Berita Pertanian Terkini & Terbaru
Kabar Tani - Portal Berita Pertanian Terpercaya Indonesia

Harga Beras Naik 80%, Ini 5 Komoditas Pertanian Termahal 2026

Kabar-Tani.com | – JAKARTA — Harga sejumlah komoditas pertanian dunia mengalami lonjakan sepanjang 2026.

Perubahan pola cuaca akibat fenomena El Niño, gangguan produksi di negara produsen utama, serta meningkatnya biaya distribusi menjadi faktor yang menekan pasokan dan mendorong harga di pasar global.

Beras menjadi komoditas dengan kenaikan harga paling tinggi sejak awal tahun.

Berdasarkan data Trading Economics per 28 Oktober 2026, harga beras melonjak 80,25 persen secara year-to-date (YtD).

Karet menyusul dengan kenaikan 42,75 persen, disusul barli sebesar 40,17 persen, canola 33,47 persen, dan gula 27,91 persen.

Kenaikan tersebut mencerminkan tekanan yang dihadapi pasar pertanian global.

Gangguan cuaca berpotensi menghambat musim tanam dan panen, sementara permintaan dari industri pangan, pakan ternak, serta energi alternatif tetap menopang harga sejumlah komoditas.

Indeks Harga Pangan Dunia Menguat

Tekanan harga juga terlihat dalam perkembangan FAO Food Price Index yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).

Indeks harga pangan dunia tercatat mencapai 136 poin pada September 2026, meningkat 1,5 persen dibandingkan bulan sebelumnya dan 5,8 persen secara tahunan.

Angka tersebut menjadi posisi tertinggi sejak November 2022.

Meski demikian, indeks masih 15,1 persen di bawah rekor yang tercapai pada Maret 2022, ketika invasi Rusia ke Ukraina mengguncang pasar pangan internasional.

Secara bulanan, kenaikan indeks terutama ditopang oleh kelompok biji-bijian yang meningkat 5,1 persen, gula sebesar 6,1 persen, serta minyak nabati sebesar 0,9 persen.

Fenomena El Niño turut menjadi perhatian karena perubahan curah hujan dapat memperbesar risiko kekeringan di satu wilayah dan hujan ekstrem di wilayah lainnya.

Dampaknya tidak hanya menyentuh hasil panen, tetapi juga distribusi, biaya produksi, dan kepastian pasokan.

1. Beras: Harga Naik Lebih dari 80 Persen

Beras menempati urutan pertama sebagai komoditas pertanian dengan kenaikan harga terbesar sepanjang 2026.

Harga kontraknya tercatat mencapai US$17,29 per hundredweight (cwt), naik 80,25 persen sejak awal tahun dan 72,69 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kenaikan ini berkaitan dengan kekhawatiran terhadap prospek produksi di sejumlah negara eksportir utama, terutama India dan Thailand.

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi beras India pada musim 2026/2027 turun sekitar 7 juta ton menjadi 147 juta ton akibat lemahnya musim hujan.

Ekspor beras India juga diperkirakan menyusut 4 persen menjadi 24 juta ton pada 2027.

Di Thailand, banjir mengganggu distribusi dan meningkatkan risiko kerusakan tanaman.

Ketidakpastian cuaca serta kenaikan biaya pengiriman turut menambah tekanan pada pasar beras internasional.

Sebagai salah satu pangan pokok utama dunia, kenaikan harga beras berpotensi memberikan dampak luas, terutama bagi negara yang mengandalkan impor untuk memenuhi kebutuhan domestik.

2. Karet: Gangguan Pasokan Angkat Harga

Harga karet tercatat berada di level 256,80 sen AS per kilogram, meningkat 42,75 persen sejak awal 2026. Secara tahunan, kenaikannya mencapai 47,25 persen.

Salah satu pemicunya adalah gangguan produksi di negara-negara produsen utama Asia Tenggara.

Hujan deras dan banjir di Thailand menghambat aktivitas penyadapan, sehingga pasokan bahan baku karet berisiko berkurang.

Keterbatasan bahan baku di sejumlah wilayah produsen juga memperketat ketersediaan di pasar.

Kondisi tersebut sempat mendorong harga karet mendekati 265 sen AS per kilogram pada pertengahan Oktober, level tertinggi sejak 2013.

Pergerakan harga karet penting bagi industri otomotif, terutama produsen ban, serta berbagai sektor manufaktur yang menggunakan karet sebagai bahan baku.

