Kabar-Tani.com | – JAKARTA — Sisa sayuran, kulit buah, hingga ampas kopi yang setiap hari dibuang ke tempat sampah ternyata memiliki manfaat bagi lingkungan.
Jika diolah dengan benar, limbah dapur tersebut dapat menjadi pupuk kompos organik yang menyuburkan tanaman sekaligus membantu mengurangi timbunan sampah rumah tangga.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa sisa makanan menjadi salah satu penyumbang terbesar komposisi sampah di Indonesia, dengan proporsi sekitar 40 persen berdasarkan data yang dikutip dalam laporan terkait.
Masalah muncul ketika sampah organik langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir (TPA).
Dalam kondisi minim oksigen, bahan organik membusuk dan menghasilkan gas metana (CH₄), salah satu gas rumah kaca yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
Laporan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bersama World Resources Institute (WRI) Indonesia pada 2021 juga menyoroti besarnya dampak kehilangan dan pemborosan pangan terhadap emisi gas rumah kaca di Indonesia.
Karena itu, mengolah sampah dapur menjadi kompos bisa menjadi langkah sederhana untuk mengurangi limbah sekaligus menghasilkan pupuk alami bagi tanaman di rumah.
Bahan untuk Membuat Kompos dari Sampah Dapur
Sebelum memulai proses pengomposan, siapkan bahan organik yang mudah terurai.
Secara umum, bahan kompos dibagi menjadi dua kelompok, yakni bahan hijau yang kaya nitrogen dan bahan cokelat yang kaya karbon.
Bahan hijau meliputi sisa potongan sayuran, kulit buah, ampas kopi, kantong teh tanpa bahan sintetis, serta rumput segar.
Sementara itu, bahan cokelat dapat berupa daun kering, sekam padi, potongan kardus tanpa lapisan plastik, dan serbuk kayu yang tidak tercampur bahan kimia berbahaya.
Cangkang telur yang telah dihancurkan juga dapat ditambahkan sebagai sumber kalsium.
Untuk menghindari bau tidak sedap, hindari memasukkan daging, tulang, ikan, produk susu, minyak, serta makanan berminyak ke komposter rumah tangga sederhana.
Bahan tersebut berpotensi mengundang hama dan menyulitkan pengelolaan kompos.
Cara Membuat Pupuk Kompos di Rumah
Pembuatan kompos skala rumah tangga dapat dilakukan menggunakan metode aerob, yaitu proses penguraian bahan organik dengan bantuan oksigen.
Metode ini membantu mengurangi risiko bau menyengat apabila kelembapan dan sirkulasi udara terjaga.
Berikut tahapan pembuatannya.
1. Siapkan wadah komposter
Gunakan ember bekas, drum kecil, atau pot besar yang dapat menampung sampah organik.
Buat sejumlah lubang kecil pada bagian samping dan dasar wadah untuk membantu sirkulasi udara serta pembuangan cairan berlebih.
Letakkan komposter di atas tatakan penampung cairan dan pilih tempat teduh yang tidak terkena hujan secara langsung.
2. Masukkan bahan cokelat sebagai lapisan dasar
Letakkan ranting kecil, sekam, atau daun kering setebal sekitar 5–10 sentimeter di bagian bawah.
Lapisan ini membantu menjaga ruang udara dan mencegah bagian dasar terlalu basah.
3. Cacah sampah dapur menjadi potongan kecil
Potong kulit buah dan sisa sayuran menjadi bagian berukuran sekitar 2–3 sentimeter.
Potongan yang lebih kecil umumnya lebih cepat terurai karena memiliki permukaan yang lebih luas untuk aktivitas mikroorganisme.
4. Susun bahan hijau dan bahan cokelat secara bergantian
Masukkan sampah dapur, kemudian tutup dengan bahan cokelat seperti daun kering atau potongan kardus tanpa lapisan plastik.
Sebagai titik awal, gunakan sekitar dua bagian bahan cokelat untuk satu bagian bahan hijau berdasarkan volume.
