Kabar-Tani.com | – BANDUNG — Di tengah hamparan kebun cabai di Kamojang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Hendro (29) mencoba membuktikan bahwa bertani bukan sekadar meneruskan tradisi keluarga.
Melalui inovasi pupuk organik yang memanfaatkan panas bumi, ia bersama kelompok taninya berupaya meningkatkan produktivitas lahan sekaligus mencari cara bertani yang lebih efisien.
Di lahan yang dikelolanya, tanaman cabai tumbuh berjajar dengan penyangga bambu. Di sela-selanya, tanaman kentang ikut berkembang.
Pemandangan itu mencerminkan upaya Hendro memaksimalkan potensi lahan pertanian di kawasan dataran tinggi tersebut.
Bagi Hendro, pertanian merupakan sektor yang menjanjikan karena kebutuhan pangan tidak pernah terlepas dari kehidupan masyarakat.
Pilihan menjadi petani juga berangkat dari latar belakang keluarganya.
Orang tua, kakek, dan neneknya telah lebih dahulu menggeluti pekerjaan tersebut.
“Jadi turun-temurun kami bertani,” ujar Hendro saat ditemui di Kamojang.
Namun, ia tidak ingin sekadar mengikuti cara bertani yang diwariskan keluarganya.
Hendro melihat perlunya inovasi untuk menjaga produktivitas lahan, terutama ketika petani menghadapi persoalan pupuk, cuaca, dan ketersediaan air.
Panen Kentang Meningkat Berkat Pupuk Organik
Salah satu perubahan yang dilakukan Hendro bersama kelompok taninya adalah mulai memanfaatkan pupuk organik.
Langkah ini berangkat dari kebutuhan untuk memperbaiki pengelolaan lahan dan mencari alternatif pendukung budidaya tanaman hortikultura.
Selama bertahun-tahun, pupuk kimia menjadi salah satu andalan petani untuk menunjang pertumbuhan tanaman.
Namun, Hendro menilai pengelolaan pupuk perlu terus dikembangkan agar kegiatan pertanian dapat berjalan lebih efektif.
Tantangan muncul ketika kelompok tani mulai memproduksi pupuk organik.
Proses pengeringan menjadi kendala tersendiri karena kondisi cuaca di kawasan Kamojang, yang berada di dataran tinggi, kerap berubah dan menyulitkan proses tersebut.
Pupuk yang tidak kering secara optimal juga berisiko memengaruhi kualitas penggunaannya.
Kondisi ini mendorong kelompok tani mencari metode pengolahan yang lebih konsisten.
Mereka kemudian memperoleh pendampingan dari Pertamina Geothermal Energy (PGE) Area Kamojang.
Melalui program pemberdayaan masyarakat tersebut, kelompok tani mulai menggunakan pupuk organik GeO-Fert yang proses pengeringannya memanfaatkan energi panas bumi secara langsung.
Teknologi ini memangkas waktu pengeringan yang sebelumnya membutuhkan sekitar 14 hari menjadi kurang dari 12 jam.
Percepatan proses tersebut membantu mengurangi ketergantungan pada cuaca sekaligus mendukung kelancaran produksi pupuk.
Pemanfaatan panas bumi di Kamojang pun tidak terbatas pada pembangkitan listrik.
Energi yang berasal dari aktivitas geotermal tersebut juga dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan produktif masyarakat, termasuk pengolahan pupuk organik.
Dampaknya mulai dirasakan kelompok tani, terutama dalam proses penyediaan pupuk untuk budidaya tanaman.
Produksi Kentang Tembus 9,5 Ton
Perubahan metode pemupukan turut memberikan hasil yang menarik perhatian Hendro.
Ia menuturkan, produksi kentang di lahan yang dikelolanya biasanya berkisar 4–5 ton. Namun, ketika sebagian lahan menggunakan pupuk organik, hasilnya dapat mencapai 9,5 ton.
“Alhamdulillah sangat signifikan hasilnya. Di lahan ini kami maksimal biasanya hanya 4–5 ton kentang.
Setengah menggunakan pupuk organik, kita dapat 9,5 ton, belum termasuk yang buat bibit,” kata Hendro.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu alasan kelompok tani terus mengembangkan penggunaan pupuk organik.
Meski demikian, hasil panen dapat dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kondisi lahan, varietas tanaman, cuaca, hingga teknik budidaya.
Karena itu, peningkatan produksi tersebut merupakan hasil yang dilaporkan Hendro dari lahan yang dikelolanya, bukan jaminan bahwa hasil serupa akan diperoleh di semua lahan.
Selain kentang, kelompok tani juga membudidayakan cabai dan kubis.
Keberagaman komoditas tersebut menjadi bagian dari upaya memanfaatkan lahan sekaligus menopang pendapatan kelompok.
Hendro memperkirakan pendapatan kelompok tani dari berbagai komoditas dapat melampaui Rp 100 juta.
Namun, angka tersebut merupakan perkiraan pendapatan, bukan keuntungan bersih.
Biaya pupuk, tenaga kerja, pengolahan lahan, dan kebutuhan produksi lainnya tetap harus diperhitungkan untuk mengetahui hasil ekonomi secara menyeluruh.
Saat ini, produksi pupuk GeO-Fert masih menjalani proses pengurusan izin edar agar dapat dipasarkan secara lebih luas.
Jika proses tersebut berjalan sesuai ketentuan, pupuk ini berpotensi membuka peluang pengembangan usaha kelompok tani di luar kegiatan budidaya.
Air Masih Menjadi Tantangan Petani Kamojang
Di balik peningkatan hasil panen, Hendro masih menghadapi persoalan mendasar yang kerap dialami petani, yakni ketersediaan air.
Tanaman hortikultura membutuhkan pasokan air yang memadai agar pertumbuhannya berjalan optimal.
Di lahan yang dikelolanya, penyiraman biasanya dilakukan setiap dua hari sekali. Namun, ketika musim kemarau tiba, kebutuhan tersebut semakin sulit dipenuhi.
Petani harus berbagi sumber air dengan pengguna lain di kawasan yang sama.
Kondisi ini membuat pengelolaan air menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi kelangsungan produksi pertanian.
“Kebutuhan air di musim kemarau sulit, karena gantian. Di sini juga banyak petani,” ujar Hendro.
Persoalan tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produktivitas pertanian tidak cukup hanya mengandalkan inovasi pupuk.
Pengelolaan air, efisiensi biaya produksi, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan cuaca juga menjadi bagian penting dalam menjaga hasil panen.
Bagi Hendro, menjadi petani muda berarti berani mencari cara baru tanpa meninggalkan pekerjaan yang telah diwariskan keluarganya.
Ia berupaya mengembangkan pertanian melalui pemanfaatan teknologi, pendampingan, dan pengelolaan sumber daya yang lebih baik.
Kisahnya di Kamojang memperlihatkan bagaimana inovasi sederhana dalam proses produksi pupuk dapat membuka peluang peningkatan hasil pertanian.
Namun, keberlanjutan usaha tani tetap membutuhkan dukungan yang lebih luas, mulai dari akses air, pendampingan teknis, hingga kepastian pemasaran produk.
Di tengah tantangan tersebut, Hendro terus menggarap lahannya.
Baginya, masa depan pertanian tidak hanya ditentukan oleh luas lahan atau banyaknya hasil panen, tetapi juga oleh kemampuan petani beradaptasi dan mengembangkan cara kerja yang sesuai dengan kondisi di sekitarnya.
Di Kamojang, panas bumi bukan hanya sumber energi, melainkan juga bagian dari upaya petani muda menjaga produktivitas lahan dan membuka peluang baru bagi pertanian.



