Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia
PETANI  

Petani Sleman Panen 9,76 Ton Padi per Hektare, Raih Juara Siramli

Kabar-Tani.com | – SLEMAN – Kelompok Tani (KT) Ngudi Mulyo di Padukuhan Jirak, Kalurahan Bokoharjo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, membuktikan bahwa pertanian ramah lingkungan mampu menghasilkan panen melimpah.

Melalui penerapan budidaya padi sehat dan Sistem Irigasi Ramah Lingkungan (Siramli), kelompok tani ini mencatat produktivitas gabah yang melampaui rata-rata Kabupaten Sleman.

Di lahan seluas 12,5 hektare, para petani berhasil menghasilkan Gabah Kering Panen (GKP) sebanyak 9,76 ton per hektare.

Sementara itu, produktivitas Gabah Kering Giling (GKG) tercatat mencapai 7,84 ton per hektare, lebih tinggi dibandingkan rata-rata produktivitas padi di Kabupaten Sleman yang berada di kisaran 6,03 ton GKG per hektare.

Capaian tersebut menjadi bukti bahwa pengelolaan lahan secara kolektif, penerapan teknik budidaya yang tepat, serta pemanfaatan sumber daya alam dapat mendukung peningkatan hasil pertanian sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Raih Juara Satu Siramli se-DIY

Keberhasilan KT Ngudi Mulyo tidak hanya terlihat dari hasil panen.

Kelompok tani yang berada di wilayah Bokoharjo ini juga meraih juara pertama tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta dalam lomba Sistem Irigasi Ramah Lingkungan (Siramli).

Kepala Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman, Liem Astuti, mengapresiasi konsistensi para petani dalam mengembangkan sistem pertanian yang lebih ramah lingkungan.

Menurut Liem, kegiatan wiwitan atau tradisi menjelang panen dan panen padi yang dilaksanakan kelompok tani tersebut menjadi momentum untuk menunjukkan keberhasilan petani lokal dalam mengelola sektor pertanian secara mandiri dan berkelanjutan.

Prestasi dalam lomba Siramli juga memperlihatkan bahwa inovasi pengelolaan irigasi dapat berjalan seiring dengan upaya meningkatkan produktivitas tanaman.

Pengelolaan air yang tepat menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga pertumbuhan padi, terutama ketika petani harus memastikan kebutuhan air terpenuhi sepanjang musim tanam.

Kurangi Bahan Kimia, Utamakan Ekosistem Alami

Dalam mengelola lahan pertanian seluas 12,5 hektare, anggota KT Ngudi Mulyo menerapkan budidaya tanaman sehat dengan menitikberatkan pada pengurangan penggunaan bahan kimia sintetis serta pemanfaatan ekosistem alami.

Pendekatan tersebut mendorong petani untuk tidak hanya berorientasi pada jumlah gabah yang dihasilkan, tetapi juga memperhatikan kualitas tanaman dan keberlanjutan lahan.

Pengelolaan pertanian yang dilakukan secara bersama-sama turut membutuhkan kedisiplinan anggota, mulai dari pemeliharaan tanaman hingga pengaturan kebutuhan air.

Hasilnya, gabah yang dipanen tidak berhenti pada pencapaian produktivitas di sawah.

Hasil pertanian dari kelompok tersebut juga diolah menjadi beras sehat yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan pangan berkualitas.

Bagi petani, keberhasilan ini membuka peluang untuk memperkuat nilai tambah hasil panen.

Produk beras sehat berpotensi menjadi pilihan bagi konsumen yang semakin memperhatikan proses produksi pangan, penggunaan bahan kimia, serta dampak pertanian terhadap lingkungan.

Meski demikian, klaim mengenai tingkat keamanan dan kandungan nutrisi produk tetap perlu didukung pengujian atau sertifikasi yang sesuai agar informasi kepada konsumen semakin terukur.

Berpeluang Jadi Percontohan Pertanian Sleman

DP3 Kabupaten Sleman berharap keberhasilan KT Ngudi Mulyo dapat menjadi contoh bagi kelompok tani lain dalam mengembangkan budidaya tanaman sehat dan pengelolaan irigasi ramah lingkungan.

Replikasi praktik tersebut dapat menjadi salah satu langkah untuk meningkatkan produktivitas pertanian sekaligus menjaga kualitas sumber daya alam.

Penerapannya tentu perlu disesuaikan dengan kondisi lahan, ketersediaan air, karakteristik tanah, serta kemampuan petani di setiap wilayah.

Ke depan, tantangan pertanian tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga bagaimana menghasilkan pangan berkualitas dengan penggunaan sumber daya yang lebih efisien.

Penguatan pendampingan, pertukaran pengetahuan antarkelompok tani, dan pengembangan pemasaran beras sehat dapat menjadi bagian dari upaya tersebut.

Keberhasilan KT Ngudi Mulyo di Jirak menunjukkan bahwa pertanian berkelanjutan bukan sekadar menjaga lingkungan.

Dengan pengelolaan yang konsisten, pendekatan ramah lingkungan juga dapat menjadi jalan untuk meningkatkan hasil panen dan memperkuat daya saing petani lokal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *