Kabar-Tani.com | – JAKARTA — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pemerintah daerah dan petani untuk menyesuaikan kalender tanam dengan kondisi iklim di wilayah masing-masing.
Langkah ini penting untuk menjaga produksi pangan di tengah ancaman El Nino kuat dan awal musim hujan yang diprediksi mundur di sebagian besar Indonesia.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, perubahan pola musim berpotensi memengaruhi ketersediaan air, jadwal tanam, hingga hasil panen.
Karena itu, informasi cuaca dan iklim perlu menjadi acuan dalam menentukan strategi pertanian, terutama di daerah yang masih mengalami kekeringan.
“BMKG memprediksi El Nino masih akan bertahan hingga awal 2027,” ujar Faisal dalam keterangan resmi yang dikutip pada Minggu, 1 November 2026.
Musim Hujan 2026/2027 Diprediksi Mundur
Berdasarkan pemutakhiran prediksi musim hujan BMKG yang dirilis pada 2 Oktober 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November hingga Desember 2026.
Kedatangan hujan diprediksi berlangsung bertahap, dimulai dari wilayah Sumatra bagian utara sebelum meluas ke daerah lain.
Pada November 2026, sebanyak 185 Zona Musim (ZOM) diperkirakan mulai memasuki musim hujan.
Sementara itu, pada Desember 2026, jumlahnya diprediksi mencapai 266 ZOM.
Meski demikian, BMKG memperkirakan awal musim hujan di 529 ZOM atau sekitar 61,08 persen luas daratan Indonesia akan mengalami keterlambatan dibandingkan kondisi normal.
Selain itu, sekitar 51,90 persen luas daratan Indonesia diprediksi mengalami musim hujan yang lebih pendek dari biasanya.
Kondisi ini membuat petani perlu lebih cermat menentukan waktu tanam.
Menanam terlalu dini berisiko menyebabkan tanaman kekurangan air, sedangkan keterlambatan menanam dapat memengaruhi jadwal panen dan ketersediaan pasokan pangan.
Sejumlah wilayah yang diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November meliputi sebagian Sumatra, Jawa, Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, serta sebagian Papua.
Pada Desember, musim hujan diprediksi meluas ke sejumlah wilayah Lampung, sebagian besar Jawa, Bali, NTB, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sulawesi, Maluku, dan wilayah lainnya.
El Nino Kuat Tingkatkan Risiko Kekeringan
Ancaman kekeringan masih menjadi perhatian utama BMKG.
Data lembaga tersebut menunjukkan Indeks Nino 3.4 pada periode Agustus–Oktober 2026 mencapai +3,05 derajat Celsius.
Kondisi ini disertai indeks Indian Ocean Dipole (IOD) positif sebesar +0,63.
Kombinasi anomali iklim tersebut berpotensi memperpanjang periode kering dan meningkatkan tekanan terhadap ketersediaan air di sejumlah daerah. BMKG juga mencatat 1.707 titik mengalami hari tanpa hujan dengan kategori ekstrem panjang.
Dampaknya perlu diantisipasi, terutama di sentra produksi pangan yang bergantung pada curah hujan.
Kekurangan air dapat menghambat pertumbuhan tanaman, mengganggu jadwal tanam, dan meningkatkan risiko penurunan hasil panen.
Di sisi lain, hujan yang datang dengan intensitas tinggi juga membawa risiko tersendiri.
Curah hujan berlebih dapat memicu banjir dan genangan di lahan pertanian, merusak tanaman, serta menghambat proses panen.
BMKG memperkirakan curah hujan pada Desember 2026 hingga April 2027 secara umum berada pada kategori menengah hingga sangat tinggi.
Namun, kondisi tersebut tidak seragam di seluruh Indonesia sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing wilayah.
BMKG Dorong Pengelolaan Air dan Modifikasi Cuaca
Untuk mengurangi risiko terhadap produksi pangan, BMKG mendorong pemerintah daerah memperkuat jaringan irigasi, menyiapkan cadangan air, dan mengantisipasi banjir di kawasan pertanian.
Petani juga diminta mengikuti pembaruan prakiraan cuaca serta peringatan dini sebelum menentukan kegiatan tanam dan panen.
Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dapat menjadi salah satu opsi untuk mendukung pengisian tampungan air apabila kondisi atmosfer memungkinkan.
Pelaksanaannya perlu mempertimbangkan wilayah prioritas, kebutuhan air, dan potensi pertumbuhan awan hujan.
BMKG turut memantau perkembangan cuaca jangka pendek.
Pada periode 25 Oktober hingga 2 November 2026, pertumbuhan awan hujan diprakirakan signifikan di sebagian besar Sumatra, Jawa, Kalimantan, Maluku Utara, dan sebagian Sulawesi.
Sebaliknya, Bali, NTB, dan NTT masih berpotensi mengalami kondisi relatif kering.
Menurut Faisal, penyesuaian kalender tanam, penguatan infrastruktur air, dan pemanfaatan informasi iklim merupakan langkah penting untuk menjaga ketahanan pangan nasional.
Dengan pola musim yang tidak seragam, petani tidak cukup hanya mengandalkan kebiasaan musim tanam pada tahun-tahun sebelumnya.
Keputusan berbasis prakiraan cuaca dan kondisi air di lapangan menjadi semakin penting agar risiko gagal panen dapat ditekan dan produksi pangan tetap terjaga.



