Kabar-Tani.com|- PLERET, BANTUL. Rabu, (09/09/26). — Wajah pertanian di Kalurahan Pleret, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, kini tak lagi sekadar cangkul dan ember.
Pemerintah kalurahan setempat menggelontorkan dana sekitar Rp 67 juta untuk membangun sistem pertanian pintar yang memadukan Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).
Lurah Pleret, Taufiq Kamal, mengatakan anggaran tersebut sudah mencakup seluruh perangkat pendukung, termasuk panel surya.
Ia menyebut proyek ini sebagai investasi jangka panjang bagi para petani di wilayahnya.
“Sekitar Rp 67 juta untuk alatnya, itu sudah komplet sama solarcell dan lain-lain. Artinya itu investasi yang cukup panjang,” ujar Taufiq belum lama ini.
Dari Dana Keistimewaan untuk Desa Mandiri Budaya
Dana pengembangan pertanian berbasis teknologi ini bukan berasal dari kantong pribadi maupun APBDes biasa, melainkan dari Bantuan Keuangan Khusus (BKK) Desa Mandiri Budaya.
Sumber anggarannya sendiri berasal dari Dana Keistimewaan (Danais) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Skema pembiayaan ini menjadikan Pleret salah satu kalurahan yang memanfaatkan Danais bukan hanya untuk pelestarian budaya, tapi juga untuk mendorong modernisasi sektor pertanian.
Sensor Tanah Jadi Kunci Otomatisasi
Menurut Taufiq, sistem pertanian terpadu berbasis IoT ini bekerja dengan mengandalkan sensor yang ditanam langsung di lahan.
Sensor tersebut mendeteksi tingkat kelembapan tanah, kondisi kering, hingga pH tanah secara real time.
“Jadi dengan IoT itu perawatan tanaman bisa selesai dengan memanfaatkan teknologi. Kenapa bisa menyiram otomatis itu karena di lahan sudah kita pasang sensor, jadi kalau tanahnya lembap, kering, atau pH tidak sesuai langsung otomatis,” jelasnya.
Data dari sensor dikirim melalui jaringan WiFi yang telah terpasang di area persawahan, lalu diproses secara berkala.
Hasil pemrosesan data inilah yang memicu aksi otomatis, baik berupa penyiraman air maupun pemberian pupuk cair.
Tak berhenti di situ, sistem ini juga diintegrasikan dengan kecerdasan buatan agar mampu “belajar” dan bertindak tanpa perlu perintah manual dari petani.
“Kita juga integrasikan dengan kecerdasan buatan, jadi kecerdasan buatan tinggal dikasih knowledge saja. Jadi tidak perlu omong tolong nyalakan air, sirami air, karena sudah ada pengetahuan itu tadi,” kata Taufiq.
Pare dan Bawang Merah Jadi Tanaman Percontohan
Penanaman perdana dengan sistem IoT ini dilakukan pada Rabu, 19 Agustus lalu, dengan memanfaatkan tiga blok lahan.
Dua komoditas yang dipilih sebagai percontohan adalah pare dan bawang merah.
Taufiq menuturkan, kegiatan tersebut sengaja dikemas dalam pertemuan rutin Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) agar petani tidak hanya mendapat teori, tetapi juga melihat langsung praktiknya di lapangan.
“Kegiatan kemarin itu penanaman perdana lewat kegiatan kami, kumpulan Gapoktan rutin. Karena kalau hanya teori itu susah, harus diberi contoh dulu baru mereka tertarik,” ujarnya.
Panel Surya dan Sumur demi Efisiensi Energi
Di sisi teknis, teknisi IoT Saifudin menjelaskan bahwa kebutuhan listrik untuk mengoperasikan sistem pertanian modern ini terbilang besar, mencapai 1,5 kilowatt.
Karena itu, tim memilih panel surya sebagai solusi agar operasional tidak dibebani biaya listrik tambahan.
“Ini kan butuh 1,5 kilowatt listrik, jadi kami pilih pakai solar cell yang tidak bayar,” kata Saifudin.
Selain panel surya, tim juga membangun sumur untuk menjaga kualitas air penyiraman.
Menurutnya, air tanah memiliki kualitas yang lebih baik untuk kebutuhan tanaman sekaligus menekan pengeluaran operasional.
Sensor yang ditanam di dalam tanah pun berfungsi ganda: memantau kelembapan tanah dan udara, sekaligus mendeteksi suhu cuaca.
Dengan begitu, sistem bisa otomatis menghentikan penyiraman saat hujan turun.
“Sensor ditanam di tanah, sensor itu memantau kelembapan udara, tanah, lalu cuaca khususnya temperatur. Jadi kalau hujan ya tidak ada penyiraman,” jelas Saifudin.
Teknologi Canggih, Peran Manusia Tetap Ada
Meski mengandalkan otomatisasi penuh berbasis sensor dan AI,
Saifudin menegaskan peran manusia tidak sepenuhnya digantikan. Petani dan teknisi tetap dibutuhkan untuk mengontrol aspek teknis peralatan agar sistem berjalan optimal.
Langkah Kalurahan Pleret ini menjadi contoh bagaimana teknologi pertanian pintar atau smart farming mulai merambah desa-desa di Indonesia, membuka peluang efisiensi sekaligus peningkatan hasil panen di tengah tantangan perubahan iklim.







