Kabar-Tani.com| – SURABAYA — Daging sapi merah segar belum tentu menjadi jaminan bahwa produk tersebut aman dikonsumsi.
Di balik sepotong daging yang terlihat layak di meja pasar, terdapat rangkaian proses panjang yang menentukan kualitasnya, mulai dari kesehatan ternak, pemotongan, distribusi, hingga penyimpanan.
Karena itu, konsumen diingatkan tidak hanya melihat warna dan harga daging sapi, tetapi juga memperhatikan asal-usul, kebersihan, serta cara penanganannya.
PT Rumah Potong Hewan (RPH) Surabaya Perseroda mengajak masyarakat menerapkan prinsip Aman, Sehat, Utuh, dan Halal (ASUH) saat membeli daging sapi.
Masyarakat juga diarahkan memilih daging dari Pasar Daging Arimbi maupun lapak yang memiliki tanda Mitra RPH Surabaya.
Saat ini terdapat sekitar 300 papan Mitra RPH yang tersebar di sejumlah pasar tradisional di Surabaya.
Daging merah belum tentu aman
Warna merah memang menjadi salah satu indikator yang paling mudah diamati konsumen.
Daging sapi segar umumnya memiliki warna merah khas, tekstur kenyal, serta aroma yang tidak menyimpang.
Namun, warna tidak bisa menjadi satu-satunya patokan.
Kondisi daging dapat dipengaruhi jenis dan umur ternak serta proses setelah pemotongan.
Karena itu, daging yang terlihat merah dan segar belum otomatis menjamin keamanan pangan.
Prinsip ASUH memberikan gambaran yang lebih lengkap.
Aman berarti produk tidak membahayakan kesehatan, sehat berkaitan dengan kondisi dan mutunya, utuh berarti tidak dicampur atau diperlakukan secara tidak semestinya, sedangkan halal berkaitan dengan proses dan ketentuan kehalalan.
Pemeriksaan sebelum dan sesudah pemotongan juga menjadi bagian penting dalam memastikan daging memenuhi prinsip tersebut.
Artinya, kualitas daging tidak dimulai ketika produk sudah berada di meja pedagang. Prosesnya telah berlangsung sejak sapi masih berada di peternakan.
Rantai dingin ikut menentukan kualitas
Selain asal-usul, cara penyimpanan menjadi faktor penting yang sering luput dari perhatian pembeli.
Daging merupakan bahan pangan yang mudah mengalami penurunan mutu apabila tidak ditangani dengan benar.
Karena itu, rantai dingin harus dijaga sejak daging dipotong hingga sampai ke konsumen.
Daging segar idealnya disimpan dalam chiller pada suhu 0–5 derajat Celsius, sedangkan daging beku membutuhkan suhu maksimal minus 18 derajat Celsius.
Jika daging dibiarkan terlalu lama pada kondisi yang tidak sesuai, kualitasnya dapat menurun meskipun pada awalnya terlihat baik.
Konsumen karena itu perlu memperhatikan kondisi lapak. Meja, pisau, wadah, serta lingkungan tempat berjualan seharusnya bersih.
Daging juga tidak semestinya diletakkan sembarangan atau bersentuhan dengan permukaan yang kotor.
Harga murah jangan menjadi satu-satunya ukuran
Harga tentu menjadi pertimbangan masyarakat.
Namun, harga murah tidak selalu berarti pilihan terbaik.
RPH Surabaya menyebut harga daging sapi kelas satu di Pasar Daging Arimbi berada di kisaran Rp135.000 per kilogram pada 28 September 2026.
Harga tersebut turut dipengaruhi kenaikan harga sapi hidup.
Dalam kondisi seperti ini, konsumen perlu melihat nilai secara lebih utuh.
Harga harus dipertimbangkan bersama mutu, kebersihan, asal produk, serta cara penanganannya.
Daging yang sedikit lebih murah tetapi tidak jelas asal-usulnya dapat membawa risiko lebih besar dibanding produk yang memiliki sumber dan penanganan yang jelas.
Sebaliknya, harga mahal juga tidak otomatis menjadi jaminan keamanan.
Yang paling penting adalah transparansi dan pemenuhan standar.
Konsumen bisa ikut memastikan asal daging
Masyarakat tidak harus memiliki pengetahuan laboratorium untuk menjadi konsumen yang lebih cermat.
Langkah sederhananya adalah membeli dari penjual yang jelas, memperhatikan kebersihan tempat, mengecek warna dan tekstur, mencium aroma daging, serta menghindari produk yang menunjukkan tanda kerusakan.
Untuk daging dingin dan beku, kondisi penyimpanannya juga patut diperhatikan.
Konsumen bahkan dapat menanyakan asal daging dan memastikan pelaku usaha memiliki legalitas serta memenuhi standar higiene dan sanitasi.
Kementerian Pertanian juga menyediakan Sistem Informasi Nasional Sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (SISNAS NKV).
Sistem tersebut dapat digunakan masyarakat untuk menelusuri unit usaha berdasarkan nama produsen atau nomor sertifikat.
Mitra RPH bisa menjadi penanda bagi pembeli
Keberadaan ratusan lapak Mitra RPH di Surabaya dapat menjadi salah satu cara sederhana bagi masyarakat untuk menentukan tempat membeli daging.
Ke depan, penanda tersebut dapat dikembangkan lebih jauh.
Misalnya dengan mencantumkan informasi asal daging, identitas pedagang, hingga kanal pengaduan yang dapat diakses konsumen.
Dengan begitu, konsumen tidak hanya menjadi pembeli, tetapi juga bagian dari pengawasan rantai pangan.
Pada akhirnya, kualitas daging sapi tidak cukup dinilai dari tampilannya.
Ada perjalanan panjang dari ternak hingga meja makan yang menentukan apakah daging tersebut benar-benar aman, sehat, utuh, dan halal.
Memilih daging dengan lebih cermat bukan sekadar soal mendapatkan makanan yang enak.
Ini adalah keputusan kecil untuk melindungi kesehatan keluarga.
Sebab, kualitas makanan di meja makan tidak dimulai dari dapur, tetapi dari pilihan ketika daging dibeli.



