Kabar-Tani.com | – SLEMAN — Tumpukan galon bekas yang semula menjadi limbah kini berubah menjadi kebun sayur produktif di SD Negeri Purwosari, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Lebih dari 500 galon dimanfaatkan sebagai pot untuk menanam beragam sayuran.
Di sisi lapangan hingga depan ruang kelas, galon-galon bekas itu ditata menjadi media tanam.
Cabai, tomat, terong, timun, sawi, kacang panjang, hingga kacang tanah tumbuh di dalamnya.
Program tersebut digagas Kepala SDN Purwosari, Zaenuri, sejak Juli 2026.
Ide itu muncul setelah sekolah melihat banyaknya galon bekas yang terus menumpuk akibat aktivitas sekolah dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Ada sekitar 500 lebih galon. Di sekolah kita itu banyak limbah galon per minggu karena ada enam kelas dan satu ruang guru,” kata Zaenuri, Rabu, 7 Oktober 2026.
Alih-alih dibuang, galon tersebut diubah menjadi bagian dari program diversifikasi kurikulum bertema ketahanan pangan.
Para siswa tidak sekadar belajar teori, tetapi terlibat langsung dalam proses bercocok tanam.
Kebun Galon Jadi Laboratorium Belajar Siswa
Sekolah membagi area kebun menjadi enam kapling. Masing-masing kapling dikelola satu kelas dengan pendampingan guru dan paguyuban kelas.
Pembelajaran tidak berhenti pada pertanian.
SDN Purwosari mengembangkan konsep integrated farm yang menghubungkan pertanian dengan perikanan dan peternakan.
Siswa dikenalkan sejak tahap penyemaian benih, menyiapkan media tanam, merawat tanaman, membuat pupuk organik, hingga mengelola hasil panen.
Menariknya, sekolah mengklaim program tersebut dapat dimulai tanpa anggaran khusus.
Tanah diambil dari lingkungan sekolah, sedangkan bibit awal disemai sendiri oleh warga sekolah.
“Kita memberikan pendidikan tentang pertanian kepada anak-anak. Ini pendidikannya terpadu, terintegrasi dengan perikanan dan peternakan,” ujar Zaenuri.
Konsep tersebut sekaligus menjadikan lingkungan sekolah sebagai ruang belajar terbuka.
Anak-anak dapat melihat secara langsung bagaimana makanan diproduksi sebelum akhirnya sampai ke meja makan.
Limbah MBG Diubah Menjadi Pupuk Organik
Persoalan limbah dari program MBG yang sempat menjadi tantangan justru dimanfaatkan sekolah sebagai sumber bahan pupuk.
Sisa makanan dan sampah organik dipilah.
Limbah yang dapat terurai dimasukkan ke dalam komposter untuk menghasilkan pupuk organik cair.
Bahan komposter tidak hanya berasal dari sisa MBG.
Daun tua, buah yang membusuk, serta limbah organik dari dapur sekolah turut dimanfaatkan.
Dalam sepekan, sekolah dapat menghasilkan sekitar satu ember pupuk organik cair berkapasitas 25 kilogram.
Pupuk tersebut kemudian dicampur dengan air sebelum diaplikasikan ke tanaman.
“Satu minggunya bisa menghasilkan satu ember. Kita tidak hanya menggunakan MBG, tetapi juga dedaunan yang sudah tua, buah yang busuk, dan limbah dari dapur sekolah,” kata Zaenuri.
Pemanfaatan limbah ini juga memberikan dampak lain.
Menurut Zaenuri, siswa justru semakin memahami pentingnya menghargai makanan setelah terlibat langsung dalam proses bercocok tanam.
Kesadaran itu ikut membantu mengurangi sisa makanan dari MBG.
Meski begitu, limbah seperti kulit buah yang memang tidak dapat dikonsumsi tetap dikumpulkan untuk bahan komposter.
Panen Sayur Mencapai 5 Kilogram Tiap Dua Hari
Kebun galon yang awalnya dibuat sebagai sarana pembelajaran ternyata berkembang menjadi sumber hasil pangan bagi sekolah.
Dengan jumlah tanaman yang mencapai ratusan, sekolah dapat memanen sekitar lima kilogram sayuran setiap dua hari.
Komoditas yang dipanen antara lain tomat, timun, kacang panjang, dan cabai.
Sebagian hasil panen digunakan untuk kegiatan cooking class.
Setiap kelas memasak menggunakan sayuran yang mereka tanam dan rawat sendiri.
Namun, hasil panen yang melimpah membuat sekolah mulai memasarkannya kepada masyarakat sekitar.
Pembelinya bukan hanya wali siswa.
Sejumlah pelaku usaha kuliner seperti pedagang pecel lele dan angkringan mulai tertarik membeli sayuran hasil kebun sekolah.
Bahkan, beberapa pembeli mulai melakukan pemesanan lebih awal karena produksi sejumlah komoditas belum mampu memenuhi permintaan.
“Hampir setiap dua hari sekali kita panen. Hasil panennya ada yang kita pasarkan dan alhamdulillah laku keras. Bahkan ada yang sudah inden,” ujar Zaenuri.
Cabai menjadi salah satu komoditas yang permintaannya cukup tinggi.
Sekolah bahkan mengaku sempat mengalami kekurangan stok untuk memenuhi kebutuhan pembeli.
Dari Galon Bekas, Sekolah Raup Hampir Rp1 Juta
Aktivitas berkebun tersebut akhirnya tidak hanya memberikan manfaat edukasi dan lingkungan, tetapi juga menghasilkan pemasukan.
Dari penjualan hasil panen yang dilakukan berulang kali, sekolah telah mengumpulkan hampir Rp1 juta.
Pengelolaan hasil penjualan dilakukan oleh masing-masing kelas dengan pendampingan guru.
Dana tersebut kemudian dikembalikan untuk kepentingan kelas dan keberlanjutan program.
Sebagian digunakan untuk membeli benih dan kebutuhan pemeliharaan tanaman.
Jika masih terdapat sisa, dana dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan kegiatan kelas.
Bagi SDN Purwosari, kebun galon bukan sekadar proyek penghijauan.
Program ini menjadi contoh bagaimana limbah sekolah dapat diubah menjadi media pembelajaran, sumber pangan, sekaligus peluang ekonomi.
Dari galon bekas yang semula dianggap tidak berguna, para siswa belajar tentang pertanian, pengelolaan sampah, kewirausahaan, hingga menghargai makanan.
Program sederhana itu menunjukkan bahwa pendidikan ketahanan pangan dapat dimulai dari lingkungan sekolah, bahkan tanpa membutuhkan modal besar.



