Kabar-Tani.com|- JAKARTA — Arab Saudi semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain utama dalam perdagangan kurma dunia.
Berdasarkan nilai perdagangan, negara tersebut tercatat sebagai eksportir kurma terbesar di dunia setelah nilai ekspornya terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Mengutip data International Trade Centre (ITC) yang dilaporkan Saudi Press Agency (SPA), nilai ekspor kurma Arab Saudi mencapai 1,938 miliar riyal Saudi pada 2025.
Dengan asumsi kurs Rp4.769 per riyal, angka tersebut setara sekitar Rp5,37 triliun.
Kinerja ekspor itu sekaligus memperpanjang tren pertumbuhan komoditas kurma Saudi.
Negeri penghasil minyak tersebut disebut mampu mempertahankan posisi teratas dalam nilai ekspor kurma dunia selama empat tahun berturut-turut.
Ekspor Kurma Saudi Naik Setiap Tahun
Pertumbuhan ekspor kurma Arab Saudi terlihat konsisten sejak 2021.
Nilai ekspor yang semula mencapai 1,215 miliar riyal pada 2021 terus meningkat menjadi 1,280 miliar riyal pada 2022.
Setahun kemudian, nilainya kembali naik menjadi 1,462 miliar riyal.
Pada 2024, ekspor kurma Saudi mencapai 1,695 miliar riyal sebelum menembus 1,938 miliar riyal pada 2025.
Dengan demikian, dalam lima tahun terakhir nilai ekspor kurma Arab Saudi meningkat sekitar 59,5 persen.
Jika dibandingkan dengan 2016, peningkatannya jauh lebih besar, yakni mencapai 192,5 persen.
Rata-rata pertumbuhan tahunan ekspor kurma Saudi tercatat sekitar 12,7 persen.
Pertumbuhan tersebut menunjukkan bahwa kurma tidak lagi sekadar komoditas pangan tradisional bagi Arab Saudi.
Produk pertanian tersebut telah berkembang menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai strategis dalam perdagangan internasional.
Kurma Saudi Menjangkau Lebih dari 125 Negara
Kenaikan nilai ekspor juga berjalan beriringan dengan perluasan pasar.
Produk kurma Arab Saudi kini telah dipasarkan ke lebih dari 125 negara.
Perluasan pasar tersebut menjadi salah satu indikator keberhasilan Arab Saudi dalam membangun rantai nilai industri kurma, mulai dari budidaya, pengolahan, pengemasan hingga distribusi ke pasar internasional.
Arab Saudi juga memiliki basis produksi yang besar.
Negara tersebut menghasilkan lebih dari 1,9 juta ton kurma setiap tahun dan memiliki lebih dari 37 juta pohon kurma.
Dengan basis produksi tersebut, Arab Saudi mempunyai pasokan yang cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik sekaligus memasok pasar ekspor.
Produksi Kurma Saudi Berada di Papan Atas Dunia
Arab Saudi tercatat sebagai produsen kurma terbesar kedua di dunia. Kontribusinya mencapai sekitar 17 persen terhadap produksi kurma global.
Tingkat swasembada kurma Saudi bahkan telah melampaui 125 persen.
Artinya, produksi dalam negeri tidak hanya mampu memenuhi konsumsi domestik, tetapi juga menghasilkan surplus yang dapat diarahkan ke pasar internasional.
Kondisi ini memberikan keuntungan bagi industri kurma Saudi.
Ketika produksi, logistik, pengolahan dan akses pasar dikembangkan secara bersamaan, komoditas yang sebelumnya identik dengan konsumsi domestik dapat berubah menjadi produk ekspor bernilai tinggi.
Kurma dan Strategi Diversifikasi Ekonomi Saudi
Pertumbuhan ekspor kurma juga tidak dapat dilepaskan dari agenda Saudi Vision 2030.
Program transformasi ekonomi tersebut mendorong Arab Saudi mengurangi ketergantungan terhadap sektor minyak dengan mengembangkan sektor nonmigas, termasuk pertanian dan industri pangan.
Kurma menjadi salah satu komoditas yang relatif strategis karena Arab Saudi memiliki keunggulan geografis, tradisi budidaya yang panjang, basis produksi besar dan pasar domestik yang kuat.
Pengembangan industri kurma pada akhirnya bukan hanya berkaitan dengan meningkatkan jumlah produksi.
Tantangan yang lebih besar adalah menciptakan produk dengan nilai tambah, memperkuat standar kualitas, memperluas jaringan perdagangan serta meningkatkan daya saing di pasar global.
Dengan pendekatan tersebut, kurma dapat menjadi contoh bagaimana komoditas pertanian tradisional dikembangkan menjadi bagian dari strategi diversifikasi ekonomi.
Kurma Saudi Mengalir ke Pasar Indonesia
Pertumbuhan industri kurma Arab Saudi juga memiliki dampak langsung terhadap pasar Indonesia.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan Arab Saudi menjadi salah satu pemasok utama kurma impor Indonesia.
Bahkan, berdasarkan data volume impor yang disajikan, Mesir berada di posisi pertama dengan volume 24.232 ton, disusul Arab Saudi sebanyak 11.511 ton.
Setelah itu terdapat Uni Emirat Arab dengan 7.654 ton, Tunisia 3.292 ton, Aljazair 2.771 ton dan Iran 2.535 ton.
Negara pemasok lainnya antara lain Libya sebanyak 1.567 ton, Palestina 418 ton, Amerika Serikat 143 ton dan Pakistan 128 ton.
Besarnya arus kurma dari negara-negara tersebut menunjukkan tingginya permintaan pasar Indonesia terhadap komoditas kurma.
Konsumsi kurma di Indonesia juga memiliki karakteristik khusus karena permintaannya meningkat pada periode tertentu, terutama menjelang dan selama Ramadan.
Bagi Arab Saudi, Indonesia menjadi salah satu pasar potensial karena jumlah penduduk yang besar dan tingginya konsumsi produk pangan berbasis kurma.
Dari Kebun Kurma ke Pasar Global
Kisah ekspor kurma Arab Saudi menunjukkan bahwa kekuatan sebuah komoditas tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau jumlah produksi.
Arab Saudi memiliki keunggulan produksi, tetapi pertumbuhan ekspornya juga ditopang oleh kemampuan menghubungkan petani dan produsen dengan rantai pasok global.
Ketika produksi lebih dari cukup, kualitas dijaga, pengolahan diperkuat dan pasar ekspor diperluas, kurma dapat memberikan nilai ekonomi yang jauh lebih besar.
Bagi Arab Saudi, komoditas ini sekaligus menjadi bagian dari upaya membangun sumber pertumbuhan baru di luar minyak.
Di tengah agenda diversifikasi ekonomi tersebut, kurma perlahan tidak lagi hanya menjadi simbol pangan tradisional Timur Tengah.
Ia telah menjelma menjadi salah satu produk pertanian yang mampu menembus pasar global dan menghasilkan nilai ekspor miliaran riyal.
Sumber data: International Trade Centre (ITC), Saudi Press Agency (SPA), dan Badan Pusat Statistik (BPS).



