Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia
DAERAH  

Petani Bawang Enrekang Berhenti Tanam Akibat Kekeringan

Kabar-Tani.com | – ENREKANG – Kekeringan yang melanda wilayah Sudu, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, menghambat aktivitas petani bawang merah.

Minimnya pasokan air membuat sejumlah petani terpaksa menghentikan penanaman selama berbulan-bulan.

Di tengah kondisi tersebut, bantuan air dan pompanisasi yang diharapkan dapat menyelamatkan produksi disebut belum menjangkau sentra bawang merah di wilayah itu.

Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan melalui menyusutnya hasil panen.

Petani juga menghadapi kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

Sungai yang selama ini menjadi sumber pengairan lahan dilaporkan mengering, sehingga kegiatan pertanian sulit dilanjutkan.

Petani bawang merah berinisial TT, 64 tahun, mengatakan kondisi tersebut membuat dirinya tidak dapat mengolah lahan seperti biasanya.

Bahkan, kebutuhan air untuk konsumsi sehari-hari pun menjadi persoalan.

“Air untuk diminum saja tidak ada, sungai juga kering. Makanya sekarang ini kita tidak menanam karena tidak ada sekali air. Tidak ada juga bantuan dari pemerintah, padahal cuma itu harapannya kita,” ujar TT kepada beritatrend, Kamis, 8 Oktober 2026.

Menurut TT, kekeringan mulai berdampak serius terhadap pertanian sejak awal Juli 2026.

Sejak saat itu, produktivitas bawang merah di lahan yang digarapnya merosot tajam.

Ia mengaku sudah sekitar tiga bulan tidak melakukan penanaman karena keterbatasan air.

Produksi Bawang Merah Merosot dari 7 Ton Menjadi 3 Ton

Kekeringan membawa konsekuensi langsung terhadap pendapatan petani.

TT menuturkan, lahan seluas tujuh hektare yang selama ini digarapnya biasanya mampu menghasilkan sekitar tujuh ton bawang merah.

Namun, ketika pasokan air semakin terbatas, hasil panen mengalami penurunan drastis.

Pada salah satu periode panen sekitar dua bulan sebelum wawancara, produksi yang diperoleh hanya sekitar seperempat dari hasil biasanya.

TT juga menyebut produksi yang semula mencapai tujuh ton kini berada di kisaran tiga ton.

“Sudah tiga bulan saya tidak menanam karena mulai bulan Juli merosot sekali hasilnya. Biasanya didapat tujuh ton, tapi dua bulan lalu cuma seperempatnya. Bagaimana menanam tidak ada sekali air,” katanya.

Penurunan hasil tersebut menunjukkan besarnya ketergantungan pertanian bawang merah terhadap ketersediaan air, terutama ketika musim kemarau berlangsung.

Tanpa pengairan yang memadai, petani kesulitan mempertahankan produktivitas, terlebih untuk mengolah lahan dalam skala luas.

Bagi petani, persoalan air bukan sekadar kendala teknis.

Berhentinya kegiatan tanam berarti tertundanya potensi pendapatan, sementara lahan yang tidak produktif tetap menjadi beban usaha pertanian.

TT mengatakan kondisi serupa turut dirasakan petani bawang merah lainnya di Sudu, Kecamatan Alla.

Keterbatasan air membuat banyak petani memilih tidak menanam karena khawatir tanaman tidak dapat tumbuh dengan baik.

Situasi ini menempatkan petani pada pilihan sulit.

Mereka membutuhkan penanaman untuk menjaga keberlangsungan usaha, tetapi tidak memiliki jaminan pasokan air untuk mendukung pertumbuhan tanaman.

Pemerintah Akui Bantuan Pompa Belum Menjangkau Sentra Bawang

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Kabupaten Enrekang, Ikbar Ashadi, mengakui bahwa bantuan pompanisasi untuk petani bawang merah di wilayah tersebut belum tersedia.

Menurut Ikbar, bantuan pompa yang telah disalurkan pada 2025 masih terbatas dan lebih difokuskan pada kawasan sentra produksi padi.

Sementara itu, kondisi sungai yang mengering menjadi persoalan mendasar bagi pengairan lahan bawang merah.

“Belum ada bantuan pompa ke sentra bawang karena memang tidak ada air yang mau dipompa. Rata-rata penggunaan air untuk komoditas bawang dari sungai, sungai sekarang mengering. Bantuan pompa sudah ada tahun 2025, namun sedikit, kita fokus di wilayah sentra padi,” ujar Ikbar.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa penyediaan pompa saja belum tentu cukup untuk mengatasi kekeringan.

Peralatan pengairan membutuhkan sumber air yang masih dapat dimanfaatkan.

Ketika sungai mengering, petani tetap menghadapi keterbatasan meskipun pompa tersedia.

Karena itu, upaya pemulihan pertanian di Sudu tidak hanya berkaitan dengan distribusi peralatan, tetapi juga dengan kepastian sumber air yang dapat digunakan secara berkelanjutan.

Bagi petani yang telah berbulan-bulan menghentikan penanaman, kepastian bantuan menjadi penting untuk menentukan langkah berikutnya.

Tanpa dukungan pengairan yang memadai, upaya meningkatkan produksi berisiko kembali terhambat oleh kondisi cuaca.

Tambahan Bantuan Pompanisasi Diupayakan untuk 2026–2027

Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Enrekang menyatakan sedang mengupayakan tambahan bantuan pompanisasi yang secara khusus ditujukan bagi petani bawang merah.

Ikbar mengatakan usulan tambahan bantuan tersebut telah diajukan untuk periode 2026 hingga 2027.

Pemerintah daerah berharap bantuan dapat terealisasi pada Oktober 2026 dan selanjutnya disalurkan secara bertahap kepada kelompok tani yang membudidayakan bawang merah.

“Kami sudah ajukan tambahan bantuan khusus pompanisasi bawang merah untuk 2026 sampai dengan 2027. Mudahan Oktober ini sudah terealisasi,” katanya.

Menurut Ikbar, dinas telah mendata kelompok tani yang menjadi calon penerima bantuan.

Pendataan tersebut menjadi bagian dari upaya penyaluran bantuan secara bertahap kepada petani yang membutuhkan dukungan pengairan.

Meski demikian, realisasi bantuan masih menjadi hal yang dinantikan petani.

Di tengah sungai yang mengering dan lahan yang belum kembali ditanami, petani membutuhkan solusi yang dapat diterapkan sesuai kondisi sumber air di masing-masing wilayah.

Pompanisasi diharapkan membantu memperluas akses pengairan apabila tersedia sumber air yang layak dimanfaatkan.

Namun, efektivitas program tetap bergantung pada ketersediaan air, kondisi lahan, serta ketepatan penyaluran kepada kelompok tani yang terdampak.

Petani Didorong Kembali Menanam pada Oktober–Desember

Di tengah tekanan kekeringan, pemerintah daerah mendorong petani bawang merah untuk kembali melakukan penanaman pada periode Oktober hingga Desember 2026.

Harapan tersebut didasarkan pada perkiraan datangnya hujan pada November, sebagaimana disampaikan Ikbar dengan merujuk prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

“Kita tidak sarankan berhenti menanam, justru kita mendorong ada pertanaman di bulan Oktober sampai Desember, mudah-mudahan kondisi hujan sesuai prediksi BMKG di bulan November. Apalagi sudah ada petani yang mulai olah lahan di sentra bawang merah,” kata Ikbar.

Sejumlah petani disebut mulai mengolah lahan sebagai persiapan untuk kembali menanam.

Namun, keputusan untuk melanjutkan budidaya tetap berkaitan erat dengan kepastian pasokan air.

Hujan yang diharapkan datang pada November menjadi salah satu faktor yang dinantikan untuk memulihkan aktivitas pertanian.

Bagi petani seperti TT, kembalinya hujan berpotensi membuka kesempatan untuk kembali menggarap lahan.

Akan tetapi, setelah produksi merosot dan kegiatan tanam terhenti selama berbulan-bulan, keberlanjutan usaha pertanian juga membutuhkan dukungan yang sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Ketersediaan air menjadi faktor penting agar petani tidak kembali menghadapi risiko kehilangan hasil akibat kekeringan.

Selain itu, realisasi bantuan pompanisasi dan ketepatan sasaran penerimanya akan menjadi bagian dari upaya mendukung pemulihan produksi bawang merah di Kecamatan Alla.

Kondisi di Sudu memperlihatkan bahwa dampak kemarau terhadap pertanian tidak berhenti pada penurunan hasil panen.

Ketika sumber air mengering, petani kehilangan kesempatan untuk memulai musim tanam berikutnya.

Karena itu, harapan untuk memulihkan produksi bawang merah di Enrekang kini bertumpu pada ketersediaan air, realisasi bantuan pemerintah, dan kondisi cuaca dalam beberapa bulan mendatang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *