Kabar-Tani.com|- JAKARTA — Ancaman El Niño kini tak hanya berbicara tentang kekeringan, gagal panen, atau kenaikan harga pangan.
Dampaknya berpotensi merembet ke minuman berwarna hijau yang tengah digandrungi dunia: matcha.
Fenomena iklim tersebut datang ketika industri teh global sudah menghadapi tekanan perubahan iklim.
Pada saat yang sama, permintaan matcha justru melaju.
Kombinasi antara pasokan yang sulit bertambah dan konsumsi yang meningkat membuat komoditas teh bubuk asal Jepang ini menghadapi tekanan dari dua arah.
Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut episode El Niño telah dimulai dan diperkirakan menguat hingga 2027.
Organisasi tersebut juga mengingatkan bahwa pemanasan global dapat memperbesar dampak fenomena iklim itu.
El Niño terjadi ketika suhu permukaan laut di kawasan tengah dan timur Pasifik tropis menghangat.
Dampaknya terhadap atmosfer dapat mengubah pola hujan dan temperatur di berbagai belahan dunia.
Di sejumlah wilayah, kondisi ini meningkatkan risiko kekeringan dan panas ekstrem.
Di wilayah lain, curah hujan justru dapat meningkat.
Bagi pertanian, perubahan tersebut bukan persoalan kecil. Produksi tanaman sangat bergantung pada keseimbangan temperatur, air, dan musim.
FAO memperkirakan perkembangan pasar komoditas pangan global masih sangat dipengaruhi kondisi cuaca, termasuk El Niño.
Tanaman teh termasuk komoditas yang sensitif terhadap perubahan kondisi lingkungan.
Pergeseran temperatur dan pola hujan dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, produktivitas, hingga karakter daun yang dipanen.
Persoalannya tidak berhenti pada volume produksi.
Perubahan iklim juga dapat memengaruhi kualitas hasil panen yang menentukan harga dan karakter rasa teh.
Industri teh memiliki arti penting bagi jutaan pembudidaya kecil di berbagai negara.
Karena itu, gangguan produksi akibat cuaca ekstrem berpotensi menekan bukan hanya pasokan global, tetapi juga pendapatan masyarakat di sentra perkebunan teh.
Tekanan tersebut mulai terlihat di Jepang.
Kenaikan suhu menjadi salah satu tantangan bagi perkebunan teh karena dapat mengganggu produktivitas sekaligus memengaruhi karakter tanaman.
Bagi teh hijau Jepang, persoalan kualitas menjadi semakin penting.
Salah satu karakter yang dicari adalah rasa umami.
Perubahan kondisi tumbuh dapat memengaruhi komposisi senyawa dalam daun dan pada akhirnya mengubah cita rasa teh.
Para peneliti pun mulai mencari jalan keluar.
Salah satu pendekatan yang dikembangkan adalah pemanfaatan genomik untuk menemukan varietas tanaman teh yang lebih mampu bertahan menghadapi suhu tinggi.
Matcha Tak Bisa Diproduksi Seketika
Ancaman terhadap teh menjadi lebih serius ketika dikaitkan dengan matcha.
Sebab, matcha bukan sekadar teh hijau yang dihaluskan.
Bahan baku matcha berkualitas berasal dari tencha, yakni daun teh dari tanaman Camellia sinensis yang dibudidayakan dengan perlakuan khusus.
Tanaman biasanya dinaungi sebelum panen untuk menghasilkan karakter daun yang sesuai.
Setelah dipetik, daun dikukus, dikeringkan, lalu digiling hingga menjadi bubuk halus.
Proses tersebut membuat pasokan matcha tidak mudah dinaikkan dalam waktu singkat.
Tanaman teh membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mencapai kondisi produksi yang optimal.
Sementara itu, matcha berkualitas tinggi hanya dapat dipanen pada periode tertentu dengan standar pengolahan yang ketat.
Artinya, ketika permintaan mendadak melonjak, produsen tidak bisa serta-merta menambah pasokan seperti meningkatkan produksi barang manufaktur.
Di Jepang, persoalan itu diperumit oleh kondisi iklim. Suhu yang semakin tinggi dan curah hujan yang tidak menentu telah menambah tekanan terhadap sejumlah daerah penghasil teh.
Lahan Teh Jepang Terus Menyusut
Ada persoalan lain yang tak kalah penting: struktur industri teh Jepang sendiri.
Mengutip Nikkei Asia, luas panen teh di sejumlah daerah penghasil utama Jepang menyusut sekitar 29 persen dalam satu dekade.
Penurunan tersebut terjadi bersamaan dengan berkurangnya jumlah petani dan semakin menuanya tenaga kerja di sektor perkebunan teh.
Kondisi ini menciptakan persoalan struktural.
Ketika permintaan matcha meningkat, Jepang tidak memiliki ruang yang cukup besar untuk dengan cepat memperluas produksi.
Petani juga menghadapi persoalan regenerasi.
Tanaman membutuhkan waktu untuk menghasilkan daun, sedangkan tenaga kerja dan lahan perkebunan semakin terbatas.
Karena itu, lonjakan permintaan matcha global tidak otomatis dapat dijawab dengan penambahan produksi.
Lima Produsen Matcha yang Menonjol
Peringkat| Negara/Wilayah| Keterangan
1| Jepang| Produsen dan eksportir utama matcha premium, dengan sentra seperti Uji, Nishio, Shizuoka, dan Kagoshima.
2| Cina| Memiliki produksi teh dalam volume besar dan memasok berbagai kebutuhan pasar, terutama segmen massal serta produk olahan.
3| Korea Selatan| Produksinya relatif kecil, tetapi berkembang untuk memenuhi pasar domestik dan ceruk ekspor.
4| Taiwan| Produsen relatif kecil dengan perkembangan terutama pada segmen teh premium dan pasar lokal.
5| India| Mulai mengembangkan produksi teh hijau bergaya matcha, antara lain di Assam dan Nilgiri.
Jepang tetap memiliki posisi khusus karena reputasi matcha premium sangat erat dengan wilayah dan metode produksi di negara tersebut.
Nama seperti Uji di Kyoto dan Nishio di Aichi telah lama diasosiasikan dengan teh hijau berkualitas tinggi.
Harga Tencha Sudah Melonjak
Tekanan terhadap pasokan bahkan telah tercermin pada harga bahan baku.
Harga tencha dilaporkan melonjak sekitar 220 persen pada 2025, seiring meningkatnya permintaan dan terbatasnya pasokan.
Kenaikan itu terjadi ketika industri menghadapi sejumlah kendala sekaligus: keterbatasan lahan, berkurangnya tenaga kerja, usia petani yang semakin tua, serta cuaca yang semakin sulit diprediksi.
El Niño kemudian hadir sebagai faktor tambahan.
Fenomena tersebut memang tidak serta-merta berarti harga matcha pasti naik.
Harga komoditas dipengaruhi banyak faktor, mulai dari produksi, persediaan, permintaan, biaya tenaga kerja, hingga perdagangan internasional.
Namun, jika kondisi iklim kembali menekan produksi teh Jepang ketika permintaan global masih tinggi, ruang bagi pasar untuk menambah pasokan menjadi semakin sempit.
Dalam situasi seperti itu, matcha premium berpotensi menghadapi harga yang tetap tinggi atau bahkan kembali meningkat.
Matcha dan Masa Depan di Tengah Perubahan Iklim
Ledakan popularitas matcha selama beberapa tahun terakhir memperlihatkan paradoks baru dalam industri pangan global.
Ketika konsumen dunia semakin menyukai minuman dan makanan berbahan matcha, kemampuan produsen untuk memenuhi permintaan justru menghadapi berbagai batas.
Perubahan iklim membuat persoalannya semakin rumit.
El Niño mungkin hanya berlangsung sebagai episode iklim, tetapi industri teh harus menghadapi persoalan yang lebih panjang: kenaikan suhu rata-rata, perubahan pola hujan, keterbatasan lahan, serta regenerasi petani.
Dengan kata lain, tantangan matcha bukan sekadar apakah dunia akan mengalami El Niño.
Pertanyaan yang lebih besar adalah apakah industri teh Jepang mampu mempertahankan produksi dan kualitas ketika lingkungan tempat tanaman itu tumbuh terus berubah.
Jika permintaan global terus meningkat sementara produksi sulit mengikuti, secangkir matcha premium mungkin akan semakin mahal—bukan karena sekadar tren, melainkan karena daun teh yang menjadi bahan dasarnya semakin sulit diperoleh.



