Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia

Limbah Pertanian Tak Lagi Terbuang, Teknologi Pirolisis UMI Hasilkan Charcoal dan Asap Cair

Kabar-Tani.com|JAKARTA — Limbah pertanian dan perkebunan tak selalu berakhir sebagai sampah.

Tim peneliti Universitas Muslim Indonesia (UMI) mengembangkan teknologi pirolisis yang dapat mengubah sisa biomassa menjadi dua produk sekaligus: charcoal dan asap cair.

Guru Besar Fakultas Teknologi Industri UMI, Prof.

Andi Aladin, mengatakan pirolisis merupakan proses menguraikan biomassa melalui pemanasan dalam kondisi oksigen terbatas.

Teknologi itu membuka peluang pemanfaatan limbah yang selama ini kurang bernilai, seperti tempurung, kulit, tongkol, dan sisa tanaman yang kaya karbon.

“Gagasan utamanya bagaimana satu proses pengolahan dapat menghasilkan lebih dari satu produk yang bermanfaat,” kata Andi, seperti dilansir kabar-tani.com, Kamis, 10 September 2026.

Dalam pengembangan tersebut, tim UMI merancang reaktor pirolisis simultan berdinding tiga atau three-layer yang menggunakan bahan stainless steel.

Reaktor dibuat sebagai sistem tertutup untuk memisahkan sekaligus memanfaatkan hasil proses.

Biomassa yang dipanaskan menghasilkan material padat berupa charcoal.

Pada saat yang sama, uap pirolisis ditangkap dan dialirkan menuju sistem kondensasi untuk menghasilkan asap cair.

Charcoal Tak Sekadar Bahan Bakar

Charcoal yang dihasilkan memiliki nilai kalor sekitar 6.000-7.000 kilokalori per kilogram.

Karakteristik itu membuat produk tersebut berpotensi digunakan sebagai sumber energi maupun bahan baku briket.

Pemanfaatannya tak berhenti pada sektor energi.

Menurut Andi, charcoal juga berpeluang dikembangkan sebagai bioadsorben untuk pengolahan limbah cair.

Tim peneliti bahkan menguji potensi material tersebut sebagai bahan penyaring dan penjernih produk pangan, termasuk virgin coconut oil (VCO).

Adapun asap cair diperoleh dari kondensasi uap yang keluar selama proses pirolisis.

Produk ini memiliki beragam peluang pemanfaatan, termasuk untuk sektor pertanian.

Salah satunya adalah pengembangan sebagai biopestisida yang lebih ramah lingkungan.

Dinding Tiga Lapis untuk Menekan Kehilangan Energi

Tantangan dalam teknologi pirolisis adalah kebutuhan suhu tinggi.

Karena itu, efisiensi energi menjadi salah satu perhatian dalam rancangan reaktor yang dikembangkan UMI.

Reaktor dilengkapi tiga lapisan dinding dengan isolator termal yang dapat dilepas.

Lapisan tersebut berfungsi menekan panas yang terbuang ke lingkungan sehingga energi pemanasan dapat digunakan lebih efektif.

Ada fungsi lain yang dirancang pada ruang isolator tersebut.

Panas yang tersedia dapat dimanfaatkan untuk membantu mengeringkan biomassa sebelum masuk ke ruang pirolisis.

“Menariknya, ruang isolator tersebut juga dirancang agar dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pengeringan awal biomassa sebelum memasuki tahapan pirolisis,” ujar Andi.

Reaktor beroperasi pada kisaran suhu 300-500 derajat Celsius.

Proses pirolisis berlangsung rata-rata selama 2,5 jam. Uap yang dihasilkan kemudian dikondensasikan untuk memperoleh asap cair.

Prototipe Menghasilkan 37 Persen Charcoal

Berdasarkan data pengembangan prototipe, proses tersebut berpotensi menghasilkan sekitar 37 persen charcoal dan 42 persen asap cair.

Angka tersebut menjadi bagian dari evaluasi tim untuk mengukur kinerja serta efektivitas teknologi.

Namun, bagi peneliti, keberhasilan menghasilkan produk belum menjadi ukuran akhir.

Prototipe masih diarahkan untuk menjalani serangkaian pengujian.

Aspek yang diuji mencakup kestabilan suhu, kinerja reaktor pada berbagai kondisi operasi, efisiensi penggunaan energi, keselamatan operator, hingga konsistensi mutu charcoal dan asap cair.

Bagi Andi, tantangan teknologi bukan semata menghasilkan produk dalam satu kali percobaan. Teknologi tersebut harus mampu bekerja secara berulang dengan kinerja yang stabil.

“Teknologi baru tidak cukup hanya berhasil dalam satu kali percobaan. Yang penting adalah bagaimana teknologi itu dapat bekerja secara stabil, aman dan konsisten ketika digunakan berulang kali,” kata dia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *