Kabar-Tani.com | – BUOL, Sulawesi Tengah — Kehadiran internet mengubah cara petani kakao di Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, mengelola kebun dan memasarkan hasil panen.
Di Desa Langudon, Kecamatan Bokat, teknologi digital membantu petani memperoleh informasi harga, mempelajari teknik budidaya, hingga membuka peluang usaha baru.
Salah satunya dirasakan Wayan Sudiarsa, 52 tahun, petani kakao yang mengelola 300 pohon di lahan seluas 0,75 hektare. Setiap pagi, ia memeriksa tanaman, memangkas daun, dan mengendalikan hama penggerek buah kakao (PBK).
Namun, urusan pemasaran kini tak lagi sepenuhnya bergantung pada informasi dari pengepul.
Sejak jaringan internet melalui BTS 4G BAKTI Komdigi hadir di Langudon pada 2022, istrinya, Iloh, memanfaatkan telepon seluler untuk membandingkan harga kakao, menghubungi pengepul, dan memantau pergerakan dolar Amerika Serikat yang turut memengaruhi harga komoditas tersebut.
Perubahan itu memberi petani lebih banyak pilihan sebelum menjual hasil panen.
Mereka bisa bertukar informasi harga melalui WhatsApp dan membandingkan penawaran dari sejumlah pengepul di Kota Buol, yang berjarak sekitar 25 kilometer dari desa.
Belajar Bertani dari Internet
Internet juga menjadi sumber pengetahuan baru bagi Sudiarsa. Melalui YouTube, ia mempelajari perawatan tanaman dan penanganan hama.
Pengetahuan tersebut melengkapi pendampingan yang diperoleh dari penyuluh pertanian setempat.
Salah satu tantangan terbesar petani kakao di wilayah itu adalah serangan PBK yang merusak buah dan menurunkan kualitas biji.
Petani kemudian mencoba varietas BR-25 melalui teknik sambung pucuk, yakni menggabungkan batang bawah kakao lokal dengan batang atas varietas yang dinilai lebih produktif.
Di luar kebun, Iloh memanfaatkan Telegram untuk mempromosikan kue bolu ke desa-desa sekitar.
Usaha sampingan itu menghasilkan tambahan sekitar Rp100 ribu per pekan, menurut penuturan Sudiarsa.
Kisah serupa dialami Wayan Adiatmika, 33 tahun. Setelah bekerja di sejumlah pekerjaan kantoran pada 2011–2019, ia memutuskan menjadi petani penuh waktu.
Dari enam hektare lahan yang dikelolanya, satu hektare ditanami kakao, sedangkan sisanya dimanfaatkan untuk durian, alpukat, dan tanaman buah lainnya.
Adiatmika belajar mengembangkan kebun melalui pengalaman keluarga dan sesama petani, serta tutorial di YouTube dan TikTok.
Ia juga memanfaatkan perdagangan elektronik untuk membeli peralatan dan pupuk yang sebelumnya harus dicari langsung ke kota.
Sulawesi Tengah Jadi Sentra Kakao
Perubahan di Langudon berlangsung di salah satu wilayah utama penghasil kakao Indonesia.
Berdasarkan data yang tercantum dalam materi, Sulawesi Tengah menempati posisi pertama provinsi penghasil kakao pada 2025, dengan luas areal 267.697 hektare dan produksi biji kakao 126.515 ton.
Meski begitu, petani masih menghadapi tantangan cuaca.
Fenomena El Nino dan minimnya curah hujan membuat sejumlah sumber air mengering, sehingga pertumbuhan tanaman dan volume panen terganggu.
Adiatmika menuturkan, harga kakao juga bergerak tajam mengikuti kondisi pasar dan pergerakan dolar AS.
Pada pertengahan Oktober 2026, harga yang disebut dalam materi mencapai Rp96 ribu per kilogram, setelah sebelumnya sempat menyentuh Rp170 ribu dan turun hingga Rp30 ribu per kilogram sepanjang tahun tersebut.
Konektivitas Masih Menjadi Pekerjaan Rumah
Manfaat internet di Buol tidak terbatas pada sektor pertanian. Hingga 2025, BAKTI Komdigi tercatat menyediakan 188 titik akses internet di kabupaten tersebut.
Sebanyak 171 titik atau sekitar 90,96 persen berada di sektor pendidikan.
Akses digital membantu siswa mempelajari keterampilan baru, mulai dari mengedit video hingga membuat desain poster.
Internet juga membuka ruang bagi generasi muda untuk mencari referensi dan mengembangkan gagasan tentang persoalan sosial maupun lingkungan.
Namun, pemerataan jaringan belum tuntas. Materi tersebut mencatat masih terdapat 12 desa dan dusun di Kabupaten Buol yang mengalami keterbatasan atau gangguan akses internet pada 2026.
Sejumlah wilayah bahkan telah memiliki infrastruktur BTS, tetapi kualitas jaringan belum memadai ketika digunakan banyak orang.
Pengalaman petani Langudon menunjukkan bahwa konektivitas bukan sekadar sarana komunikasi.
Ketika dimanfaatkan secara tepat, internet dapat memperluas akses informasi, memperkuat posisi tawar petani, dan membuka sumber penghasilan baru.
Tantangan berikutnya adalah memastikan manfaat tersebut juga dirasakan masyarakat di wilayah yang belum terhubung secara memadai.



