiensi usaha, kepastian pasar, dan edukasi konsumen, sistem cage-free diharapkan dapat berkembang menjadi bagian dari peternakan unggas Indonesia yang lebih sehat dan berkelanjutan.







