Kabar-Tani.com| – PASURUAN — Ketergantungan Indonesia terhadap susu impor masih menjadi pekerjaan besar pemerintah.
Produksi susu segar dari peternak dalam negeri saat ini baru mampu memenuhi sekitar 20 persen kebutuhan nasional.
Kondisi tersebut mendorong Kementerian Pertanian (Kementan) mengambil langkah lebih agresif.
Pemerintah menargetkan penambahan sedikitnya 600 ribu ekor sapi perah indukan hingga 2029 sebagai bagian dari strategi memperkuat produksi susu nasional.
Target itu diharapkan menjadi salah satu pijakan menuju swasembada susu pada 2030.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman bahkan memberikan sinyal tegas soal keberpihakan pemerintah terhadap peternak lokal.
“Selama peternak mampu menghasilkan susu, kita tidak akan impor,” kata Amran.
Pernyataan tersebut menegaskan arah kebijakan pemerintah: produksi susu dalam negeri harus diperkuat terlebih dahulu sebelum kebutuhan dipenuhi melalui produk impor.
Bukan Sekadar Menambah Sapi
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda mengatakan penambahan populasi sapi perah hanyalah salah satu bagian dari persoalan.
Menurut dia, pemerintah harus membangun ekosistem yang membuat peternak mampu meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan.
“Kita masih membutuhkan penambahan sapi perah dalam jumlah besar. Tetapi yang dibangun bukan hanya populasinya,” ujar Agung saat mendampingi Kunjungan Kerja Spesifik Komisi IV DPR RI di KUTT Suka Makmur, Grati, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, Senin, 28 September.
Ekosistem tersebut mencakup ketersediaan pakan, kesehatan hewan, pembiayaan, kandang, alat pemerahan hingga kepastian susu peternak diserap industri.
Tanpa dukungan tersebut, penambahan jumlah sapi justru berpotensi tidak memberikan dampak maksimal terhadap produksi nasional.
Pemerintah Siapkan Pembiayaan Peternak
Untuk mengejar target 600 ribu sapi perah indukan, pemerintah menyiapkan sejumlah skema pembiayaan dan dukungan.
Peternak dapat memperoleh bantuan untuk uang muka pembelian sapi, asuransi, kandang, hingga alat pemerahan.
Pembiayaan juga dapat dikombinasikan dengan skema perbankan.
Skema ini dirancang agar peternak tidak harus menyediakan seluruh modal investasi sejak awal.
Bagi peternak kecil, kebijakan tersebut menjadi penting karena pengembangan usaha sapi perah membutuhkan modal sekaligus biaya operasional yang tidak sedikit.
Namun ada satu persoalan yang tidak kalah penting: siapa yang akan membeli susu ketika produksi meningkat?
Pemerintah Tak Ingin Susu Peternak Terbuang
Agung menegaskan peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan kesiapan industri.
Pemerintah tidak ingin peternak sudah meningkatkan populasi dan produksi, tetapi justru kesulitan menjual hasil ternaknya.
“Tidak boleh ada susu segar peternak yang tidak terserap,” tegasnya.
Menurut dia, industri pengolahan susu harus disiapkan agar peningkatan produksi nasional memiliki pasar yang jelas.
Kepastian penyerapan tersebut juga menjadi faktor penting untuk mendorong peternak berani melakukan investasi dan menambah jumlah sapi.
Koperasi Jadi Kunci Rantai Pasok
Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto menilai koperasi memiliki posisi strategis dalam memperkuat industri persusuan nasional.
Koperasi dapat menjadi penghubung antara peternak dan industri sekaligus membantu menyediakan kebutuhan produksi, mulai dari pakan hingga pelayanan kesehatan hewan.
Salah satu contoh terdapat di KUTT Suka Makmur, Grati, Kabupaten Pasuruan.
Koperasi ini menaungi lebih dari 2.000 peternak dengan populasi sekitar 8.700 sapi perah.
Produksinya mencapai sekitar 35 ton susu segar setiap hari.
KUTT Suka Makmur juga mengembangkan produk olahan susu serta membangun kemitraan penyerapan dengan industri.
Bagi pemerintah, model seperti ini dapat menjadi contoh bagaimana koperasi tidak sekadar menjadi tempat mengumpulkan susu, tetapi ikut membangun ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir.
Pakan Jadi Ancaman Berikutnya
Di balik target besar pemerintah, persoalan pakan masih menjadi tantangan serius.
Ketersediaan hijauan dan bahan baku pakan sangat menentukan produktivitas sapi.
Ketika pakan tidak mencukupi atau harganya terlalu mahal, biaya produksi peternak ikut meningkat.
Ketua KUTT Suka Makmur Evi Zainal Abidin mengatakan ketersediaan pakan merupakan salah satu kunci pengembangan peternakan sapi perah.
“Kalau pakan tersedia dan kemitraan berjalan baik, peternak memiliki ruang yang lebih besar untuk meningkatkan produksi,” ujarnya.
Karena itu, pengembangan lahan hijauan dan bahan baku pakan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari agenda peningkatan produksi susu nasional.
Pasuruan Punya Peran Strategis
Pemerintah Kabupaten Pasuruan melihat sektor sapi perah sebagai salah satu penopang ekonomi masyarakat.
Bupati Pasuruan Mochamad Rusdi Sutejo mengatakan daerahnya memiliki potensi besar dalam produksi susu.
Tantangannya adalah memastikan peningkatan produksi berjalan bersama dengan ketersediaan pakan dan kepastian pasar.
Pasuruan selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah dengan aktivitas peternakan sapi perah yang kuat di Jawa Timur.
Dengan penguatan koperasi, industri, pakan dan pembiayaan, daerah tersebut berpotensi memainkan peran lebih besar dalam mendukung target produksi susu nasional.
Akankah Indonesia Berhenti Bergantung pada Impor?
Target pemerintah cukup besar. Sebanyak 600 ribu sapi perah indukan ditargetkan bertambah hingga 2029, sementara swasembada susu diharapkan semakin dekat pada 2030.
Tetapi tantangannya juga tidak sederhana.
Indonesia bukan hanya membutuhkan lebih banyak sapi.
Peternak membutuhkan pakan yang tersedia, modal yang terjangkau, layanan kesehatan hewan, teknologi pemerahan, koperasi yang kuat dan—yang paling penting—jaminan bahwa susu mereka dibeli dengan harga dan mekanisme yang memberikan kepastian usaha.
Jika seluruh mata rantai tersebut dapat berjalan, penambahan populasi sapi tidak sekadar menjadi angka statistik.
Ia bisa menjadi titik balik bagi ribuan peternak untuk meningkatkan produksi, memperbesar usaha, sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap susu impor.
Pertaruhan menuju swasembada susu 2030 pada akhirnya bukan hanya soal berapa banyak sapi yang dimiliki Indonesia, tetapi seberapa kuat peternak lokal mampu menghasilkan susu dan seberapa siap industri menyerapnya.



