Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia

Petani Pangandaran Sulap Lahan Gersang Jadi Kebun Melon, Panen 1,5 Ton dan Buka Wisata Petik

Kabar-Tani.com. – PANGANDARAN — Musim kemarau biasanya identik dengan tanah kering, sumber air yang terbatas, dan lahan pertanian yang kehilangan produktivitas. Namun, bagi Iwan Mulyana, petani di Dusun Sindangsari, Desa Sindangwangi, Kecamatan Padaherang, Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, kemarau justru menjadi momentum untuk menghasilkan buah bernilai ekonomi.

Di lahan seluas sekitar 80 bata, Iwan mengubah tanah yang sebelumnya nyaris tak produktif menjadi kebun melon yang menghijau.

Sekitar 1.500 tanaman melon tumbuh di atas lahan tersebut, termasuk varietas Amanda yang kini memasuki masa panen.

Tanaman melon itu telah berusia 62 hari setelah tanam (HST). Buah-buah yang bergelantungan di antara rimbunnya daun mulai menunjukkan tanda kematangan.

“Saat ini umur 62 HST. Jadi, sudah layak dipanen,” kata Iwan, Jumat, 4 September 2026.

Lahan Kering yang Berubah Menjadi Sumber Penghasilan

Sebelum ditanami melon, lahan tersebut bukanlah area pertanian yang mudah digarap.

Ketika musim hujan berakhir, tanah mengering, mengeras, bahkan mengalami retakan. Kondisi itu membuat lahan hanya dapat dimanfaatkan sekitar satu kali dalam setahun.

Bagi sebagian petani, kondisi tersebut menjadi alasan untuk membiarkan lahan tidak ditanami. Iwan mengambil keputusan berbeda.

Ia mengolah tanah kering tersebut menjadi bedengan, kemudian menutup permukaannya menggunakan mulsa.

Cara itu dilakukan untuk membantu menjaga kondisi tanah sekaligus mendukung pertumbuhan tanaman melon selama musim kemarau.

“Kita olah tanah kering ini menjadi bedengan dan diberikan mulsa,” ujar Iwan.

Pilihan menanam melon juga bukan tanpa alasan.

Menurut Iwan, tanaman melon justru memiliki karakter yang sesuai dengan kondisi cuaca panas.

Paparan sinar matahari yang cukup membantu proses pembentukan rasa buah.

Karena itu, terik matahari yang bagi tanaman lain bisa menjadi persoalan justru dimanfaatkan Iwan untuk mengejar kualitas melon.

“Memang pinginnya panas. Jadi kadar kemanisannya dapat. Rasa buahnya manis,” katanya.

Mengandalkan Irigasi Tetes untuk Menghemat Air

Tantangan terbesar bertani di musim kemarau tentu saja air.

Untuk mengatasinya, Iwan tidak mengandalkan metode penyiraman konvensional.

Ia membuat sumur mandiri sebagai sumber air, kemudian memasang sistem irigasi tetes atau drip irrigation.

Melalui sistem tersebut, air dialirkan langsung ke sekitar pangkal tanaman dengan debit yang lebih terukur.

Menurut Iwan, penggunaan irigasi tetes membuat pemakaian air lebih efisien dibandingkan metode penyiraman dengan cara dikocor.

“Air kita bikin sumur. Kita bikin sistem drip, jadi lebih hemat air daripada sistem kocor. Lebih hemat waktu dan tenaga juga,” ucapnya.

Teknologi sederhana itu sekaligus mengurangi kebutuhan tenaga kerja. Air tidak perlu disiram satu per satu secara manual sehingga proses pemeliharaan tanaman menjadi lebih praktis.

Satu Setengah Kilogram per Buah

Upaya Iwan membuktikan bahwa lahan kering tetap dapat menghasilkan komoditas bernilai ekonomi.

Dari sekitar 1.500 tanaman melon yang dibudidayakan, sebagian besar menghasilkan buah dengan bobot rata-rata 1,5 hingga 1,7 kilogram.

Beberapa buah bahkan mampu mencapai bobot sekitar dua kilogram.

Selain melon Amanda, Iwan juga mencoba menanam varietas yang selama ini lebih identik dengan budidaya di dalam greenhouse.

Eksperimen tersebut dilakukan di lahan terbuka. Hasilnya di luar perkiraan.

“Jenis melon Amanda. Kemudian ada satu melon yang biasa di kelas GH dan ditanam di area terbuka. Ternyata jadi bagus,” tuturnya.

Keberhasilan itu menjadi pengalaman tersendiri bagi Iwan. Ia tidak hanya mendapatkan hasil panen, tetapi juga menemukan bahwa teknologi budidaya dan pemilihan varietas dapat membuka peluang baru bagi petani di lahan dengan kondisi terbatas.

Dari Kebun Menjadi Wisata Petik Melon

Panen melon tidak berhenti di aktivitas produksi. Iwan kemudian melihat peluang lain dari kebunnya.

Ketika harga melon di pasaran berada di kisaran Rp20.000 per kilogram, ia membuka kebun tersebut untuk masyarakat melalui konsep wisata petik melon.

Pengunjung dapat datang langsung ke kebun, melihat tanaman melon, sekaligus memetik buah dari pohonnya.

Selain menjadi pengalaman rekreasi, konsep tersebut menjadi sarana edukasi agar masyarakat dapat melihat secara langsung proses budidaya melon.

Iwan juga memberikan harga khusus bagi pengunjung kebun.

“Kita buat wisata melon agar masyarakat yang datang bisa langsung memetik di kebun dengan harga relatif agak murah,” katanya.

Melon hasil kebun itu ditawarkan kepada pengunjung dengan harga sekitar Rp15.000 per kilogram.

Kesempatan menikmati melon langsung dari kebun tersebut dibuka selama sekitar 10 hingga 15 hari ke depan, mengikuti masa panen yang sedang berlangsung.

Bagi Iwan, kebun melon di tengah musim kemarau itu bukan sekadar soal hasil panen.

Ada pesan yang lebih besar: lahan yang selama ini dianggap sulit produktif masih memiliki peluang jika dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Tanah kering yang dulu dibiarkan kini berubah menjadi hamparan hijau.

Dari sana, buah melon tumbuh, dipanen, dan bahkan menjadi pintu masuk bagi model usaha baru: pertanian sekaligus wisata.

Di Pangandaran, kemarau yang semula dianggap sebagai musim paceklik justru berhasil dipetik menjadi peluang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *