Kabar-Tani.com | – YOGYAKARTA – Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sri Sultan Hamengku Buwono X meminta Pemerintah Kabupaten Gunungkidul mengarahkan pembangunan daerah dengan mengoptimalkan potensi ekonomi lokal, terutama sektor pertanian.
Menurut Sultan, industrialisasi tidak seharusnya menjadi tumpuan utama karena keberhasilannya sangat bergantung pada minat dan keputusan investor.
Sultan menilai Gunungkidul memiliki sumber daya yang dapat dikembangkan untuk memperkuat perekonomian masyarakat tanpa harus selalu mengandalkan pembangunan industri manufaktur.
Pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, serta usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dinilai dapat menjadi fondasi pembangunan yang lebih dekat dengan kebutuhan warga.
Pesan tersebut disampaikan Sultan seusai menghadiri upacara Hari Jadi ke-196 Kabupaten Gunungkidul di Alun-alun Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Rabu, 14 Oktober 2026.
Sultan mengingatkan pemerintah daerah agar tidak menempatkan industrialisasi sebagai satu-satunya jalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Kehadiran industri, kata dia, belum tentu menjamin masyarakat setempat memperoleh kesempatan kerja secara luas.
“Jangan harap untuk industrialisasi ya. Karena dengan industri itu tergantung kemauan dari investor,” ujar Sultan.
Ia kemudian menekankan pentingnya mengembalikan perhatian pembangunan kepada sektor pertanian yang disebutnya sebagai Dewi Sri, simbol kemakmuran dan kesuburan dalam tradisi agraris masyarakat Jawa.
Menurut Sultan, pengembangan pertanian perlu menjadi prioritas agar manfaat pembangunan dapat dirasakan langsung oleh petani dan masyarakat yang menggantungkan hidup pada pengelolaan sumber daya alam.
Pertanian Gunungkidul Dinilai Lebih Dekat dengan Kebutuhan Masyarakat
Arahan Sultan menyoroti persoalan mendasar dalam pembangunan daerah: pertumbuhan ekonomi tidak cukup diukur dari banyaknya investasi yang masuk, tetapi juga dari seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat lokal.
Industrialisasi memang berpotensi membuka lapangan pekerjaan dan menggerakkan aktivitas ekonomi.
Namun, kesempatan tersebut tidak otomatis dapat diakses seluruh warga.
Kebutuhan tenaga kerja, keterampilan, dan kualifikasi yang ditetapkan perusahaan dapat menjadi faktor pembatas bagi penduduk setempat.
Karena itu, Sultan mendorong Gunungkidul memperkuat sektor yang telah memiliki basis ekonomi di tengah masyarakat.
Pertanian dan peternakan, misalnya, dapat dikembangkan melalui peningkatan produktivitas, pengelolaan lahan yang lebih efektif, serta pendampingan kepada pelaku usaha.
“Jangan ke arah industri karena industri belum tentu tenaga kita juga bisa masuk di sektor itu,” kata Sultan.
Pandangan tersebut menempatkan petani dan pelaku usaha lokal sebagai bagian penting dari strategi pembangunan.
Ketika sektor pertanian berkembang, manfaat ekonominya berpeluang mengalir kepada rumah tangga petani, pekerja di tingkat desa, hingga pelaku usaha yang terhubung dengan rantai pasok hasil pertanian.
Tantangannya adalah memastikan penguatan sektor tersebut tidak berhenti pada peningkatan produksi.
Akses pasar, pengolahan hasil panen, distribusi, teknologi pertanian, dan kestabilan harga juga perlu mendapat perhatian agar nilai tambah komoditas dapat dinikmati masyarakat.
Sultan Dorong Tumpang Sari di Kawasan Kebun Jati
Salah satu hal yang menjadi perhatian Sultan adalah pemanfaatan lahan di kawasan kebun jati Gunungkidul.
Ia menyoroti kondisi lahan di sekitar pohon jati yang kurang dimanfaatkan, terutama ketika kawasan tersebut menghadapi risiko kebakaran pada musim kemarau.
Area yang tidak dikelola secara aktif dapat dipenuhi serasah daun dan material kering.
Apabila dibiarkan menumpuk, bahan-bahan tersebut berpotensi menjadi sumber bahan bakar bagi api ketika terjadi kebakaran.
Sultan menilai pengelolaan lahan yang lebih produktif dapat menjadi salah satu cara untuk mengurangi persoalan tersebut sekaligus memberikan manfaat ekonomi kepada masyarakat.
Ia mengusulkan penanaman tanaman pangan berumur pendek di antara tegakan jati melalui sistem tumpang sari.
Tanaman seperti kacang hijau dan kacang tanah dapat dipertimbangkan sebagai pilihan, dengan menyesuaikan kondisi lahan, ketersediaan air, dan karakteristik kawasan hutan.
“Didorong aja supaya menanam kacang, menanam kacang hijau atau kacang tanah atau yang lain yang relatif pendek,” tutur Sultan.
Menurut dia, pola tumpang sari dapat menjadi alternatif pemanfaatan ruang di antara pohon jati tanpa harus mengorbankan fungsi utama tanaman kehutanan tersebut.
“Dengan tumpang sari di situ tidak akan ada masalah, tidak akan menurunkan kualitas produk dari jati itu sendiri,” ujarnya.
Gagasan tersebut mengandung dua kepentingan sekaligus.
Pertama, lahan yang selama ini kurang produktif dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas tambahan.
Kedua, kegiatan pengelolaan lahan dapat mendorong masyarakat lebih aktif merawat kawasan, termasuk membersihkan material kering yang berpotensi memperbesar risiko kebakaran.
Meski demikian, penerapannya perlu mempertimbangkan status dan aturan pemanfaatan kawasan, terutama jika lahan berada di wilayah hutan yang memiliki ketentuan pengelolaan tersendiri. Pemilihan tanaman juga perlu memperhatikan persaingan air dan unsur hara agar tidak mengganggu pertumbuhan jati.
Jika dirancang dengan tepat, tumpang sari dapat menjadi bagian dari upaya mempertemukan kepentingan ekonomi warga, produktivitas lahan, dan pengelolaan lingkungan.
Gunungkidul Diminta Mengoptimalkan Peternakan, Perikanan, dan Pariwisata
Bupati Gunungkidul Endah Subekti Kuntariningsih membenarkan bahwa Sultan meminta pemerintah kabupaten memperkuat sektor-sektor ekonomi di luar industri manufaktur.
Endah mengatakan arahan tersebut mencakup optimalisasi berbagai potensi yang dimiliki Gunungkidul, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, pariwisata, hingga UMKM. Seluruh sektor tersebut dinilai perlu dikelola secara lebih terarah dan mendapat pendampingan yang memadai.
“Beliau menitipkan banyak hal kepada Pemerintah Kabupaten Gunungkidul bagaimana potensi yang kita miliki, baik itu peternakan, perikanan, pertanian, pariwisata ini untuk bisa dikelola dan juga UMKM. Ini juga untuk didampingi dan tidak harus selalu bergantung kepada industrialisasi,” kata Endah.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan berbasis potensi lokal tidak hanya bertumpu pada satu komoditas.
Gunungkidul memiliki peluang untuk menghubungkan beberapa sektor ekonomi agar saling mendukung.
Hasil pertanian, misalnya, dapat diolah oleh UMKM menjadi produk pangan dengan nilai jual lebih tinggi.
Sektor peternakan dapat diperkuat melalui perbaikan kualitas pakan, pengelolaan hasil ternak, dan perluasan jaringan pemasaran.
Sementara itu, sektor perikanan dapat dikembangkan melalui pengolahan hasil tangkapan maupun budidaya sesuai potensi wilayah.
Pariwisata juga berpeluang memberikan pasar tambahan bagi produk lokal. Pelaku UMKM dapat memasok makanan, kerajinan, dan berbagai produk khas daerah kepada wisatawan.
Dengan demikian, kegiatan ekonomi tidak berdiri sendiri, melainkan membentuk hubungan antara produsen, pengolah, pedagang, dan penyedia jasa.
Namun, potensi tersebut membutuhkan dukungan yang konsisten.
Pendampingan usaha, akses pembiayaan, pemasaran digital, peningkatan kualitas produk, serta kepastian jalur distribusi menjadi beberapa hal yang perlu diperhatikan agar usaha masyarakat dapat berkembang secara berkelanjutan.