Jika kenaikan berlangsung lama, biaya pengadaan bahan baku industri berpotensi ikut meningkat.

3. Barli: Permintaan Industri Menjaga Harga

Barli atau jelai merupakan tanaman serealia yang dimanfaatkan untuk pakan ternak, bahan pangan, serta produksi malt untuk industri minuman.

Berdasarkan data pasar India pada 26 Oktober 2026, harga barli mencapai 3.213,50 rupee India per ton. Angka tersebut meningkat 40,17 persen dibandingkan awal tahun.

Kenaikan harga terutama dipengaruhi oleh terbatasnya pasokan di pasar domestik India.

Pada saat yang sama, kebutuhan dari industri pakan ternak dan pengolahan malt tetap kuat.

Kombinasi pasokan yang terbatas dan permintaan industri yang bertahan tinggi membuat harga barli berada di bawah tekanan.

Bagi sektor peternakan, kondisi ini dapat meningkatkan biaya pakan dan berpotensi memengaruhi struktur biaya produksi.

4. Canola: Cuaca Kanada dan Kebutuhan Biodiesel Jadi Sorotan

Canola mencatat kenaikan harga sebesar 33,47 persen sejak awal tahun, dengan harga mencapai 786,59 dolar Kanada per ton.

Komoditas ini banyak dimanfaatkan sebagai bahan baku minyak nabati untuk industri pangan maupun bahan bakar nabati.

Permintaan dari sektor pengolahan minyak dan energi alternatif menjadi salah satu faktor yang menopang harga.

Di sisi produksi, cuaca basah di sejumlah wilayah produsen utama Kanada sempat menghambat kegiatan panen dan memicu kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan.

Meski begitu, harga canola telah terkoreksi 4,50 persen dalam sebulan terakhir seiring membaiknya prospek panen dan pasokan.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa pergerakan harga tidak hanya ditentukan oleh permintaan, tetapi juga perubahan ekspektasi pasar terhadap hasil produksi.

5. Gula: Produksi Brasil dan India Menjadi Penentu

Gula berada di posisi kelima dengan kenaikan harga 27,91 persen sejak awal 2026.

Harga gula mentah tercatat sebesar 19,20 sen AS per pon pada 27 Oktober.

Prospek produksi Brasil dan India menjadi perhatian utama pelaku pasar karena kedua negara tersebut merupakan pemain penting dalam perdagangan gula dunia.

Di Brasil, curah hujan berlebihan sempat menghambat panen dan pengolahan tebu.

Produksi gula kumulatif hingga Agustus dilaporkan turun 10,3 persen secara tahunan, seiring pengalokasian lebih banyak tebu untuk produksi etanol.

Sementara itu, India menghadapi risiko penurunan hasil panen akibat lemahnya musim hujan yang dikaitkan dengan fenomena El Niño.

Perubahan produksi di kedua negara tersebut dapat memengaruhi keseimbangan pasokan global.

Apabila produksi tidak memenuhi perkiraan pasar, harga gula berpotensi tetap mendapatkan tekanan kenaikan.

Dampak Kenaikan Harga terhadap Ekonomi

Lonjakan harga lima komoditas tersebut memperlihatkan bahwa pasar pertanian global rentan terhadap perubahan iklim, gangguan produksi, dan pergeseran permintaan industri.

Bagi negara pengimpor, kenaikan harga komoditas internasional dapat meningkatkan biaya pembelian bahan pangan dan bahan baku.

Tekanan juga berpotensi menjalar ke sektor pengolahan makanan, peternakan, otomotif, hingga energi alternatif.

Di Indonesia, perkembangan harga komoditas dunia perlu dicermati dengan mempertimbangkan kondisi produksi domestik, stok, kebutuhan impor, nilai tukar rupiah, serta biaya logistik.

Kenaikan harga internasional tidak otomatis menghasilkan kenaikan harga dengan besaran yang sama di pasar domestik, tetapi dapat menjadi salah satu sumber tekanan apabila pasokan dalam negeri tidak mencukupi.

Ke depan, arah harga akan sangat bergantung pada perkembangan cuaca, realisasi panen di negara produsen utama, kebijakan ekspor, dan kebutuhan industri.

Jika gangguan pasokan berlanjut ketika permintaan masih kuat, tekanan harga berpotensi bertahan.

Sebaliknya, pemulihan produksi dan distribusi dapat membantu meredakan kenaikan.

Karena itu, penguatan cadangan pangan, diversifikasi sumber impor, dan peningkatan produktivitas pertanian menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gejolak harga global.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *