Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia

Abu Erupsi Anak Krakatau Bisa Jadi Tanah Subur, Tapi Prosesnya hingga 100 Tahun

Kabar-Tani.com|- JAKARTA — Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau yang terbawa angin hingga sejumlah wilayah, termasuk Jabodetabek, bukan semata-mata material yang membawa gangguan.

Dalam jangka panjang, endapan vulkanik dapat berubah menjadi tanah yang subur dan mendukung pertanian.

Namun, perubahan itu tidak terjadi dalam waktu singkat.

Material yang dimuntahkan gunung api membutuhkan proses pelapukan panjang sebelum mineral di dalamnya dapat menjadi sumber nutrisi bagi tanaman.

Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran (Unpad), Prof. Dr. Mahfud Arifin, mengatakan mineral yang terkandung dalam material vulkanik akan mengalami pelapukan secara bertahap.

Dari proses inilah berbagai unsur hara dilepaskan dan kemudian dapat dimanfaatkan tanaman.

Bukan Langsung Subur Setelah Erupsi

Abu vulkanik sering dikaitkan dengan tanah yang subur.

Akan tetapi, anggapan bahwa tanah langsung menjadi subur setelah terkena abu erupsi tidak sepenuhnya tepat.

Material vulkanik harus terlebih dahulu mengalami pelapukan.

Proses alamiah tersebut mengubah mineral primer menjadi bentuk yang lebih tersedia bagi tanaman.

Kandungan seperti kalsium, magnesium, natrium, dan kalium menjadi bagian dari unsur yang dapat mendukung kesuburan tanah.

Lamanya proses tersebut dapat berlangsung puluhan hingga sekitar 100 tahun, tergantung karakter material dan kondisi lingkungan.

Pelajaran dari Erupsi Krakatau 1883

Gambaran mengenai proses tersebut terlihat dari kawasan Krakatau. Sekitar satu abad setelah letusan besar Krakatau pada 1883, Prof. Mahfud bersama tim ahli tanah dari Institut Pertanian Bogor (IPB) melakukan penelitian pada 1983.

Penelitian itu menemukan material erupsi yang sebelumnya menutupi kawasan telah berkembang menjadi lapisan tanah dengan ketebalan sekitar 25 sentimeter.

Salah satu cirinya adalah perubahan warna tanah menjadi hitam.

Warna tersebut berkaitan dengan proses pembentukan tanah dan kandungan bahan serta mineral yang telah mengalami perubahan akibat pelapukan.

Temuan itu menunjukkan bahwa tanah subur dari material vulkanik tidak tercipta dalam sekejap.

Alam membutuhkan waktu sangat panjang untuk mengubah endapan hasil letusan menjadi lapisan tanah yang dapat mendukung pertumbuhan tanaman.

Mengapa Tanah Vulkanik Bisa Subur?

Ketika mineral primer dalam material vulkanik mengalami pelapukan, berbagai unsur dilepaskan ke dalam tanah.

Unsur tersebut kemudian menjadi bagian dari lingkungan yang mendukung pertumbuhan tanaman.

Karena itu, kawasan gunung api sering memiliki tanah yang potensial untuk pertanian.

Kondisi tersebut pula yang membuat banyak masyarakat tetap tinggal dan mengembangkan pertanian di sekitar lereng gunung api, meskipun wilayah tersebut memiliki risiko erupsi.

“Walaupun sering meletus, masyarakat selalu merapat karena tanahnya subur untuk pengembangan pertanian,” ujar Mahfud.

Dengan kata lain, gunung api memiliki dua sisi bagi kehidupan masyarakat. Di satu sisi, erupsi dapat menimbulkan bencana.

Di sisi lain, dalam jangka panjang, material vulkaniknya dapat menjadi bagian dari siklus pembentukan tanah yang produktif.

Tidak Semua Tanah Vulkanik Sama Suburnya

Kesuburan tanah vulkanik juga tidak seragam.

Karakter material yang dikeluarkan setiap gunung api berbeda, begitu pula kondisi lingkungan tempat material tersebut mengendap.

Mahfud menjelaskan, material vulkanik di wilayah timur Indonesia cenderung bersifat basaltik atau basa dan relatif kaya unsur nutrisi.

Sementara material vulkanik di wilayah barat lebih banyak memiliki karakter andesitik atau asam.

Perbedaan tersebut membuat tanah yang terbentuk dari material vulkanik dapat memiliki tingkat kesuburan yang berbeda.

Mahfud mencontohkan tanah hasil erupsi Gunung Toba yang menurutnya tidak sesubur tanah dari material Gunung Merapi atau Gunung Semeru.

Ketinggian Juga Mempengaruhi Pembentukan Tanah

Bukan hanya jenis material. Ketinggian wilayah turut mempengaruhi proses pembentukan tanah vulkanik.

Di wilayah dengan ketinggian lebih dari 1.000 meter di atas permukaan laut, suhu yang lebih rendah membuat proses pelapukan berlangsung lebih lambat.

Kondisi ini dapat membuat tanah mempertahankan lebih banyak mineral dan cenderung berwarna lebih gelap.

Sebaliknya, suhu yang lebih tinggi dapat mempercepat pelapukan.

Perbedaan tersebut antara lain terlihat pada karakter tanah di Jatinangor dan Lembang, Jawa Barat.

Keduanya sama-sama berkaitan dengan material vulkanik, tetapi tanah di Jatinangor cenderung berwarna cokelat, sedangkan tanah di Lembang lebih hitam.

Menurut Mahfud, salah satu penyebabnya adalah perbedaan ketinggian yang membuat proses pelapukan berlangsung dengan kecepatan berbeda.

Tanah yang Terbentuk Puluhan Tahun Bisa Hilang dalam Hitungan Tahun

Ada persoalan lain yang tak kalah penting. Tanah vulkanik yang telah terbentuk melalui proses panjang tetap rentan mengalami kerusakan, terutama di wilayah lereng yang curam.

Erosi dapat membawa lapisan tanah subur ke tempat lain.

Jika tidak dikendalikan, tanah yang membutuhkan puluhan bahkan sekitar 100 tahun untuk terbentuk dapat hilang dalam waktu jauh lebih singkat.

Karena itu, pemanfaatan lahan bekas erupsi harus dibarengi konservasi tanah dan air.

Terasering, pengaturan jarak tanam, serta teknik pengelolaan lahan sesuai kondisi lereng menjadi beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengurangi risiko erosi.

“Kalau kena erosi terus, dalam beberapa tahun ke depan akan cepat hilang. Makanya harus disertai teknik konservasi tanah dan air,” kata Mahfud.

Dari Bencana Menjadi Sumber Kehidupan

Material erupsi gunung api pada akhirnya memiliki perjalanan panjang.

Sesaat setelah letusan, abu dan material vulkanik dapat mengganggu aktivitas masyarakat.

Namun, setelah melewati proses alamiah selama bertahun-tahun, material tersebut dapat menjadi bagian dari tanah yang mendukung kehidupan.

Selain untuk pertanian dalam jangka panjang, material vulkanik juga dapat dimanfaatkan lebih cepat sebagai bahan bangunan.

Fenomena itu menjadi salah satu alasan mengapa gunung api dan kehidupan masyarakat Indonesia memiliki hubungan yang erat.

Kesuburan tanah menjadi daya tarik bagi pertanian dan permukiman, sementara potensi erupsi tetap menuntut masyarakat untuk berhati-hati.

Bagi tanah vulkanik, waktu menjadi faktor penting. Kesuburan membutuhkan proses panjang untuk terbentuk, tetapi dapat hilang jauh lebih cepat jika tanah tidak dijaga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *