Kabar-Tani.com | – SAMOSIR — Berada di tepi Danau Toba ternyata tidak menjamin petani mudah mendapatkan air untuk mengairi sawah.
Di Desa Sibonor Ompu Ratus, Kecamatan Nainggolan, Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, persoalan irigasi selama bertahun-tahun membuat sebagian petani kesulitan menanam padi, terutama ketika musim kemarau tiba.
Kini, harapan baru muncul melalui pemanfaatan Pompa Air Tenaga Surya (PATS).
Teknologi berbasis energi matahari tersebut mulai membantu mengalirkan air Danau Toba ke lahan pertanian yang sebelumnya bergantung pada curah hujan.
Sejak mulai beroperasi, fasilitas itu dilaporkan telah menjangkau sekitar 60 hektare lahan pertanian dari target pelayanan 82 hektare.
Sejumlah persawahan yang sebelumnya kesulitan memperoleh air pun mulai menghijau kembali.
Perubahan tersebut menjadi angin segar bagi petani yang selama ini harus menghadapi ketidakpastian musim tanam dan tingginya biaya pengairan.
Biaya Pompa BBM Bisa Capai Rp 200 Ribu Sehari
Keterbatasan air membuat sebagian petani di Sibonor Ompu Ratus memilih menanam jagung sebagai alternatif pengganti padi.
Tanaman ini dinilai lebih sesuai ketika ketersediaan air terbatas dan memiliki masa tanam relatif singkat.
Sementara itu, petani yang tetap menanam padi harus mencari cara untuk memenuhi kebutuhan air sawah.
Salah satu pilihan yang digunakan adalah pompa berbahan bakar minyak untuk menyedot air dari Danau Toba.
Namun, solusi tersebut tidak murah.
Holmes Nainggolan, warga sekaligus pengelola media lokal Nainggolan Channel, mengatakan biaya bahan bakar pompa yang dikeluarkan petani dapat mencapai Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per hari.
Pengeluaran itu muncul karena pompa terkadang harus beroperasi sepanjang hari agar air mencukupi kebutuhan lahan pertanian.
Bagi petani, biaya pengairan yang tinggi tentu dapat mengurangi keuntungan usaha tani.
Ketika pasokan air tidak menentu dan biaya operasional terus meningkat, keputusan untuk menanam padi menjadi semakin berat.
Kehadiran pompa tenaga surya menawarkan alternatif.
Dengan memanfaatkan energi matahari sebagai sumber energi utama, petani tidak lagi harus sepenuhnya bergantung pada bahan bakar minyak untuk mengalirkan air ke sawah yang telah terlayani fasilitas tersebut.
Layani 749 Petani dengan Kapasitas 1.900 Meter Kubik Air per Hari
Pompa Air Tenaga Surya di Desa Sibonor Ompu Ratus merupakan proyek percontohan dalam program Low Carbon Development Initiative Fase II (LCDI2), yang berlangsung pada 2023–2027.
Program ini merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas dengan Pemerintah Inggris melalui Foreign, Commonwealth & Development Office (FCDO).
Berdasarkan data Bappenas, fasilitas tersebut dirancang untuk melayani sekitar 82 hektare sawah tadah hujan yang digarap oleh 749 petani.
Sistemnya menggunakan panel surya berkapasitas 69,3 kilowatt-peak (kWp).
Dalam kondisi penyinaran optimal, pompa mampu mengambil sekitar 1.900 meter kubik air dari Danau Toba setiap hari.
Air kemudian dialirkan melalui jaringan pipa dan penampungan sebelum didistribusikan ke lahan pertanian.
Pembangunan fasilitas ini diresmikan pada 3 Oktober 2026.
Bupati Samosir Vandiko Timotius Gultom menjelaskan, proyek tersebut berawal dari usulan masyarakat yang membutuhkan solusi atas persoalan pengairan sawah.
Usulan itu diteruskan melalui Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dan Kementerian PPN/Bappenas hingga memperoleh dukungan Pemerintah Inggris.
Menurut Vandiko, pemanfaatan PATS mulai membantu masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil sekaligus menekan biaya operasional pertanian.
Produksi Padi Diproyeksikan Naik Tiga Kali Lipat
Manfaat irigasi yang lebih baik tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air.
Dalam jangka panjang, fasilitas tersebut diharapkan membuka peluang peningkatan frekuensi tanam dan produksi padi.
Sebelum adanya pasokan air yang lebih memadai, sebagian besar petani di wilayah tersebut hanya dapat menanam padi sekali dalam setahun.
Kondisi itu membatasi potensi produksi, terutama ketika musim kemarau berlangsung panjang.
Dengan dukungan PATS, produksi padi di Desa Sibonor Ompu Ratus diproyeksikan meningkat dari sekitar 50 ton menjadi 150 ton per tahun.
Peningkatan produksi tersebut diharapkan berdampak pada pendapatan petani.
Pemerintah juga memproyeksikan kehadiran fasilitas ini dapat mendorong kenaikan pendapatan petani lebih dari Rp 2 miliar per tahun.
Meski demikian, angka tersebut masih berupa proyeksi jangka panjang, bukan hasil akhir yang telah dicapai.
Manfaat ekonominya perlu terus dievaluasi seiring bertambahnya cakupan pelayanan dan pengalaman petani dalam memanfaatkan fasilitas tersebut.
Selain mendukung produksi pangan, penggunaan energi matahari juga diharapkan membantu mengurangi emisi gas rumah kaca dari penggunaan pompa berbahan bakar minyak.
Distribusi Air Belum Merata, Pengelolaan Jadi Tantangan
Di balik manfaat yang mulai terlihat, pengoperasian PATS masih menghadapi sejumlah kendala.
Salah satunya adalah pemerataan distribusi air ke seluruh lahan pertanian.
Holmes Nainggolan menjelaskan, perbedaan ketinggian dan posisi sawah memengaruhi kecepatan serta jumlah air yang diterima petani.
Lahan yang lebih dekat dengan pompa cenderung memperoleh pasokan lebih cepat, sedangkan lahan di bagian bawah membutuhkan waktu lebih lama dengan debit air yang lebih kecil.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa keberadaan teknologi saja belum cukup untuk menyelesaikan persoalan irigasi.
Distribusi air juga membutuhkan pengaturan yang sesuai dengan kapasitas pompa dan kebutuhan masing-masing lahan.
Salah satu langkah yang dapat dipertimbangkan adalah pengaturan jadwal tanam secara bertahap.
Dengan demikian, kebutuhan air petani dapat disesuaikan dengan kemampuan sistem distribusi.
Selain pemerataan air, keberlanjutan fasilitas juga menjadi perhatian.
Pompa, panel surya, jaringan pipa, dan tempat penampungan membutuhkan pemeliharaan agar dapat beroperasi dalam jangka panjang.
Pada Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Samosir bersama Yayasan Bitra Indonesia memulai pendampingan kelembagaan bagi kelompok pengelola PATS.
Pendampingan tersebut mencakup penguatan organisasi, manajemen teknis, pengelolaan keuangan, serta penyusunan mekanisme pembiayaan operasional dan pemeliharaan.
Pengelolaan fasilitas dilakukan melalui Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) PATS Mual Hangoluan.
Kelompok ini diharapkan mampu mengelola sistem irigasi secara mandiri dengan melibatkan masyarakat, termasuk perempuan, generasi muda, dan kelompok rentan.
Deputi Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas Leonardo A. A. Teguh Sambodo mengatakan, keberlanjutan proyek semacam ini tidak dapat sepenuhnya bergantung pada pembiayaan pemerintah.
Kontribusi petani pengguna fasilitas dapat menjadi salah satu pilihan untuk membiayai kebutuhan perawatan.
Dengan mekanisme yang transparan dan disepakati bersama, dana tersebut berpotensi membantu menjaga fasilitas tetap berfungsi setelah proyek pembangunan selesai.
PATS Mulai Diperluas ke Desa Pakpahan
Pengembangan pompa air tenaga surya di Samosir tidak berhenti di Desa Sibonor Ompu Ratus.
Pada 3 Oktober 2026, pemerintah juga melakukan peletakan batu pertama pembangunan fasilitas serupa di Desa Pakpahan, Kecamatan Onan Runggu.
Fasilitas di Desa Pakpahan direncanakan melayani sekitar 73 hektare lahan pertanian dengan sasaran 903 petani.
Penggunaan energi surya di lokasi tersebut diharapkan dapat menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 7,34 ton CO2 ekuivalen per tahun.
Perluasan ini menunjukkan upaya pemerintah menghubungkan agenda pembangunan rendah karbon dengan kebutuhan nyata masyarakat, khususnya penyediaan air untuk pertanian.
Bagi petani di sekitar Danau Toba, keberhasilan program tersebut tidak hanya ditentukan oleh kapasitas panel surya atau banyaknya air yang dapat dipompa setiap hari.
Ukuran keberhasilannya juga terletak pada kemampuan sistem menjangkau seluruh lahan secara adil, menekan biaya usaha tani, dan bertahan dalam jangka panjang.
Pada akhirnya, air yang tersedia di dekat sawah baru benar-benar menjadi sumber penghidupan ketika petani mampu mengaksesnya dengan biaya terjangkau dan pasokan yang dapat diandalkan.
Pompa tenaga surya membuka peluang menuju pertanian yang lebih produktif dan rendah karbon, tetapi pemerataan distribusi serta pengelolaan yang berkelanjutan akan menentukan seberapa besar manfaatnya bagi masyarakat Samosir.



