Kabar-Tani.com | – BANDUNG BARAT — Di tengah dinginnya udara pegunungan Desa Suntenjaya, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, kotoran sapi yang selama ini menjadi persoalan lingkungan kini menjelma menjadi sumber energi dan pendapatan warga.
Melalui program Nyaah ka Parahyangan, limbah peternakan diolah menjadi biogas dan pupuk organik untuk mendukung ekonomi masyarakat sekaligus menjaga kelestarian Sungai Cikapundung.
Desa Suntenjaya yang berada di kawasan hulu Sungai Cikapundung memiliki aktivitas peternakan sapi perah yang menjadi tumpuan hidup sebagian masyarakat.
Namun, di balik produktivitas peternakan tersebut, terdapat persoalan limbah yang berpotensi mencemari aliran sungai apabila tidak dikelola dengan baik.
Keterbatasan sarana pengolahan membuat kotoran ternak menjadi tantangan tersendiri bagi para peternak.
Kondisi ini mendorong Atep Suhendar, Ketua Karang Taruna Motekar Kampung Sukaluyu, mencari solusi yang tidak hanya berorientasi pada lingkungan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga.
Sejak 2022, Atep bersama kelompoknya mengembangkan pengolahan kotoran sapi menjadi biogas dan pupuk organik.
Inisiatif tersebut menjadi bagian dari program Nyaah ka Parahyangan yang didukung Pertamina AFT Husein Sastranegara melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan.
Biogas Mengurangi Pengeluaran Rumah Tangga
Melalui subprogram Nyaah ka Cai, kotoran sapi dari kandang peternak dikumpulkan untuk diolah menggunakan instalasi biodigester.
Terdapat dua unit biodigester dengan kapasitas masing-masing 10 meter kubik dan 4 meter kubik.
Menurut Atep, kedua instalasi tersebut mampu mengolah sekitar 600 kilogram kotoran sapi.
Gas yang dihasilkan kemudian disalurkan untuk memenuhi kebutuhan energi enam rumah tangga di sekitar lokasi.
Pemanfaatan biogas memberikan dampak langsung terhadap pengeluaran rumah tangga.
Konsumsi LPG yang sebelumnya mencapai dua hingga tiga tabung per bulan kini berkurang menjadi sekitar satu tabung, bahkan terkadang masih tersisa.
Penghematan tersebut menjadi salah satu manfaat ekonomi yang dirasakan warga.
Pada saat bersamaan, pengolahan limbah membantu mengurangi risiko pencemaran lingkungan di kawasan hulu Sungai Cikapundung.
“Biogas bukan hanya menjadi sumber energi alternatif, tetapi juga membantu masyarakat menghemat pengeluaran sehari-hari,” ujar Atep dalam penjelasannya mengenai program tersebut.
Limbah Peternakan Diolah Menjadi Pupuk Bernilai Ekonomi
Pengolahan kotoran sapi di Suntenjaya tidak berhenti pada produksi biogas.
Sisa material organik juga dimanfaatkan untuk membuat pupuk kandang dan vermikompos dengan kapasitas pengolahan sekitar 150 kilogram kotoran sapi per hari.
Pupuk organik tersebut telah melalui pengujian laboratorium Universitas Padjadjaran dan digunakan untuk mendukung budidaya berbagai komoditas pertanian, mulai dari bayam Jepang, selada romaine, hingga kopi.
Pupuk tersebut juga dimanfaatkan dalam upaya penanaman dan konservasi pohon saninten.
Pada lahan uji coba, sekitar 100 tanaman selada romaine mampu menghasilkan panen 15 kilogram.
Dengan pengembangan budidaya yang lebih optimal, hasilnya diperkirakan berpotensi mencapai 50 kilogram.
Jika 30 kilogram hasil panen dapat dipasarkan dengan harga Rp15.000 per kilogram, pendapatan kotor yang diperoleh mencapai Rp450.000 sekali panen.
Dengan asumsi penjualan berlangsung setiap bulan, potensi omzetnya mencapai Rp5,4 juta per tahun.
Perhitungan tersebut masih berupa potensi omzet, bukan keuntungan bersih, karena belum memperhitungkan biaya produksi dan pemasaran.
Meski demikian, pemanfaatan pupuk dari limbah ternak membuka peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan pertanian yang lebih produktif sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dari luar.
Perempuan Suntenjaya Mengembangkan Usaha Olahan Susu
Manfaat program Nyaah ka Parahyangan juga dirasakan kelompok perempuan di Desa Suntenjaya.
Sumiati bersama 16 perempuan lainnya mengembangkan usaha pengolahan susu segar menjadi berbagai produk pangan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.
Jika sebelumnya kegiatan sehari-hari mereka lebih banyak diisi pekerjaan rumah tangga, membantu suami di kebun atau kandang, dan mengantar anak ke sekolah, kini pengolahan susu menjadi kegiatan produktif yang turut menopang pendapatan keluarga.
Produk yang dihasilkan antara lain permen susu, cheese stick, dan cireng susu.
Produksi dilakukan berdasarkan pesanan atau sistem pre-order untuk menyesuaikan jumlah barang dengan permintaan pasar.
Kelompok tersebut menargetkan penjualan 100 toples cheese stick setiap bulan dengan harga Rp25.000 per toples.
Jika target penjualan tercapai, omzet dari produk tersebut berpotensi mencapai Rp2,5 juta per bulan.
Aktivitas produksi juga terbantu oleh penggunaan biogas sebagai bahan bakar utama.
LPG tetap disediakan sebagai sumber energi cadangan apabila pasokan biogas tidak mencukupi.
Pola ini memperlihatkan keterkaitan antara pengelolaan limbah, penyediaan energi alternatif, dan pengembangan usaha mikro.
Limbah peternakan tidak hanya mengurangi beban lingkungan, tetapi juga membantu mendukung kegiatan ekonomi masyarakat.
Dukungan Pertamina Perkuat Ekonomi Sirkular
Area Manager Communications, Relations & CSR Regional Jawa Bagian Barat PT Pertamina Patra Niaga, Reno Fri Daryanto, menjelaskan bahwa Nyaah ka Parahyangan dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan limbah, energi terbarukan, pemberdayaan usaha mikro, sektor pertanian, dan konservasi lingkungan.
Melalui subprogram Nyaah ka Cai, peternak mitra menyetorkan kotoran sapi sebagai bahan baku biogas.
Program tersebut juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian kelompok masyarakat, menumbuhkan regenerasi penggerak lokal, serta meningkatkan kemampuan warga dalam mengoperasikan dan merawat fasilitas bantuan.
Pertamina turut mendukung penyediaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 6,6 kilowatt-peak (kWp) yang dilengkapi baterai penyimpanan berkapasitas 10 kilowatt-hour (kWh).
Fasilitas tersebut digunakan untuk mendukung operasional unit produksi pupuk organik, pusat pembelajaran, dan kegiatan usaha mikro, kecil, dan menengah.
Berdasarkan catatan Pertamina, unit produksi pupuk organik Motekar melibatkan 23 orang, kelompok UMKM olahan susu melibatkan 16 orang, sedangkan Koperasi Buana Walatra Sejahtera melibatkan 24 orang.
Dari sejumlah kegiatan usaha yang berkembang, omzet bulanan UMKM olahan susu tercatat sekitar Rp3 juta hingga Rp4 juta.
Usaha pengolahan kopi menghasilkan omzet Rp5 juta hingga Rp10 juta per bulan, sedangkan sektor pupuk dan kebun organik mencatat omzet sekitar Rp3,5 juta per bulan.
Selain mengembangkan kegiatan ekonomi, program tersebut turut mendukung konservasi pohon saninten (Castanopsis argentea) melalui penanaman dan pemeliharaan tanaman lokal.
Pusat pembelajaran yang dibangun dalam program ini juga telah menerima lebih dari 420 pengunjung dari kalangan pelajar, akademisi, komunitas, dan pelaku industri.
Reno menilai, keberlanjutan program tidak cukup hanya mengandalkan bantuan sarana.
Kemandirian masyarakat dalam menjalankan usaha, merawat fasilitas, dan menjaga kesinambungan kegiatan menjadi faktor penting agar manfaat program dapat bertahan dalam jangka panjang.
Kualitas Air Cikapundung Menunjukkan Perbaikan
Pengelolaan limbah peternakan di kawasan hulu menjadi bagian penting dari upaya menjaga kualitas air Sungai Cikapundung.
Sungai yang mengalir menuju kawasan perkotaan tersebut menghadapi berbagai tekanan lingkungan, sehingga pengendalian pencemaran perlu dilakukan secara konsisten dari hulu hingga hilir.
Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung menunjukkan, Indeks Pencemaran Sungai Cikapundung berada pada angka 5,17 pada 2016 dan 4,98 pada 2021.
Kedua angka tersebut masuk dalam kategori cemar sedang.
Perbaikan mulai terlihat pada periode berikutnya.
Sejak 2022, status pencemaran sungai tercatat berada dalam kategori cemar ringan.
Indeks Pencemaran kemudian turun dari 4,46 pada 2024 menjadi 1,96 pada 2025.
Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup DLH Kota Bandung, Fiziarita, mengatakan kualitas air Sungai Cikapundung secara umum menunjukkan perbaikan dibandingkan kondisi pada 2016 dan 2021.
Meski begitu, ia mengingatkan bahwa penurunan indeks pencemaran tidak berarti persoalan lingkungan telah sepenuhnya selesai.
Pengendalian pencemaran tetap diperlukan agar kualitas air dapat dipertahankan, baik di kawasan hulu maupun hilir.
Ketua Dewan Daerah WALHI Jawa Barat, Dedi Kurniawan, juga menekankan pentingnya pengolahan kotoran sapi di kawasan hulu Cikapundung.
Menurut dia, pengelolaan limbah ternak merupakan salah satu langkah penting untuk melindungi ekosistem sungai.
Ia menilai, keberlanjutan upaya tersebut perlu ditopang pendampingan masyarakat, ketersediaan fasilitas yang memadai, dan edukasi lingkungan secara konsisten.
Menjaga Lingkungan Sekaligus Menggerakkan Ekonomi Desa
Program Nyaah ka Parahyangan di Suntenjaya memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan dapat diubah menjadi peluang ekonomi melalui pengelolaan sumber daya yang tepat.
Kotoran sapi yang sebelumnya berisiko mencemari sungai kini dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas dan pupuk organik, sedangkan susu segar dikembangkan menjadi produk pangan bernilai tambah.
Manfaatnya tidak hanya terlihat dari penghematan energi rumah tangga dan terbukanya peluang usaha bagi perempuan, tetapi juga dari keterlibatan masyarakat dalam pertanian, konservasi, dan kegiatan ekonomi lokal.
Meski dampak program terhadap perubahan kualitas air Sungai Cikapundung perlu dinilai melalui pemantauan lingkungan yang berkelanjutan, pengolahan limbah peternakan di kawasan hulu merupakan langkah konkret untuk mengurangi salah satu sumber risiko pencemaran.
Dari Suntenjaya, ekonomi sirkular bukan sekadar konsep.
Melalui kerja bersama masyarakat, dukungan fasilitas, dan penguatan kapasitas lokal, limbah peternakan dapat menjadi sumber energi, pupuk, dan pendapatan.
Upaya tersebut sekaligus menegaskan bahwa menjaga sungai tidak cukup dilakukan di hilir, tetapi harus dimulai dari sumber persoalannya di hulu.



