Kabar-Tani.com|- LAMONGAN — Suara mesin pengangkut gabah berpacu di tengah sawah Desa Truni, Kecamatan Babat, Lamongan, Jawa Timur.
Bukan untuk mengejar hasil panen, melainkan berlomba menjadi yang tercepat dalam balap ojek gabah, Rabu (16/9/2026).
Lomba unik itu digelar warga untuk memeriahkan panen raya.
Sebanyak enam tim yang terdiri atas 24 peserta ambil bagian. Setiap tim beranggotakan empat orang.
Lintasan sawah yang basah menjadi tantangan tersendiri.
Peserta harus mengendalikan kendaraan pengangkut gabah sambil membawa muatan hasil panen.
Bagi penonton, aksi tersebut menghadirkan hiburan yang mengundang sorak-sorai.
Bupati Lamongan Yuhronur Efendi turut menyaksikan perlombaan.
Ia mengibaratkan lintasan sawah dalam balap ojek gabah seperti sirkuit balap.
“Seru sekali ya. Kelihatannya memang gampang, tapi ternyata kalau belum pernah mencoba sirkuit, ya tentu belum bisa seperti tadi,” ujar Yuhronur.
Ojek Gabah, Profesi Penting Petani
Di balik keseruan lomba, Yuhronur mengingatkan peran penting pengojek gabah bagi petani.
Mereka mengangkut hasil panen dari area persawahan menuju tepi jalan, terutama di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan berukuran besar.
“Kalau tidak ada ojek gabah ini kita juga tidak bisa mengangkut sampai ke pinggir jalan. Dan ini memerlukan keahlian khusus untuk ojek gabah,” katanya.
Menurut dia, pekerjaan tersebut juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat.
Pengojek gabah dapat mengangkut hingga empat sak glangsing. Yuhronur menyebut jasa pengangkutan satu ton gabah bisa bernilai Rp1 juta.
Peserta Akui Lintasan Tidak Mudah
Ahmad Santoso, salah seorang peserta, mengaku baru pertama kali mengikuti balap ojek gabah.
Ia bersama teman-temannya tertarik karena lomba digelar bertepatan dengan panen raya.
“Lumayan sulit karena medannya agak basah, sama bawa gabah juga. Berat, tapi seru,” ujar Ahmad.
Bagi warga Desa Truni, balap ojek gabah bukan sekadar perlombaan.
Kegiatan ini menjadi cara merayakan panen, menghibur petani, sekaligus menghidupkan suasana desa.
Warga berharap tradisi tersebut dapat kembali digelar pada masa panen berikutnya.