Perbandingan tersebut dapat disesuaikan dengan kondisi kompos. Jika tumpukan terlalu basah atau berbau, tambahkan bahan cokelat.
Jika terlalu kering, tambahkan sedikit bahan hijau atau air.
5. Tambahkan bioaktivator jika diperlukan
Bioaktivator seperti EM4 pertanian dapat digunakan sesuai petunjuk pada kemasan.
Bahan ini bersifat opsional karena penguraian tetap dapat berlangsung dengan bantuan mikroorganisme alami.
6. Tutup komposter dengan benar
Akhiri setiap penambahan sampah dengan lapisan bahan cokelat.
Tutup wadah untuk mengurangi gangguan lalat dan hewan, tetapi pastikan lubang aerasi tidak tertutup sehingga udara tetap dapat masuk.
Perawatan Kompos agar Tidak Bau
Pengomposan tidak cukup hanya dengan mencampur sampah dan menutup wadah.
Kelembapan serta ketersediaan oksigen perlu diperhatikan agar proses penguraian berjalan dengan baik.
Aduk tumpukan sekitar satu kali seminggu untuk membantu memasukkan oksigen dan meratakan bahan.
Frekuensi pengadukan dapat disesuaikan dengan kondisi komposter.
Periksa kelembapannya dengan menggenggam sedikit bahan kompos.
Kondisi ideal menyerupai spons yang telah diperas: terasa lembap, tetapi tidak mengeluarkan air berlebihan.
Jika kompos terlalu basah, tambahkan daun kering, sekam, atau kardus tanpa lapisan plastik.
Sebaliknya, apabila terlalu kering, percikkan air secukupnya.
Bau busuk yang menyengat biasanya menjadi tanda bahwa tumpukan terlalu basah, kekurangan oksigen, atau mengandung bahan yang tidak sesuai.
Perbaiki kondisi tersebut dengan menambahkan bahan cokelat dan mengaduk kompos.
Berapa Lama Kompos Siap Digunakan?
Kompos rumah tangga umumnya membutuhkan waktu beberapa minggu hingga beberapa bulan untuk matang.
Lama proses bergantung pada jenis bahan, ukuran potongan, kelembapan, suhu, dan pengelolaan aerasi.
Rentang 4–8 minggu mungkin tercapai dalam kondisi yang mendukung, tetapi tidak berlaku untuk semua komposter.
Kompos yang siap digunakan memiliki beberapa ciri.
Warnanya berubah menjadi cokelat tua hingga kehitaman, teksturnya gembur, dan sebagian besar bahan awal tidak lagi mudah dikenali.
Aromanya menyerupai tanah, bukan bau asam atau busuk.
Selain itu, suhu tumpukan sudah stabil dan tidak lagi terasa hangat akibat penguraian aktif.
Jika kompos masih panas atau berbau menyengat, biarkan proses pematangan berlanjut.
Cara Menggunakan Kompos untuk Tanaman
Setelah matang, kompos dapat diayak untuk memisahkan bagian yang belum terurai.
Sisa bahan berukuran besar dapat dimasukkan kembali ke komposter.
Untuk tanaman hias dan sayuran dalam pot, kompos dapat dicampurkan ke media tanam.
Perbandingan satu bagian kompos dengan tiga bagian tanah bisa digunakan sebagai titik awal, lalu disesuaikan dengan jenis tanaman dan karakteristik media.
Kompos membantu menambah bahan organik, memperbaiki struktur tanah, mendukung aktivitas mikroorganisme, serta meningkatkan kemampuan tanah menahan air.
Namun, kebutuhan nutrisi setiap tanaman berbeda sehingga kompos tidak selalu dapat menggantikan seluruh kebutuhan pupuk.
Mengolah sampah dapur menjadi kompos bukan hanya membantu mengurangi volume sampah yang dibuang, tetapi juga memberikan manfaat langsung bagi pekarangan rumah.
Kebiasaan sederhana ini dapat menjadi bagian dari pengelolaan sampah yang lebih bertanggung jawab, dimulai dari dapur sendiri.



