Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia
PETANI  

Kekeringan Prambanan Sleman, 200 Hektare Lahan Pertanian Bero

Kabar-Tani.com| – SLEMAN — Kekeringan yang berlangsung cukup panjang mulai mengubah aktivitas pertanian di Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Minimnya ketersediaan air membuat sebagian petani memilih menunda masa tanam dan membiarkan lahan pertanian mereka dalam kondisi bero.

Keputusan itu diambil karena petani tidak ingin mengambil risiko mengeluarkan biaya besar untuk mengolah lahan tanpa kepastian ketersediaan air.

Di sejumlah wilayah yang bergantung pada hujan, lahan bahkan belum kembali ditanami setelah musim panen sebelumnya.

Panewu Prambanan Purwati mengatakan kondisi pertanian di wilayahnya tidak seragam.

Ketersediaan sumber air menjadi faktor utama yang menentukan apakah petani dapat melanjutkan pengolahan lahan.

Di Wukirharjo, Gayamharjo, dan Sambirejo, misalnya, sebagian besar lahan pertanian masih belum ditanami karena pasokan air belum mencukupi.

“Setelah panen, petani menunggu air untuk mengolah tanah karena debit irigasi tidak cukup,” ujar Purwati, seperti dikutip dari Tribun Jogja, Kamis, 1 Oktober 2026.

Menurut dia, penggunaan pompa air sebenarnya dapat menjadi pilihan.

Namun, cara tersebut membutuhkan biaya tambahan, terutama karena proses pengolahan tanah memerlukan air dalam jumlah cukup besar.

Sekitar 200 Hektare Lahan di Prambanan Masih Bero

Kondisi tersebut menyebabkan ratusan hektare lahan pertanian di Prambanan belum kembali produktif.

Purwati menyebut luas lahan yang masih dalam kondisi bero tersebar di sejumlah kapanewon.

Di Wukirharjo, luasnya diperkirakan mencapai 80 hektare, sedangkan Gayamharjo sekitar 70 hektare dan Sambirejo sekitar 55 hektare.

Lahan yang belum ditanami juga ditemukan di Sumberharjo dan Bokoharjo.

Masing-masing sekitar 30 hektare dan 25 hektare.

Kondisi paling terasa pada lahan yang mengandalkan curah hujan serta kawasan dengan jaringan irigasi yang belum mampu memenuhi kebutuhan air pertanian.

Di Sumberharjo, sebagian petani masih dapat mempertahankan aktivitas pertanian dengan memanfaatkan sumur dangkal.

Sementara di Bokoharjo, sejumlah lahan terpaksa dibiarkan kosong karena pasokan irigasi terbatas dan debit sumur tidak mencukupi.

Bagi petani, menunda penanaman menjadi pilihan yang dinilai lebih aman dibandingkan memaksakan produksi dengan biaya tinggi.

Petani Pilih Menunggu Hujan daripada Menanggung Risiko

Kekeringan yang berkepanjangan membuat petani harus menghitung ulang biaya produksi.

Pompa air memang bisa membantu menyediakan pasokan air, tetapi penggunaannya berpotensi meningkatkan ongkos usaha tani.

Apalagi, kebutuhan air tidak hanya diperlukan ketika tanaman mulai tumbuh.

Pada tahap awal, petani membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mengolah tanah sebelum penanaman.

Karena itu, sebagian petani memilih menunggu hujan atau membaiknya kondisi sumber air.

“Petani memilih tidak melakukan penanaman untuk mengurangi risiko gagal panen dan kerugian usaha tani,” kata Purwati.

Namun, kondisi tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Prambanan.

Di Madurejo, misalnya, kegiatan pertanian masih relatif berjalan karena ketersediaan air lebih baik.

Sejumlah petani bahkan masih dapat mengandalkan pompa untuk memenuhi kebutuhan pengairan lahan.

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa dampak kekeringan di Prambanan sangat dipengaruhi oleh akses terhadap sumber air.

Wilayah dengan jaringan irigasi atau sumber air alternatif masih memiliki peluang mempertahankan masa tanam, sedangkan lahan yang sepenuhnya bergantung pada hujan lebih rentan mengalami penundaan.

Belum Ada Laporan Tanaman Pertanian Masuk Kategori Puso

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Liem Astuti mengatakan pemerintah daerah telah menyiapkan langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang berlangsung panjang.

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai tanaman yang mengalami kerusakan akibat kekurangan air hingga masuk kategori puso.

Pemantauan kondisi pertanian dilakukan melalui petugas penyuluh pertanian dan Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT).

Tingkat kekeringan pada tanaman juga dinilai berdasarkan persentase kerusakan fisik.

Kondisi disebut ringan apabila kerusakan kurang dari 25 persen, sedang ketika kerusakan lebih dari 25 persen, dan berat apabila mencapai lebih dari 50 persen.

Sementara itu, tanaman masuk kategori puso apabila tingkat kerusakannya lebih dari 85 persen hingga menyebabkan tanaman mati atau tidak lagi produktif.

Untuk sementara, petani di wilayah rawan kekeringan masih memilih menunggu perubahan cuaca dan membaiknya ketersediaan air sebelum kembali mengolah lahan.

Bagi mereka, membiarkan sawah bero untuk sementara menjadi pilihan untuk menekan biaya sekaligus menghindari risiko gagal panen di tengah ketidakpastian pasokan air.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *