Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia

Ekspor Nonmigas Indonesia Tumbuh 7,23 Persen, Sektor Pertanian dan Pertambangan Justru Merosot

Kabar-Tani.com| – JAKARTA — Kinerja ekspor nonmigas Indonesia pada Agustus 2026 belum sepenuhnya menunjukkan tren positif.

Di tengah pertumbuhan ekspor yang masih terjaga, sektor industri pengolahan menjadi penopang utama, sementara ekspor dari sektor pertanian dan pertambangan justru mengalami penurunan.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Agustus 2026 mencapai US$25,62 miliar, meningkat 6,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar US$23,89 miliar.

Pertumbuhan tersebut terutama berasal dari ekspor nonmigas yang meningkat 7,23 persen secara tahunan.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan peningkatan ekspor pada Agustus 2026 terutama ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas.

“Kenaikan nilai ekspor Agustus 2026 secara tahunan terutama didorong kenaikan ekspor nonmigas,” ujar Ateng di Jakarta, Kamis, 1 Oktober 2026.

Industri pengolahan jadi penopang ekspor

Di antara sejumlah sektor nonmigas, industri pengolahan menjadi satu-satunya sektor yang mencatat pertumbuhan positif.

Nilai ekspor sektor ini mencapai US$22,29 miliar, atau tumbuh 12,48 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Kinerja tersebut membuat industri pengolahan menjadi penyangga utama ekspor Indonesia ketika sektor berbasis komoditas menghadapi tekanan.

Sebaliknya, ekspor sektor pertanian mengalami kontraksi.

Nilainya turun 11,64 persen menjadi US$530 juta, dari US$600 juta pada Agustus 2025.

Menurut Ateng, penurunan ekspor pertanian terutama dipengaruhi melemahnya ekspor sejumlah komoditas, antara lain kopi, buah-buahan tahunan, serta tanaman tahunan lainnya.

“Ekspor pertanian turun sebesar 11,64 persen secara tahunan, terutama pada kopi, buah-buahan tahunan, dan juga tanaman tahunan lainnya,” kata dia.

Ekspor pertambangan turun hampir 20 persen

Tekanan lebih besar terjadi pada sektor pertambangan.

Nilai ekspor sektor ini tercatat US$2,79 miliar, turun dibandingkan US$3,47 miliar pada Agustus 2025.

Penurunan tersebut terutama berasal dari sejumlah komoditas tambang dan mineral.

Ateng menyebut komoditas seperti besi, tembaga, bijih zirkonium, niobium, tantalum, dan aspal menjadi bagian dari penyebab melemahnya ekspor pertambangan.

“Pertambangan turun secara tahunan terutama pada komoditas besi, tembaga, kemudian juga ada biji zirkonium, niobium, tantalum, serta aspal,” ujarnya.

Data tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekspor Indonesia masih cukup bergantung pada industri pengolahan.

Sementara itu, ekspor berbasis komoditas primer, khususnya pertanian dan pertambangan, menghadapi tekanan yang cukup signifikan.

Kondisi ini sekaligus menunjukkan perubahan struktur penopang ekspor Indonesia.

Ketika ekspor komoditas mengalami pelemahan, industri pengolahan menjadi sektor yang menjaga pertumbuhan ekspor nasional tetap positif.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *