KIabar-Tani.com| – GUNUNGKIDUL – Modernisasi pertanian dan pelestarian warisan pangan lokal menjadi dua agenda yang berjalan beriringan dalam Gelar Potensi Pertanian Kabupaten Gunungkidul 2026.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Dinas Pertanian dan Pangan menggelar kegiatan ini untuk memperkenalkan potensi komoditas unggulan, mendorong inovasi teknologi, sekaligus memperluas peluang pasar bagi petani dan pelaku usaha pangan.
Kegiatan yang berlangsung di kompleks Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Gunungkidul, Selasa, 22 September 2026, tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Tani Nasional ke-66, Hari Jadi Kabupaten Gunungkidul ke-196, serta Bulan Bakti Peternakan.
Dengan mengusung tema “Petani Tangguh Menghadapi Perubahan Iklim: Maju, Mandiri, Modern untuk Pertanian Berkelanjutan,” gelaran ini menempatkan petani sebagai aktor utama dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan perkembangan teknologi pertanian.
Di tengah tuntutan efisiensi produksi, pemerintah daerah juga menaruh perhatian pada regenerasi petani dan keberlanjutan komoditas pangan yang menjadi bagian dari identitas masyarakat Gunungkidul.
Menguatkan Petani di Tengah Tantangan Perubahan Iklim
Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul, Rismiyadi, mengatakan Gelar Potensi Pertanian 2026 dirancang untuk memperlihatkan beragam hasil pertanian sekaligus membuka ruang bagi inovasi dan kerja sama pemasaran.
Menurut dia, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi ajang pameran komoditas unggulan, tetapi juga sarana untuk mempertemukan kelompok tani dan pelaku UMKM olahan pangan dengan peluang pengembangan usaha.
“Gelaran ini bertujuan untuk menampilkan hasil komoditas unggulan, mendorong inovasi teknologi tepat guna, serta memperkuat jejaring pasar bagi kelompok tani dan UMKM olahan pangan di seluruh Kapanewon,” ujar Rismiyadi.
Pameran potensi pertanian itu diikuti 22 peserta.
Kehadiran para peserta mencerminkan upaya memperkenalkan keragaman produk pertanian dan olahan pangan dari berbagai wilayah di Gunungkidul.
Penguatan jejaring pasar menjadi salah satu aspek penting dalam pengembangan sektor pertanian.
Hasil produksi petani tidak cukup hanya meningkat dari sisi kuantitas, tetapi juga membutuhkan akses pemasaran, pengolahan, dan nilai tambah agar mampu menopang kesejahteraan keluarga petani.
Petani Milenial dan Teknologi Alsintan Jadi Perhatian
Regenerasi petani menjadi salah satu isu yang mendapat sorotan dalam acara tersebut.
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mendorong generasi muda untuk melihat pertanian sebagai sektor yang dapat dikembangkan melalui pemanfaatan teknologi modern.
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, mengajak petani muda untuk mulai menggunakan alat dan mesin pertanian (Alsintan).
Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat membantu meningkatkan efisiensi proses budidaya sekaligus membuat aktivitas pertanian lebih menarik bagi generasi berikutnya.
Dorongan terhadap petani milenial tidak hanya berkaitan dengan penggunaan peralatan modern.
Regenerasi juga menyangkut keberlanjutan pengetahuan, keterampilan, dan pengelolaan usaha pertanian agar sektor ini tetap memiliki penerus.
Penggunaan Alsintan dapat menjadi bagian dari upaya mengurangi beban pekerjaan manual, mengefisienkan waktu, dan mendukung pengelolaan pertanian yang lebih adaptif.
Penerapannya tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, kebutuhan komoditas, dan kemampuan petani.
Beras Merah Pari Senggreng, Warisan Lokal di Tengah Modernisasi
Di balik semangat mendorong pertanian modern, Bupati Endah juga mengingatkan pentingnya menjaga kearifan lokal.
Salah satu yang disoroti adalah beras merah Pari Senggreng, yang disebut sebagai ikon sekaligus warisan budaya nenek moyang Gunungkidul.
“Di tengah dorongan modernisasi, saya juga mengingatkan pentingnya menjaga kearifan lokal, seperti pelestarian beras merah Pari Senggreng yang merupakan ikon dan warisan budaya nenek moyang Gunungkidul,” ujar Bupati.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pengembangan pertanian tidak harus mengesampingkan komoditas lokal.
Inovasi teknologi dan pelestarian sumber daya pangan tradisional dapat ditempatkan dalam satu agenda pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
Beras merah Pari Senggreng menjadi salah satu contoh bagaimana komoditas lokal memiliki nilai lebih dari sekadar produk pertanian.
