Kabar-Tani.com|- KAIMANA – Potensi pertanian dan kelautan Kabupaten Kaimana, Papua Barat, dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi penggerak ekonomi masyarakat.
Letak geografis yang strategis serta akses transportasi laut antarpulau menjadi modal penting untuk mengembangkan perdagangan hasil bumi, pertanian, perkebunan, dan perikanan.
Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat, terutama warga kampung dan desa yang selama ini menggantungkan penghasilan pada pencarian buah pala dan aktivitas melaut.
Kondisi tersebut mendorong sejumlah tokoh masyarakat bersama kalangan pengusaha untuk merintis gerakan pemberdayaan ekonomi berbasis pertanian dan peternakan.
Salah satu gagasan yang tengah disiapkan adalah membangun sistem pertanian terpadu sekaligus membuka akses pemasaran hasil panen secara langsung ke pasar antarpulau.
Gagasan ini mengemuka setelah pertemuan antara tokoh masyarakat Kaimana dengan Hery Afrizal Sikumbang, pengusaha hasil bumi, buah-buahan, dan sayur-mayur yang memiliki keterkaitan usaha dengan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta.
Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk membicarakan peluang kerja sama pemasaran komoditas lokal Kaimana.
Hasil pertanian dan rempah-rempah masyarakat diharapkan tidak hanya diproduksi, tetapi juga memiliki kepastian jalur distribusi dan pembeli.
Selama ini, persoalan pemasaran menjadi salah satu tantangan yang dihadapi petani.
Produksi pertanian yang tidak diikuti akses pasar memadai berpotensi membuat hasil panen sulit terserap dengan harga yang menguntungkan.
Karena itu, pengembangan pertanian dinilai perlu dilakukan dalam satu paket, mulai dari penyediaan sarana produksi, pendampingan kelompok tani, pengelolaan air, hingga pemasaran hasil panen.
Sumur Bor Menjadi Kebutuhan Mendesak
Di antara berbagai kebutuhan pembangunan pertanian, ketersediaan air bersih menjadi salah satu persoalan yang paling mendesak.
Masyarakat berharap pemerintah dan pihak terkait dapat mempercepat pembangunan sumur bor di sejumlah wilayah yang membutuhkan.
Air bukan hanya diperlukan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, melainkan juga menjadi infrastruktur dasar bagi keberlangsungan pertanian.
Tanpa ketersediaan air yang memadai, upaya meningkatkan produktivitas lahan akan sulit berjalan optimal.
Pengairan yang baik dapat membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan tanaman pangan secara lebih teratur dan berkelanjutan.
Bagi masyarakat desa, pembangunan sumur bor karena itu bukan sekadar proyek infrastruktur.
Fasilitas tersebut diharapkan menjadi titik awal perubahan pola ekonomi, dari aktivitas mencari hasil alam secara tradisional menuju kegiatan pertanian produktif.
PKRI Siapkan Gerakan Pertanian dan Peternakan
Sebagai langkah konkret, sejumlah tokoh masyarakat Kaimana, di antaranya Markus Tanggaropa dan Matias Farisa, bersama Hery Afrizal Sikumbang, menggagas pembentukan wadah kegiatan masyarakat melalui organisasi Persatuan Penerus Kemerdekaan Republik Indonesia (PKRI).
Organisasi tersebut diarahkan untuk mendorong kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya melalui sektor pertanian dan peternakan.
Ketua PKRI, Edison Kuyami, menjadi bagian penting dalam pembentukan gerakan tersebut.
Ke depan, masyarakat akan didorong membentuk kelompok-kelompok tani sebagai wadah pengorganisasian produksi, pendampingan, dan pengembangan usaha pertanian.
Program yang dirancang terbagi dalam dua tahap, yakni jangka pendek dan jangka panjang.
Untuk tahap awal, kelompok tani akan memprioritaskan penanaman padi darat, jagung, serta berbagai jenis tanaman umbi-umbian, termasuk ubi jalar.
Komoditas tersebut dipilih sebagai langkah awal untuk memperkuat ketersediaan pangan sekaligus membuka sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat.
Sementara itu, untuk jangka panjang, muncul gagasan besar berupa gerakan penanaman satu juta pohon kopi di Kaimana, dengan harapan pengembangannya dapat menjangkau wilayah Papua secara lebih luas.
Program satu juta pohon kopi tersebut diharapkan menjadi fondasi pengembangan perkebunan rakyat yang mampu menciptakan aktivitas ekonomi baru, membuka lapangan kerja, dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.