Di dalamnya terdapat aspek tradisi, pengetahuan masyarakat, dan identitas pangan yang perlu dijaga keberlangsungannya.
Pelestarian komoditas lokal juga membutuhkan dukungan dari berbagai sisi, mulai dari budidaya, pengenalan produk, pengolahan, hingga akses pasar.
Dengan demikian, warisan pangan dapat tetap dipertahankan sekaligus memiliki ruang untuk berkembang dalam perekonomian modern.
Teknologi Tepat Guna hingga Layanan Vaksin Gratis
Gelar Potensi Pertanian Gunungkidul 2026 turut menampilkan sejumlah inovasi teknologi tepat guna.
Salah satu yang diperkenalkan adalah teknologi untuk menanam padi secara presisi tanpa menggunakan mesin manual, sebagaimana disampaikan dalam rangkaian informasi kegiatan.
Inovasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkenalkan pendekatan pertanian yang lebih efisien.
Teknologi presisi dalam budidaya padi dapat mendukung ketepatan proses tanam, meskipun manfaat dan penerapannya perlu disesuaikan dengan karakteristik lahan serta kondisi lapangan.
Selain sektor tanaman pangan, gelaran ini juga menghadirkan pameran hasil peternakan dan layanan kesehatan hewan. D
inas Pertanian dan Pangan memberikan fasilitas vaksinasi gratis bagi para peternak melalui Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan).
Layanan tersebut memperlihatkan bahwa penguatan pertanian juga berkaitan dengan kesehatan dan produktivitas subsektor peternakan.
Pendampingan kesehatan hewan menjadi salah satu unsur yang mendukung keberlanjutan usaha peternak.
Kehadiran layanan vaksinasi dalam kegiatan publik juga memberikan kesempatan bagi peternak untuk memperoleh akses pelayanan kesehatan hewan dalam rangkaian agenda pertanian daerah.
Puncak Acara Diisi Pengajian dan Doa Bersama Meminta Hujan
Rangkaian Gelar Potensi Pertanian Gunungkidul 2026 dijadwalkan berlangsung pada 22–23 September 2026 dan mencapai puncaknya pada 24 September 2026.
Pada puncak kegiatan, pemerintah daerah merencanakan pengajian dan doa bersama untuk meminta hujan.
Agenda tersebut ditujukan sebagai bentuk ikhtiar dan harapan bagi para petani serta peternak Gunungkidul dalam menghadapi musim tanam mendatang.
Rencana doa bersama ini juga memperlihatkan sisi sosial dan kultural dalam kehidupan agraris masyarakat Gunungkidul.
Pertanian tidak hanya berkaitan dengan teknologi, produksi, dan pasar, tetapi juga dengan kondisi alam yang berpengaruh terhadap keberlangsungan kegiatan budidaya.
Perubahan iklim menjadi tantangan yang perlu dihadapi melalui berbagai pendekatan, termasuk penguatan teknologi, adaptasi budidaya, pengelolaan sumber daya air, dan dukungan bagi petani.
Tani Makmur dan UMKM Berdaya, Arah Penguatan Ekonomi Pertanian
Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menyatakan komitmennya untuk memperkuat posisi petani melalui program strategis Tani Makmur dan UMKM Berdaya.
Kedua program tersebut ditempatkan dalam kerangka upaya mewujudkan kedaulatan pangan di wilayah Gunungkidul.
Penguatan sektor pertanian tidak hanya dipandang dari sisi produksi, tetapi juga dari kemampuan pelaku usaha dalam mengembangkan produk dan meningkatkan nilai ekonomi.
Bagi kelompok tani, dukungan terhadap pemasaran dan inovasi dapat menjadi bagian dari pengembangan usaha pertanian.
Sementara itu, UMKM olahan pangan memiliki ruang untuk mengolah hasil komoditas lokal menjadi produk dengan nilai tambah.
Integrasi antara produksi pertanian, pengolahan pangan, dan akses pasar menjadi salah satu aspek yang relevan dalam pengembangan ekonomi berbasis potensi daerah.
Melalui Gelar Potensi Pertanian 2026, Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mempertemukan sejumlah agenda pembangunan: modernisasi pertanian, regenerasi petani, penguatan peternakan, dan pelestarian pangan lokal.
Tantangan ke depan adalah bagaimana berbagai potensi tersebut dapat terus dikembangkan secara berkelanjutan, sehingga pertanian tidak hanya menjadi penopang kebutuhan pangan, tetapi juga membuka peluang ekonomi bagi generasi petani berikutnya.



